KEDIRI KOTA– Meski telah menahan sembilan tersangka, polisi masih terus mengembangkan kasus tewasnya Imam Subekti alias Reggae, 25, warga Dusun Jegles, Tarokan. Pasalnya, masih ada dua pelaku yang terlibat belum tertangkap.
Hingga kemarin, keduanya dalam pengejaran. Satreskrim Polsek Kediri Kota telah memasukkan dua pelaku yang terlibat pengeroyokan Imam dalam daftar pencarian orang (DPO). Mereka kini menjadi buronan polisi.
“Ya, kami masih terus lakukan pencarian dua tersangka lainnya,” terang Kanitreskrim Polsek Kediri Kota Iptu Widodo.
Informasi yang diterima Jawa Pos Radar Kediri menyebut, dua anak punk yang menjadi pengeroyok Imam yang juga anak punk itu adalah RSA, 18, dan GHN, 17. Keduanya warga Kecamatan Kota, Kota Kediri. Kabarnya, mereka sudah melarikan diri keluar Kota Kediri. Sehingga keberadaannya sulit terlacak di Kota Tahu.
Bahkan ada informasi yang menyatakan, salah satu DPO itu kabur ke luar Jawa. Kendati begitu, Widodo menegaskan, pihaknya akan menuntaskan kasus pengeroyokan dalam komunitas anak punk ini sampai tuntas. Semua yang terlibat harus mempertanggungjawabkan perbuatannya. ”Memang sudah ada (sembilan tersangka) yang ditahan, walau begitu penyelidikan kasus ini masih terus kami kembangkan,” ujarnya.
Lantas sejauh mana peran RSA dan GHN? Widodo mengungkapkan, hampir sama dengan peran Monzha Satria Wahyu Kresna, 21, warga Jl Ahmad Yani, Desa Sukorejo, Kecamatan Ngasem. Monzha disebut-sebut sebagai otak pelaku pengeroyokan yang mengakibatkan Imam alias Reggae tewas. Dia yang merencanakan ‘memberi pelajaran’ pada Imam.
Hanya saja, bedanya RSA dan GHN tidak merencanakan pengeroyokan tersebut dari awal. Meski begitu, kedua buronan itu turut menghajar. Mereka juga ikut membuang jenazah Imam ke hutan Pandantoyo, Ngancar di lereng Gunung Kelud.
Polisi menengarai ada 11 anak punk yang terlibat pengeroyokan ini. Setelah mengeroyok Imam yang sebenarnya anggota komunitas mereka sendiri, kesebelas pelaku tersebut sempat kebingungan. Ini karena Imam yang ‘diberi pelajaran’ di bangunan kosong utara Pasar Grosir, Kelurahan Ngronggo, Kecamatan Kota Kediri, Kamis (24/8), sudah lemas. Bahkan tak pemuda yang sempat ditelanjangi itu bernapas lagi.
Imam tak bergerak ketika dipakaikan pakaian. Bingung bercampur takut, empat dari sebelas pelaku justru mengarah ke hutan Ngancar untuk meletakkan tubuh Imam.
Keempat pelaku tersebut membawa jasad Imam dengan mengendarai dua sepeda motor. Mereka menuju Ngancar pada sekitar pukul 03.30 WIB. Salah satu pelaku, Monzha mengatakan, saat itu RSA yang mengendarai (menyetir) sepeda motor Honda Beat.
“Dia (RSA) mbonceng Reggae, terus dipegangi ep*n (FAF),” bebernya. Sedangkan Monzha sendiri mengendarai sepeda motor Honda Revo. Dia membonceng GHN.
Sesampainya di hutan di daerah Ngancar, medan tak bisa dilalui kendaraan karena harus menanjak naik ke atas. Terkait hal ini, Monzha mengungkapkan, jika mereka bersama-sama membopong Imam dari bawah ke atas, hingga ke tengah, ke daerah yang jarang dijamah orang. Terkait pemilihan lokasi, Monzha mengaku, hanya asal pilih.
Tak berhenti sampai di sana, pelaku masih berusaha menyembunyikan jasad Imam dengan cara menutupinya dengan jaket dan dedaunan. “Tapi saya nggak tahu siapa, saya langsung kembali karena takut,” akunya. Saking takutnya, dua hari kemudian Monzha dengan inisiatif sendiri mengecek tubuh Imam yang ternyata tak berpindah tempat.
Karena perbuatannya, kesembilan pelaku yang sudah tertangkap harus mendekam di sel Mapolresta Kediri. Tujuh pelaku diancam dengan pasal 170 ayat (2) ke 3e KUHP subsider pasal 351 ayat (3) KUHP jo pasal 55 ayat (1) KUHP.
Sedangkan dua pelaku lainnya, yakni FAF dan Monzha, ditambah dengan pasal 181 KUHP karena dianggap telah menyembunyikan, mengangkut mayat untuk menghilangkan jejak. Ancaman hukumannya hingga 12 tahun penjara.
Editor : adi nugroho