Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Siulan Mistis dari Lereng Gunung Wilis

Nakula Agi Sada • Senin, 15 Juni 2026 | 10:16 WIB
Burung Cucak Wilis
Burung Cucak Wilis

Bagi Anda yang sering menghabiskan waktu di daerah pegunungan yang asri atau gemar mendengarkan riuh rendah suara alam, sosok burung yang satu ini mungkin sudah tidak asing lagi. Cucak Wilis, atau Rengganis memiliki nama ilmiah *Pycnonotus bimaculatus*, adalah salah satu kekayaan fauna Indonesia yang punya tempat tersendiri di hati para pencinta burung.

Menyaksikan burung ini melompat lincah di antara ranting pohon sambil sesekali memperdengarkan suara siulannya yang khas adalah sebuah kemewahan tersendiri. Pemandangan yang bisa menenangkan pikiran.

Penampilan fisik burung ini memang sangat ikonik dan mudah dikenali. Ciri paling mencolok yang langsung mencuri perhatian adalah dua bercak berwarna jingga atau kuning terang yang bertengger manis di atas pangkal paruhnya.

Mirip seperti alis yang sedang menyala. Dalam dunia internasional, keelokan warna inilah yang membuatnya mendapatkan julukan mentereng sebagai orange-spotted Bulbul.

Baca Juga: Asian Fairy-bluebird, Bukan Cucak Biru dan Juga Bukan Keluarga

Kombinasi warna jidat yang cerah dengan tubuh yang didominasi warna cokelat zaitun membuatnya tampak elegan sekaligus bersahaja.

Habitat asli Cucak Wilis sejatinya berada di kawasan dataran tinggi, hutan pegunungan, hingga area perladangan yang berbatasan dengan hutan lebat. Di Indonesia sendiri, wilayah persebaran utamanya meliputi pulau Sumatera, Jawa, dan Bali.

Karena terbiasa hidup di lingkungan yang berudara sejuk dan cenderung dingin, burung ini memiliki ketahanan fisik yang prima. Serta karakter yang sangat aktif bergerak demi menjaga suhu tubuhnya tetap stabil di alam liar.

Satu hal yang membuat Cucak Wilis begitu dicintai oleh para penghobi burung kicauan adalah karakter suaranya. Berbeda dengan beberapa jenis burung petarung yang mengandalkan tembakan suara melengking tajam, Cucak Wilis justru terkenal dengan alunan siulan yang cenderung melodis, jernih, dan berirama cepat.

Karakter kicauannya yang mengalir dinamis ini sering kali dimanfaatkan oleh para kicaumania sebagai suara masteran yang sangat efektif. Bertujuan untuk melatih mental dan variasi lagu burung gacoan lainnya.

Merawat Cucak Wilis agar tetap sehat dan rajin berbunyi sebenarnya tidaklah terlalu rumit. Asalkan kita memahami betul apa yang menjadi kebutuhan dasarnya.

Kunci utama terletak pada konsistensi pemberian pakan harian yang bernutrisi seimbang. Di alam bebas, mereka adalah pemakan segala alias omnivora.

Burung ini  sangat menyukai buah-buahan segar serta serangga kecil. Meniru pola makan alami ini di dalam sangkar perawatan adalah langkah awal terbaik yang bisa Anda lakukan.

Untuk menu buah-buahan, Anda bisa memberikan variasi berupa pepaya matang, pisang kepok, atau sesekali buah apel. Buah pepaya sangat baik untuk menjaga kelancaran sistem pencernaan mereka, sementara pisang kepok memberikan asupan energi yang cukup agar si burung tetap aktif bergerak sepanjang hari.

Baca Juga: Cucak Keling, Si Hitam Kinclong Suka Gacor!

Pastikan buah yang disajikan selalu dalam kondisi segar. Selain itu sisa buah hari sebelumnya segera dibuang agar tidak mengundang bakteri atau jamur yang bisa membahayakan kesehatan burung.

Selain buah, asupan protein dari extra fooding (EF) seperti jangkrik, ulat bumbung, atau kroto juga memegang peranan yang sangat vital. Pemberian jangkrik berukuran kecil sebanyak 2 hingga 3 ekor pada pagi dan sore hari biasanya sudah cukup untuk mendongkrag stamina dan merangsang birahinya agar lebih rajin berkicau.

Kroto segar juga bisa diberikan seminggu dua kali sebagai hidangan pencuci mulut yang kaya akan nutrisi. Gunanya untuk menjaga bulunya tetap berkilau indah.

Faktor kebersihan sangkar dan perawatan fisik juga tidak boleh luput dari perhatian Anda sehari-hari. Cucak Wilis sangat suka mandi, oleh karena itu menyediakan wadah air yang agak besar di dalam sangkar atau memindahkannya ke keramba mandi khusus setiap pagi adalah ritual yang sangat dianjurkan.

Setelah mandi, proses penjemuran di bawah sinar matahari pagi selama satu hingga dua jam. Hal ini akan membantu membunuh parasit yang menempel pada bulu sekaligus menguatkan tulang-tulangnya.

Satu tips penting yang sering dilupakan oleh para pemilik pemula adalah menjaga suhu lingkungan di sekitar sangkar. Mengingat asal-usulnya yang menggemari hawa sejuk pegunungan, menempatkan sangkar Cucak Wilis di area yang terlalu panas atau terkena terik matahari siang secara langsung bisa membuatnya stres dan enggan berbunyi.

Gantunglah sangkar di tempat yang teduh, memiliki sirkulasi udara yang lancar. Atau di bawah rindangnya pepohonan halaman rumah.

Bagi Anda yang berniat memeliharanya sebagai burung rumahan atau kelangenan, proses penjinakan juga perlu dilakukan dengan penuh kesabaran. Burung yang baru didapat dari alam biasanya cenderung giras dan kerap menabrak jeruji sangkar saat didekati manusia.

Baca Juga: Habitat Alami Cucak Kopi, Pahami Sebelum Memelihara 

Anda bisa mengatasinya dengan sering menempatkan sangkar di area yang sering dilalui orang. Atau sesekali memberikan jangkrik langsung menggunakan tangan agar si burung mulai mengenali dan merasa aman dengan keberadaan pemiliknya.

Memang, saat ini popularitasnya mungkin tidak se-meledak burung kicauan modern lainnya. Namun pesona Cucak Wilis sebagai "siulan mistis dari lereng gunung" tetap memiliki tempat yang abadi.

Merawat burung ini bukan sekadar tentang mendengarkan suaranya yang merdu, melainkan juga tentang bagaimana kita menghargai dan melestarikan salah satu keindahan alam nusantara di pekarangan rumah kita sendiri. Suara alam yang dihadirkannya selalu sukses membawa kedamaian di tengah kepenatan aktivitas sehari-hari. (*)

Editor : Mahfud
#cucakwilis #rengganis #burung