JP Radar Kediri- Nama "Emprit Kaji" berasal dari dua kata dalam bahasa Jawa, yaitu emprit yang berarti burung pipit atau bondol, dan kaji yang berarti haji. Sebutan ini bukan tanpa alasan, karena ada kemiripan visual yang sangat mencolok antara burung ini dengan penampilan seseorang yang baru pulang dari tanah suci.
Ciri khas utama yang membuatnya dipanggil "Kaji" adalah bulu di bagian kepalanya yang berwarna putih bersih. Warna putih ini hanya menutupi area kepala hingga leher, sementara bagian tubuh lainnya berwarna cokelat kemerahan atau cokelat tua.
Bagi masyarakat tradisional, kombinasi kepala putih dan tubuh cokelat ini terlihat sangat mirip dengan sosok pria yang mengenakan peci atau kopiah putih (sering disebut peci haji). Di masa lalu, warna putih di kepala adalah simbol status bagi mereka yang telah menunaikan ibadah haji.
Inilah kecerdasan masyarakat lokal dalam memberikan nama; mereka menggunakan asosiasi visual yang paling dekat dengan kehidupan sehari-hari. Burung yang kepalanya terlihat seperti memakai peci putih ini pun secara otomatis dijuluki sebagai "Emprit Kaji" atau Pipit Haji.
Selain dari segi penampilan, emprit kaji juga memiliki karakter yang sangat sosial. Mereka jarang terlihat sendirian dan lebih suka terbang dalam kelompok besar, terutama saat sedang mencari makan di area persawahan yang luas.
Habitat asli mereka memang tak jauh dari kehidupan manusia, yaitu di padang rumput, rawa-rawa, dan tentu saja sawah. Bagi para petani, kehadiran emprit kaji adalah pemandangan yang sangat akrab, meski terkadang dianggap sebagai tantangan tersendiri.
Baca Juga: Bikin Iri! Rahasia Rambut 'Blonde' Woodpecker yang Selalu On-Point,Baca Juga: Kroto, Superfood Favorit Burung Kicau, tapi Ada Aturannya Ternyata Bukan Hasil Perawatan Salon
Burung ini adalah pemakan biji-bijian sejati. Mereka sangat menyukai bulir padi yang masih muda atau biji rumput. Dengan paruhnya yang kecil namun kuat, mereka bisa dengan cepat mengupas kulit biji untuk mengambil isinya yang bergizi.
Meskipun ukurannya kecil, emprit kaji sebenarnya adalah burung yang sangat tangguh. Mereka bisa ditemukan di hampir seluruh wilayah Indonesia, mulai dari Jawa, Bali, hingga Sumatra, dan bahkan tersebar hingga ke semenanjung Malaya.
Satu hal yang menarik adalah suara kicauannya. Emprit kaji tidak memiliki suara yang nyaring atau melengking seperti burung kicau pada umumnya. Suaranya cenderung halus, berupa cicitan pendek yang terdengar seperti "pit.. pit.." saat mereka berkomunikasi dengan kawanannya.
Baca Juga: Kroto, Superfood Favorit Burung Kicau, tapi Ada Aturannya
Dalam hal perkembangbiakan, emprit kaji adalah orang tua yang cukup rajin. Mereka membangun sarang berbentuk bulat seperti bola dari anyaman rumput kering di sela-sela pohon atau semak yang cukup tersembunyi dari predator.
Di dunia hobi burung, emprit kaji kini mulai naik kelas. Jika dulu hanya dianggap sebagai burung sawah biasa, kini banyak penghobi yang memeliharanya sebagai burung hias karena kombinasi warnanya yang minimalis namun terlihat sangat eksklusif.
Bahkan, di luar negeri, burung ini dikenal dengan nama White-headed Munia. Nama internasionalnya pun tetap merujuk pada keunikan kepalanya yang putih, meskipun tidak menggunakan istilah religius seperti di Indonesia.
Baca Juga: Mix Jangkrik + Kroto, Kombinasi Rahasia Biar Burung Makin Gacor
Fenomena penamaan "Kaji" ini juga menunjukkan betapa dekatnya hubungan antara budaya masyarakat dengan alam sekitarnya. Flora dan fauna seringkali diberi nama berdasarkan apa yang dilihat dan dirasakan oleh orang-orang yang berinteraksi dengannya setiap hari.
Emprit kaji juga sering menjadi simbol kesederhanaan. Ia tidak memiliki warna yang mencolok seperti burung pelangi, namun warna putih bersih di kepalanya memberikan kesan tenang dan "berwibawa" di antara jenis pipit lainnya.
Sayangnya, populasi emprit kaji di alam liar seringkali terancam karena perburuan massal untuk diperjualbelikan atau karena penggunaan pestisida yang berlebihan di area persawahan yang menjadi sumber makanan utama mereka.
Baca Juga: Bukan Emprit atau Kenari, Iniah Indigo Village yang Sudah Muncul di Kios Burung Nganjuk
Melindungi emprit kaji berarti juga menjaga keseimbangan ekosistem sawah kita. Mereka adalah bagian dari rantai makanan yang penting dan menjadi penanda alami bagi kesehatan lingkungan di pedesaan.
Jadi, setiap kali Anda melihat burung kecil berkepala putih terbang di antara rumpun padi, Anda tahu bahwa itu adalah si "Pak Haji" dari dunia burung yang sedang sibuk mencari nafkah di bawah terik matahari.
Untuk mendapatkan berita- berita terkini Jawa Pos Radar Kediri , silakan bergabung di saluran WhatsApp " Radar Kediri ". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel
Editor : rekian