Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Kepulangan Sang Pelangi, Kisah Atat Bali yang Kembali dari Ambang Kepunahan

Nakula Agi Sada • Selasa, 19 Agustus 2025 | 17:35 WIB

 

 

Burung Atat Bali
Burung Atat Bali

Dulu, nama Atat Bali atau Mitchell’s Lorikeet mungkin hanya terdengar sebagai cerita nostalgia dari para tetua di Bali dan Nusa Penida. Burung nuri kecil dengan balutan warna merah, hijau, kuning, dan hitam ini sempat dianggap punah di habitat aslinya. Suaranya yang nyaring dan warna bulunya yang mencolok membuatnya jadi primadona, tapi juga membuatnya rentan diburu.

Kabar baiknya, perjalanan panjang konservasi akhirnya membalikkan cerita kelam itu. Atat Bali berhasil diselamatkan dan dilestarikan di Paradise Park, Inggris. Di sana, mereka mendapat perawatan intensif, program pembiakan, dan habitat buatan yang aman dari ancaman. Misi ini bukan pekerjaan semalam — butuh bertahun-tahun hingga populasi mereka cukup stabil untuk dipulangkan.

Pemulangan ini dilakukan oleh Bali Bird Park bekerja sama dengan BKSDA Bali. Prosesnya penuh persiapan, mulai dari pengecekan kesehatan, dokumen resmi, hingga pengaturan transportasi khusus yang aman untuk burung. Semua dilakukan agar Atat Bali bisa pulang dengan selamat dan tanpa stres berlebihan.

Saat ini, Atat Bali tengah menjalani masa karantina. Karantina ini bertujuan untuk memastikan mereka bebas dari penyakit dan siap beradaptasi lagi dengan cuaca tropis. Meski terlihat sederhana, tahap ini sangat krusial untuk menjaga keberhasilan konservasi jangka panjang.

Setelah karantina, Atat Bali akan memasuki tahap pembiakan di pusat pelestarian. Harapannya, anak-anak Atat Bali yang lahir nantinya akan dilepasliarkan secara bertahap ke habitat asli mereka. Program ini membutuhkan pengawasan ketat, termasuk pemantauan di lapangan untuk memastikan mereka bisa bertahan hidup di alam.

Bagi masyarakat Bali, kehadiran kembali Atat Bali bukan hanya sekadar soal satwa langka. Ini adalah simbol harapan, pengingat bahwa alam bisa pulih jika kita mau berusaha. Warna-warni bulu mereka seakan membawa pesan ceria bahwa keindahan alam patut dijaga bersama.

Bali Bird Park dan BKSDA Bali berkomitmen untuk terus mendampingi proses ini. Kolaborasi lintas negara dan lembaga menjadi bukti bahwa upaya konservasi tidak mengenal batas wilayah. Semua pihak, dari pengelola taman burung di Inggris hingga petugas lapangan di Bali, punya peran penting.

Tidak sedikit tantangan yang akan dihadapi. Ancaman perburuan liar, hilangnya habitat karena pembangunan, hingga perubahan iklim menjadi pekerjaan rumah besar. Oleh karena itu, program ini tidak hanya berfokus pada pelepasliaran, tapi juga edukasi masyarakat tentang pentingnya menjaga satwa dilindungi.

Bayangkan suatu hari nanti, langit Nusa Penida, Bali, hingga Lombok kembali dipenuhi kicauan Atat Bali yang beterbangan bebas. Itu bukan lagi sekadar mimpi, tapi target nyata yang bisa tercapai jika konservasi berjalan konsisten.

Bagi wisatawan, kesempatan melihat Atat Bali di alam liar akan menjadi pengalaman langka. Namun, lebih dari sekadar daya tarik wisata, keberadaan mereka akan menjadi bukti bahwa konservasi bisa sukses jika semua pihak terlibat.

Kesuksesan ini juga memberi inspirasi bagi pelestarian spesies lain di Indonesia. Dari burung jalak bali hingga orangutan, banyak satwa yang nasibnya masih bergantung pada usaha bersama.

Mitchell’s Lorikeet sendiri memiliki karakter ceria, aktif, dan suka berinteraksi. Sifat ini membuat mereka mudah dicintai, tapi juga menjadi alasan kenapa mereka rawan diburu untuk diperdagangkan. Mengembalikan mereka ke alam artinya juga mengembalikan keseimbangan ekosistem, karena mereka berperan penting dalam penyerbukan tanaman.

Kisah ini mengajarkan bahwa meski sebuah spesies sudah dianggap hilang, harapan tidak pernah benar-benar padam. Dengan kerja keras, kesabaran, dan kerja sama global, kehidupan bisa dipulihkan.

Masyarakat di sekitar habitat juga mulai diajak untuk terlibat langsung. Dari menjaga pohon-pohon pakan hingga melapor jika ada aktivitas perburuan, langkah-langkah kecil ini punya dampak besar.

Kini, kita hanya tinggal menunggu waktu hingga Atat Bali kembali menghiasi alam bebas. Kepulangan mereka adalah hadiah berharga, tidak hanya bagi pecinta burung, tetapi juga bagi seluruh pejuang konservasi.

Satu hal yang pasti: warna-warni Atat Bali akan selalu mengingatkan kita bahwa alam punya cara sendiri untuk bangkit, asalkan kita mau memberi kesempatan.

Editor : Mahfud
#punah #konservasi #Nuri