Di malam yang sunyi, saat embun belum turun dan langit terasa lebih pekat dari biasanya, terdengarlah suara lirih seperti rintihan panjang. “Tiiiiiiiiiiiik… tik… tik…” Suara itu datang dari jauh, seperti memanggil, seperti mengingatkan. Bagi masyarakat Jawa, terutama yang memegang kuat tradisi leluhur, itu adalah suara burung kedasih—burung yang sering disebut-sebut sebagai penanda kehadiran hal-hal tak kasat mata. Apalagi kalau suara itu muncul di malam 1 Suro. Wah, lengkap sudah nuansa mistisnya.
Apa Itu Burung Kedasih?
Burung kedasih bukan nama ilmiah, melainkan sebutan lokal untuk burung yang dikenal dengan suara sendu dan nyaring. Ada yang menyamakannya dengan burung bubut (Centropus sinensis), burung dengan warna gelap dan ekor panjang, tapi suaranya itulah yang paling diingat orang. Konon, suaranya seperti suara orang menangis pelan, mengalun di sela keheningan malam.
Baca Juga: Burung Beomu Belum Mau Ngomong? Coba 17 Trik Ampuh Ini, Dijamin Cepat Bisa Niru Kata-Kata Kamu!
1 Suro, Bulan Keramat dalam Tradisi Jawa
Bagi masyarakat Jawa, bulan Suro (Muharram) adalah bulan yang dianggap suci, penuh pantangan, dan sarat makna spiritual. Di tanggal 1 Sura, banyak orang melakukan ritual seperti tirakat, kungkum (berendam di air malam), atau sekadar menyepi dalam doa. Bukan bulan untuk pesta, tapi bulan untuk merenung.
Burung Kedasih dan Malam Suro
Nah, di sinilah burung kedasih sering kali dikaitkan. Ketika suaranya terdengar pada malam 1 Suro, banyak orang percaya itu bukan kebetulan. Ada yang bilang itu pertanda bahwa "dunia gaib" sedang aktif. Ada juga yang menganggapnya sebagai simbol bahwa kita sedang diajak mengingat hal-hal yang tak terlihat.
Pertanda atau Hanya Suara Alam?
Di satu sisi, mungkin saja itu hanya burung biasa yang kebetulan aktif malam hari. Tapi di sisi lain, suara Kedasih yang tiba-tiba muncul di malam keramat bisa bikin merinding. Apalagi kalau suasananya mendukung—hening, berkabut, dan gelap. Aura mistis itu tak terbantahkan.
Simbol Kesedihan dan Kepergian
Burung kedasih sering juga dikaitkan dengan pertanda kehilangan. Ada yang percaya jika suara burung ini terdengar dekat rumah, akan ada seseorang yang meninggal. Mitos ini berkembang dari zaman dulu, diwariskan dari mulut ke mulut, dan sampai sekarang masih dipercaya oleh sebagian orang tua di desa.
Malam yang Tak Biasa
Malam 1 Suro memang punya nuansa beda. Banyak tempat yang biasanya ramai, tiba-tiba sunyi. Bahkan di beberapa desa, lampu jalan sengaja dipadamkan, dan orang-orang memilih tinggal di rumah. Suara burung di malam seperti ini terasa lebih nyaring dan menghantui.
Suara yang Membawa Memori
Beberapa orang mengaku saat mendengar suara kedasih, mereka seperti diselimuti kenangan atau perasaan yang tidak biasa. Seolah ada yang sedang mengingatkan. Bisa tentang orang yang telah tiada, atau tentang hidup yang harus dijalani lebih pelan dan tenang.
Antara Mitos dan Realita
Secara ilmiah, suara burung seperti kedasih mungkin hanya panggilan kawin atau penanda wilayah. Tapi mitos dan budaya tidak bisa dihapus begitu saja. Mereka hidup berdampingan. Suara itu bukan sekadar frekuensi, tapi juga pesan batin bagi mereka yang mempercayainya.
Burung Lain di Malam 1 Sura
Selain kedasih, burung hantu juga sering dikaitkan dengan malam Suro. Suara “huk… huk…” yang menggaung kadang memunculkan rasa takut dan penasaran. Sama seperti kedasih, burung hantu dianggap sebagai penjaga malam, bahkan kadang disebut sebagai pengantar arwah.
Menjadi Bagian dari Tradisi
Meski terdengar menyeramkan, burung kedasih punya tempat dalam budaya Jawa. Ia bukan hanya pembawa takut, tapi juga pengingat. Pengingat bahwa hidup tidak hanya tentang yang kasat mata, tapi juga tentang yang tak terlihat—baik kenangan, harapan, maupun rasa takut.
Ritual dan Pantangan
Di malam 1 Sura, beberapa orang memilih berdiam di rumah, tidak bepergian, bahkan tidak mandi malam. Mereka menjaga diri. Dan suara burung kedasih kadang dianggap sebagai isyarat: “jangan keluar malam ini.”
Keheningan yang Sakral
Bukan hanya burungnya yang misterius, tapi juga suasana malam itu. 1 Suro seperti punya keheningan tersendiri. Suasana di mana waktu berjalan lambat, dan setiap suara—termasuk burung kedasih—terasa lebih dalam.
Burung yang Tak Terlihat Wujudnya
Lucunya, walau sering terdengar suaranya, burung kedasih jarang terlihat wujudnya. Ini makin memperkuat aura mistisnya. Banyak orang mengaku belum pernah melihat burung ini secara langsung, tapi suaranya selalu mereka kenali.
Makna Filosofis
Kalau dilihat dari sisi filsafat Jawa, suara burung kedasih bisa dimaknai sebagai pengingat akan kefanaan hidup. Bahwa semua yang hidup pasti akan pergi. Dan bulan Sura adalah waktu terbaik untuk merenungi hal itu.
Saat Alam Ikut Berbicara
Burung, angin, gemerisik pohon, dan bahkan diamnya malam—semua seperti berbicara di malam Sura. Mereka seolah ingin menyampaikan bahwa hidup ini luas, dan manusia hanyalah sebagian kecil dari misteri alam semesta.
Tradisi yang Perlu Dijaga
Meskipun zaman semakin maju, menjaga tradisi seperti ini bisa jadi cara kita tetap terhubung dengan akar budaya. Bukan untuk takut, tapi untuk menghargai alam dan waktu, termasuk saat mendengar suara burung kedasih.
Di malam 1 Suro, kadang kita tak perlu berkata banyak. Cukup dengarkan suara malam, dan rasakan sendiri maknanya. Termasuk suara burung kedasih yang datang entah dari mana. Mungkin ia hanya lewat, mungkin juga sedang menyampaikan sesuatu.
Untuk mendapatkan berita- berita terkini Jawa Pos Radar Kediri , silakan bergabung di saluran WhatsApp " Radar Kediri ". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.
Editor : rekian