Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Raja Udang Meninting. Burung Mungil Berwarna Pelangi dari Hutan Tropis

Nakula Agi Sada • Senin, 26 Mei 2025 | 22:29 WIB
Raja Udang Meninting
Raja Udang Meninting

JP Radar Kediri- Meski menyandang nama “raja udang”, burung yang mempunyai nama latin Ceyx erithaca ini bukanlah pemangsa udang sejati seperti kerabat besarnya. Ia lebih senang berburu serangga kecil di sela-sela rimbun daun dan akar pepohonan yang lembap. Ukurannya hanya sekitar 13 hingga 14 sentimeter—tak lebih besar dari jari tangan manusia. Namun, dalam tubuh kecil itu tersimpan keindahan yang membuat banyak pengamat burung rela menembus hutan berhari-hari demi satu bidikan kamera.

Tubuhnya adalah simfoni warna. Kepala dan punggungnya diselimuti ungu gelap mengilat, berpadu dengan warna oranye terang di perut dan dada. Paruhnya memanjang, merah menyala. Tak berlebihan bila para penggemar burung menyebutnya jewel of the tropical forest—permata dari hutan tropis.

Burung ini tersebar dari India hingga Filipina, dan di Indonesia ia bisa dijumpai di Sumatera, Kalimantan, Jawa, dan beberapa pulau lain. Habitat utamanya adalah hutan dataran rendah yang lembap, terutama di sekitar aliran air kecil. Di sanalah ia bertengger di dahan rendah, mengamati dengan saksama pergerakan serangga atau makhluk kecil lainnya.

Baca Juga: Bukan Karakter Kartun, Inilah Burung Rambatan Doraemon Asli dari Hutan Indonesia!

Tidak seperti sebagian besar anggota keluarga Alcedinidae lainnya yang menyelam ke air, raja udang meninting lebih suka menyambar mangsanya dari atas tanah atau permukaan air. Makanannya beragam. Dari jangkrik kecil, laba-laba, lipan, hingga katak dan ikan kecil. Gerakannya lincah dan diam-diam, membuat kehadirannya sering tak terdeteksi Hingga suara kepakan sayap kecilnya mengabur di antara dedaunan.

Ketika musim berbiak tiba, pasangan burung ini terlibat dalam ritual yang mengharukan. Jantan dan betina saling memberi makan sebagai tanda ikatan. Mereka menggali sarang di tebing sungai atau tanah yang lembap, jauh dari jangkauan predator.

Di dalam lubang itu, telur-telur kecil dierami hingga menetas, dan anak-anak burung belajar mengenal dunia dengan warna yang sama terang seperti induknya.

Sayangnya, meski status konservasinya masih tergolong aman menurut IUCN (Least Concern), burung ini makin sulit dijumpai. Penyebabnya klasik, hilangnya habitat. Pembukaan lahan, perambahan hutan.

Baca Juga: Keunikan Mambruk Victoria, Burung Eksotis Asal Papua yang Tercetak di Uang Logam Rp. 25

Selain itu fragmentasi ekosistem membuat rumah alami mereka menyusut perlahan. Hutan-hutan primer yang menjadi tempat favorit raja udang meninting makin langka, bahkan di kawasan yang dilindungi.

Di kalangan pengamat burung atau birdwatcher, raja udang meninting termasuk “burung target”. Bukan hanya karena warnanya yang spektakuler, tetapi karena tantangan menemukan dan mengabadikannya. Ia pemalu, cepat, dan kerap sembunyi. Perlu kesabaran, keheningan, dan sedikit keberuntungan untuk bisa melihatnya bertengger tenang sambil mengintai mangsa.(*)

 

Editor : Jauhar Yohanis
#raja #udang #burung