JP Radar Kediri- Burung berwarna biru mencolok ini sering membuat banyak orang terkecoh. Sekilas, penampilannya seperti karakter animasi Doraemon: tubuh mungil, mata besar, dan ekspresi heran yang tak lekang. Tapi ini bukan rekaan fiksi. Ia nyata, hidup di hutan-hutan tropis Asia, termasuk Indonesia. Namanya Velvet-fronted Nuthatch (Sitta frontalis), atau yang lebih akrab dikenal dengan julukan burung rambatan Doraemon.
Julukan tersebut muncul bukan tanpa alasan. Warna bulunya didominasi biru terang yang kontras, dengan gradasi biru tua, biru muda, dan semburat ungu pada bagian punggung dan sayap. Tambahkan dahi hitam mengilap serta mata putih besar yang seolah selalu ‘terkejut’, maka lahirlah tampilan yang benar-benar ikonik, unik sekaligus menggemaskan.
Namun daya tarik burung ini tak berhenti pada penampilannya. Seperti namanya, nuthatch atau burung rambatan memiliki kebiasaan yang tidak biasa: merambat naik-turun pada batang pohon secara vertikal, bahkan dengan kepala di bawah. Kemampuan ini dimungkinkan oleh struktur cakar yang tajam dan kuat, memungkinkan cengkeraman pada kulit pohon untuk mencari makanan seperti serangga kecil, larva, hingga telur serangga yang tersembunyi.
Baca Juga: Mitos Burung Kepodang. Mulai Tingkeban Hingga Pertanda Rejeki
Burung dengan Gaya Spider-Man
Kemampuan bergerak seperti Spider-Man ini menjadikan burung rambatan sebagai salah satu spesies burung yang paling menarik diamati di alam liar. Tak banyak burung yang mampu berjalan secara terbalik di permukaan pohon. Bahkan burung pelatuk pun biasanya hanya bisa merambat naik, bukan turun.
Selain itu, burung ini juga memiliki paruh ramping berwarna merah terang yang memberikan kontras mencolok dengan bulunya. Ukurannya kecil, hanya sekitar 12–13 cm, namun kelincahannya luar biasa. Mereka lincah berpindah dari satu batang pohon ke pohon lain dengan kecepatan mengagumkan.
Habitat dan Persebaran
Velvet-fronted Nuthatch tersebar luas di wilayah Asia Selatan dan Tenggara. Mulai dari India, Sri Lanka, Myanmar, Thailand, hingga ke Indonesia—khususnya Sumatra dan Kalimantan. Mereka menghuni hutan-hutan tropis dan subtropis, serta kerap ditemukan di kawasan taman nasional atau wilayah konservasi dengan pohon-pohon besar.
Tak seperti burung kicau yang bersuara merdu, kicauan burung rambatan ini terdengar pendek dan tajam, mirip siulan “tsit-tsit-tsit” yang diulang cepat. Meski sederhana, suara ini menjadi penanda keberadaan mereka di antara lebatnya pepohonan.
Sarang Praktis, Gaya Hidup Sosial
Burung ini bersarang di lubang pohon, sering kali memanfaatkan celah alami atau bekas sarang burung lain. Tidak membangun sarang rumit, mereka memilih tempat yang aman dan nyaman untuk bertelur.
Menariknya, mereka kerap terlihat dalam kelompok campuran (mixed flock). Rombongan berbagai spesies burung yang mencari makan bersama. Aktivitas ini bukan hanya efisien dalam mencari pakan, tapi juga menjadi mekanisme perlindungan dari predator.
Baca Juga: Albatros, Burung Legendaris yang Konon Bisa Berumur Paling Panjang. Benarkah?
Bintang dalam Dunia Birdwatching
Meski belum masuk kategori langka, populasi burung rambatan Doraemon menghadapi ancaman dari deforestasi dan degradasi habitat. Penggundulan hutan, konversi lahan, serta minimnya kesadaran konservasi membuat keberlangsungan spesies ini perlu dijaga lebih serius.
Bagi pecinta fotografi alam dan birdwatching, burung ini adalah salah satu spesies paling diburu. Warna mencolok, ekspresi menarik, serta perilaku unik menjadikan mereka subjek yang sempurna untuk difoto. Tak heran, banyak pengamat burung dari luar negeri datang ke Asia hanya demi melihat langsung burung ini beraksi.
Editor : Jauhar Yohanis