JP Radar Kediri- Kalau ngomongin burung cendrawasih, pikiran kita biasanya langsung melayang ke Papua. Tapi, tahukah kamu kalau ada satu jenis cendrawasih yang nggak kalah cantik dan justru berasal dari Halmahera, Maluku Utara?
Yup, dia adalah Cendrawasih Bidadari Halmahera alias Semioptera wallacii. Namanya aja udah terdengar anggun banget, kan?
Burung yang satu ini bukan cuma cantik, tapi juga punya cerita unik di balik namanya. "Bidadari" memang cocok banget buat menggambarkan tampilan dan gerakannya yang elegan.
Apalagi saat burung jantannya menari buat menarik perhatian si betina. Benar-benar indah. Itulah mengapa disematkan kata bidadari di namanya.
Secara ukuran, burung ini tidak terlalu besar. Panjang tubuhnya sekitar 28 cm, jadi cukup mungil.
Tapi jangan salah, meskipun kecil, pesonanya luar biasa. Warna bulunya bikin siapa pun terpikat, terutama bagian dadanya yang hijau mengilap seperti zamrud.
Ciri khas paling mencolok dari jantan Cendrawasih Halmahera adalah dua bulu putih di punggungnya yang bisa ditegakkan seperti sayap tambahan.
Saat dia sedang “beraksi”, dua bulu itu terbuka dan membentuk seperti kipas. Ditambah gerakan menarinya yang luwes.
Berbeda dengan si jantan, burung betina tampil lebih sederhana. Warnanya cenderung cokelat polos. Tapi bukan tanpa alasan.
Warna ini membantu si betina menyamar di balik dedaunan hutan. Apalagi saat sedang mengerami telur. Jadi, penampilannya memang lebih ke fungsi daripada gaya.
Habitat asli si bidadari ini ada di hutan hujan dataran rendah Pulau Halmahera. Mereka hidup di pepohonan, suka bertengger di dahan rendah, dan aktif banget di pagi hari.
Saat matahari baru naik, biasanya si jantan sudah mulai beraksi memamerkan tarian romantisnya.
Tarian kawin burung jantan ini memang jadi salah satu daya tarik utamanya. Dengan tubuh tegak, sayap putih mengembang, dan lompatan-lompatan kecil di dahan, dia berusaha menarik perhatian sang betina.
Burung ini pertama kali dikenalkan ke dunia oleh Alfred Russel Wallace, seorang penjelajah dan naturalis asal Inggris.
Waktu dia menemukan burung ini di abad ke-19, dia langsung jatuh hati. Saking kagumnya, Wallace sampai menulis bahwa burung ini adalah salah satu makhluk tercantik yang pernah dia lihat.
Cendrawasih Bidadari Halmahera memang tidak sepopuler kerabatnya di Papua, tapi justru itu yang membuatnya spesial.
Tidak banyak orang tahu soal keberadaannya, jadi bisa dibilang dia seperti permata tersembunyi dari timur Indonesia.
Burung ini sekarang masuk dalam kategori Hampir Terancam (Near Threatened) menurut IUCN. Artinya, kalau kita tidak peduli dan tidak menjaga habitatnya, bisa-bisa dalam beberapa dekade ke depan kita cuma bisa melihatnya di buku atau museum.
Cendrawasih Bidadari Halmahera bukan cuma cantik, tapi juga punya peran penting di ekosistem.
Sebagai pemakan buah dan serangga kecil, dia membantu menjaga keseimbangan alam hutan. Kehilangannya bisa berdampak ke banyak hal lain di rantai makanan.