JP Radar Kediri- Kalau bicara soal burung cantik, jangan buru-buru membayangkan hanya warna lucu atau kicauan merdu.
Dari jantung hutan Papua, ada satu spesies burung yang siap membalik ekspektasi. Cendrawasih botak alias Wilson’s Bird-of-paradise. Meski namanya agak nyeleneh, penampilannya justru bikin burung lain bisa minder.
Secara ilmiah, burung ini dikenal sebagai Cicinnurus respublica. Masih satu keluarga dengan burung cendrawasih lain, burung ini terkenal karena bulu warna-warni mencolok dan gaya tarian kawinnya yang luar biasa niat.
Julukan “botak” memang bukan kiasan. Bagian kepalanya benar-benar tanpa bulu. Warnanya biru neon terang dan mencolok. Itu adalah warna asli kulitnya. Unik sekaligus ikonik.
Burung jantan punya penampilan bak artis di red carpet. Bulu hitam legam mengilap, punggung merah menyala, dada hijau zamrud, dan ekor spiral seperti kawat. Benar-benar kombinasi warna yang bikin takjub.
Sedangkan betinanya tampil lebih kalem. Warnanya cokelat keabu-abuan dan sedikit biru di kepala. Tapi, perannya tak kalah penting karena hanya betina yang berhak menentukan siapa jantan pemenang dalam ritual cinta.
Ritual Cinta di Panggung Pertunjukan
Soal ritual cinta ini, burung jantan nggak main-main. Ia akan membersihkan lantai hutan dari daun dan ranting untuk membuat "panggung" pertunjukan.
Setelah siap, mereka mulai menari. Sayap dikibas, dada digoyang, ekor berputar. Semua dilakukan demi satu tujuan. Yakni menarik perhatian betina.
Kalau betina terkesan, jantan beruntung. Tapi kalau tidak, ya harus siap ditinggal begitu saja. Mirip kisah cinta manusia, ya?
Habitat Cendrawasih Botak dan Upaya Konservasi
Cendrawasih botak hanya ditemukan di dua tempat di dunia. Yakni Pulau Waigeo dan Pulau Batanta di Papua Barat. Itu pun hanya di sebagian kecil hutan. Tak heran jika statusnya kini masuk dalam daftar satwa terancam punah.
Dulu, burung ini juga sempat jadi target kolektor hewan eksotis. Warna tubuhnya yang mencolok memang membuat banyak orang tergiur memilikinya.
Kabar baiknya, berbagai upaya konservasi kini digencarkan. Pemerintah Indonesia telah menetapkan sebagian wilayah di Pulau Waigeo sebagai kawasan konservasi.
Lembaga konservasi lokal dan internasional juga aktif melakukan edukasi ke masyarakat agar tidak merusak hutan atau menangkap burung ini sembarangan.
Namun, perjuangan ini tidak bisa jalan sendiri. Publik bisa ikut ambil peran, mulai dari berdonasi ke lembaga konservasi, mengikuti kampanye penyelamatan satwa, hingga menyebarkan informasi penting seperti ini.
Cendrawasih botak bukan sekadar burung langka, melainkan simbol keajaiban alam Papua. Penampilannya yang nyentrik dan tariannya yang memikat menjadikannya salah satu burung paling memesona di dunia.
Jadi, jika suatu hari kamu berkesempatan menjelajahi hutan Papua dan melihat si botak menari, ingatlah bahwa kamu sedang menyaksikan salah satu pertunjukan alam paling eksklusif di muka bumi. (****)
Editor : Jauhar Yohanis