Kalau dua jenis sanca sebelumnya terkenal karena panjangnya, sanca yang satu ini justru menonjol karena badannya yang pendek dan gemuk.
Namanya sanca batik atau Python curtus, dan bisa dibilang dia adalah “bodybuilder”-nya dunia ular. Meski panjangnya cuma sekitar 1,5 hingga 2,5 meter, bobotnya bisa bikin kamu heran.
Sanca batik banyak ditemukan di wilayah Sumatra, Kalimantan, dan sekitarnya. Mereka lebih suka hidup di daerah rawa, hutan basah, hingga pinggiran sungai. Karena tubuhnya pendek dan kekar, ular ini nggak gesit, tapi sekali bergerak, langsung greget!
Sesuai namanya, sanca batik punya pola kulit yang mirip motif batik. Coraknya unik banget—ada kombinasi belang cokelat, hitam, dan oranye kemerahan yang cantik.
Kulitnya tebal dan mengilap, makanya sering jadi incaran untuk industri fashion. Sedihnya, karena alasan ini juga mereka sering diburu.
Sanca batik adalah ular yang kalem, tapi kalau merasa terancam, dia bisa jadi agresif. Tenaga lilitannya kuat banget meski ukuran tubuhnya nggak sepanjang saudara-saudaranya. Mereka berburu mamalia kecil seperti tikus, burung, bahkan reptil lain.
Uniknya, sanca batik punya beberapa subspesies, termasuk yang dikenal sebagai sanca darah (Python brongersmai) karena warnanya yang kemerahan.
Ada juga Python breitensteini, yang disebut sebagai sanca kepala hitam. Semuanya punya ciri khas masing-masing tapi sama-sama berbadan pendek dan gemuk.
Karena ukurannya yang nggak terlalu besar dan warnanya yang mencolok, banyak juga yang tertarik memelihara sanca batik. Tapi tetap, mereka butuh perawatan serius. Lingkungan kandang harus lembap, makanan teratur, dan tentu saja—hati-hati waktu pegang, apalagi saat lapar!
Berbeda dari sanca kembang dan bodo yang suka naik pohon atau berenang jauh, sanca batik lebih banyak menghabiskan waktu di tanah. Mereka lebih suka diam dan menunggu mangsa lewat daripada aktif berburu. Teknik ini disebut "sit and wait predator."
Sanca batik juga bertelur seperti sanca lainnya, tapi jumlah telurnya lebih sedikit. Sekali bertelur, biasanya antara 12 sampai 20 butir.
Tapi anak-anak yang menetas sudah cukup kuat untuk bertahan hidup sendiri sejak hari pertama.
Walaupun bukan yang paling terkenal, sanca batik tetap punya pesona yang unik. Coraknya cantik, tubuhnya kokoh, dan karakternya kuat.
Sayangnya, banyak orang yang hanya melihat nilai ekonomi dari kulitnya. Padahal, kalau kita mau lihat lebih dalam, sanca batik adalah bagian penting dari kekayaan alam Indonesia yang patut kita jaga. (***)
Editor : Jauhar Yohanis