Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Sanca Kembang, Ular Raksasa Asia Tenggara yang Cantik, Mematikan, dan Perlu Dilindungi

Nakula Agi Sada • Sabtu, 3 Mei 2025 | 00:07 WIB

Ular Sanca Kembang
Ular Sanca Kembang

JP Radar Kediri- Di balik lebatnya hutan tropis Asia Tenggara, hidup salah satu ular paling mengagumkan di dunia: sanca kembang (Python reticulatus). Ular ini dikenal luas sebagai ular terpanjang di dunia, bahkan bisa tumbuh lebih dari 7 meter.

Ukurannya yang masif, pola tubuh yang menawan, dan kekuatan lilitannya menjadikan sanca kembang sebagai sosok yang menakutkan sekaligus memesona.

Meski bertubuh besar, ular ini bukan predator yang agresif terhadap manusia. Sanca kembang lebih memilih bersembunyi dan berburu dalam senyap di malam hari, menjadikannya hewan nokturnal yang ahli dalam menyergap mangsa tanpa disadari.

Habitat dan Sebaran

Sanca kembang tersebar luas di kawasan Asia Tenggara, termasuk Indonesia, Malaysia, Thailand, hingga Filipina. Habitat alaminya meliputi hutan tropis lembap, rawa-rawa, dan sekitaran sungai.

Kemampuan bersembunyinya luar biasa; meskipun berukuran besar, ular ini kerap sulit ditemukan di alam liar karena kemampuan kamuflasenya yang tinggi.

Corak tubuh sanca kembang menyerupai pola jaring atau anyaman dengan kombinasi warna cokelat keemasan, hitam, dan putih yang berkelok.

Pola inilah yang membantu mereka membaur dengan semak belukar dan daun-daunan hutan.

Baca Juga: Mengapa Bisa Ular Inland Lebih Mematikan Dari Pada Ular Kobra? Ini Penyebabnya.

Metode Berburu Tanpa Bisa

Tidak seperti ular berbisa, sanca kembang membunuh mangsa dengan melilit dan menekan hingga tulang mangsa patah dan nafas terhenti. Hewan yang biasanya jadi korban antara lain tikus, burung, kucing hutan, hingga babi liar.

Beberapa laporan ekstrem bahkan mencatat bahwa sanca kembang pernah menyerang manusia—meskipun kasus ini sangat jarang dan umumnya terjadi karena provokasi atau habitat yang terganggu.

Ular ini mengandalkan penciuman tajam dan reseptor panas di sekitar mulutnya untuk mendeteksi keberadaan mangsa, terutama dalam kondisi gelap total.

Perkembangbiakan dan Naluri Keibuan

Sanca kembang berkembang biak dengan bertelur, dan betinanya bisa menghasilkan hingga puluhan telur sekali masa bertelur. Menariknya, sang induk akan membelit telur-telurnya dan menjaga hingga menetas.

Ini menunjukkan bahwa meski dikenal sebagai reptil berdarah dingin, sanca memiliki insting keibuan yang kuat dalam menjaga kelangsungan generasi berikutnya.

Baca Juga: Mengenal Beragam Jenis Gecko Si Tokek Imut. Adakah yang Belum Anda Miliki?

Ancaman dan Konservasi

Meski bukan spesies yang terancam punah secara global, sanca kembang kerap menjadi target perburuan liar untuk diambil kulitnya, yang bernilai tinggi di pasar mode. Selain itu, hilangnya habitat akibat deforestasi juga membuat populasi mereka terus tertekan.

Padahal, keberadaan sanca kembang di alam sangat penting, terutama dalam mengontrol populasi hewan pengerat yang bisa menjadi hama bagi manusia.

Ular Eksotis, Bukan Hewan Peliharaan Sembarangan

Dalam dunia reptil hobi, sanca kembang kerap menarik minat para penghobi eksotik. Namun, ukuran besar, kekuatan luar biasa, dan kebutuhan ruang serta perawatan khusus menjadikan ular ini tidak cocok untuk pemula.

Pemeliharaan sanca memerlukan kandang yang kuat, makanan hidup atau beku yang memadai, serta pemahaman mendalam soal perilaku dan keamanan. Tanpa pengetahuan dan pengalaman, risiko bagi manusia dan ular itu sendiri bisa sangat besar.

Editor : Jauhar Yohanis
#asia tenggara #Pyton #Habitat #ular sanca kembang