Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Burung Kedasih Nakal Sejak Lahir. Fakta Ilmiah Perilaku Parasitik dalam Reproduksi

Jauhar Yohanis • Jumat, 25 April 2025 | 14:25 WIB
Anakan Burung Kedasih. Mendorong telor burung laih  keluar sarangnya
Anakan Burung Kedasih. Mendorong telor burung laih keluar sarangnya

Burung kedasih, yang termasuk dalam genus Cacomantis, merupakan salah satu jenis burung cucak yang dikenal luas di Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Di balik suara khas dan sering dianggap mistis oleh masyarakat, burung ini memiliki perilaku unik dan cukup ekstrem dalam hal reproduksi, yaitu brood parasitism atau perilaku reproduksi parasitik. Artikel ini akan mengulas secara ilmiah mengenai perilaku tersebut, beserta dampaknya dalam ekosistem serta relevansinya dalam kajian ekologi.

Apa Itu Reproduksi Parasitik pada Burung Kedasih?

Reproduksi parasitik pada burung kedasih adalah suatu strategi di mana burung betina tidak membangun sarang sendiri untuk bertelur dan membesarkan anaknya. Sebaliknya, ia akan mencari sarang burung lain—biasanya burung kecil seperti perenjak (Prinia) atau cinenen (Orthotomus) untuk menitipkan telurnya. Proses ini bukan hanya sekadar "menitip", karena burung kedasih betina sering kali mengeluarkan telur asli dari induk asuh dari sarangnya agar telur mereka mendapatkan perhatian penuh.

Setelah telur menetas, anak burung kedasih yang baru lahir akan menunjukkan perilaku dominan dan agresif. Dalam banyak kasus, anak kedasih akan mendorong telur atau anakan burung asli dari sarang, sehingga ia menjadi satu-satunya anak yang dirawat oleh induk asuh. Perilaku ini meningkatkan peluang bertahan hidup bagi anak kedasih, karena semua makanan dan perhatian akan diarahkan kepadanya.

Fakta Ilmiah di Balik Perilaku Parasitik Burung Kedasih

Fenomena ini telah banyak diteliti oleh para ahli ekologi dan ornitologi. Dalam jurnal “Avian Brood Parasitism: Behaviour, Ecology, Evolution and Coevolution” (Davies, 2000), disebutkan bahwa burung parasit seperti kedasih berevolusi untuk menyesuaikan bentuk dan warna telurnya agar menyerupai telur inang, sehingga tidak mudah dikenali dan ditolak.

Beberapa spesies burung inang bahkan telah mengembangkan mekanisme untuk mendeteksi dan menolak telur asing. Namun, dalam kasus burung kecil seperti perenjak dan cinenen, kemampuan ini belum berkembang sempurna, menjadikan mereka sasaran ideal bagi burung kedasih.

Penelitian juga menunjukkan bahwa anak burung kedasih tumbuh lebih cepat dibandingkan anak burung inangnya, berkat metabolisme tinggi dan kemampuan merangsang induk asuh dengan suara serta gerakan khas saat meminta makanan.

Dampak Ekologis dan Relevansi Konservasi

Perilaku parasitik ini memang menguntungkan burung kedasih, namun bisa berdampak negatif terhadap populasi burung inang.

Hilangnya keturunan asli akibat kompetisi dari anak kedasih dapat menyebabkan penurunan populasi spesies inang dalam jangka panjang, terutama jika spesies tersebut sudah berada dalam tekanan karena kehilangan habitat atau perubahan iklim.

Meski begitu, dalam ekosistem alami yang seimbang, interaksi seperti ini merupakan bagian dari dinamika alam dan proses seleksi alam.

Beberapa ahli menyatakan bahwa interaksi ini juga dapat mendorong evolusi adaptif pada burung inang, seperti kemampuan mengenali dan menolak telur asing.

Dari perspektif konservasi, penting untuk menjaga keberadaan semua spesies—baik burung kedasih maupun burung inang.

Perilaku parasitik dalam reproduksi burung kedasih merupakan salah satu adaptasi evolusioner yang kompleks dan menarik. (***)

 

 

Editor : Jauhar Yohanis
#reproduksi #kicau #Kedasih #mitos burung pipit