JP Radar Kediri – Trio GJLS kembali ke layar lebar. Rigen Rakelna, Hifdzi Khoir, dan Ananta Rispo bakal hadir lewat film terbaru bertajuk GJLS: Berapi-Api yang mulai tayang di bioskop pada 5 November 2026.
Kali ini, ketiganya meninggalkan konflik keluarga seperti dalam film sebelumnya dan mencoba profesi yang jauh berbeda, yakni menjadi petugas pemadam kebakaran.
Namun, perjalanan mereka menjadi damkar tidak berjalan semulus yang dibayangkan.
Alih-alih langsung tampil heroik memadamkan kebakaran besar, Rigen, Hifdzi, dan Rispo justru harus menghadapi kegagalan, tugas-tugas tak terduga, hingga misi berbahaya.
Baca Juga: Review Film Laut Bercerita di Bioskop, Mengingat Kembali Perjuangan Aktivis 1998
Bercita-cita Jadi Damkar Demi Tampil Heroik
Cerita GJLS: Berapi-Api berpusat pada tiga sahabat, Rigen, Hifdzi, dan Rispo.
Ketiganya memiliki ambisi menjadi petugas pemadam kebakaran karena membayangkan profesi tersebut sebagai pekerjaan heroik.
Mereka berharap bisa turun langsung memadamkan api dan menjadi penyelamat ketika terjadi keadaan darurat.
Namun, kenyataan ternyata tidak sesuai ekspektasi.
Setelah gagal dalam pelatihan bersama regu legendaris bernama Algojo Api, ketiganya belum bisa bergabung dengan tim utama.
Mereka justru ditempatkan untuk menangani berbagai tugas pelayanan yang dianggap lebih sepele dibanding memadamkan kebakaran besar.
Situasi tersebut kemudian menjadi salah satu sumber kekacauan sekaligus komedi dalam film.
Nekat Ambil Jalan Pintas
Tak puas hanya mendapat tugas-tugas harian, ketiga sahabat tersebut mulai mencari cara agar bisa lebih cepat bergabung dengan tim utama.
Keinginan untuk segera membuktikan diri membuat mereka mengambil jalan pintas.
Namun, keputusan itu justru membawa Rigen, Hifdzi, dan Rispo masuk ke masalah yang jauh lebih serius.
Mereka terseret dalam sebuah misi berbahaya untuk menyelamatkan anak-anak dari cengkeraman sindikat kriminal.
Dari yang awalnya hanya ingin terlihat keren sebagai petugas pemadam kebakaran, trio tersebut akhirnya benar-benar harus menghadapi situasi yang menuntut keberanian.
Baca Juga: Vino G. Bastian dan Pevita Pearce Bintangi Film Gasigogi, Angkat Kisah Pengorbanan Seorang Ayah
Tugas Damkar Tak Melulu Memadamkan Api
Film ini juga memperlihatkan bahwa pekerjaan petugas pemadam kebakaran tidak selalu berkaitan dengan api.
Rigen, Hifdzi, dan Rispo harus menangani berbagai situasi lain di tengah masyarakat, termasuk penyelamatan hewan.
Untuk mempersiapkan peran tersebut, ketiganya bahkan menjalani latihan bersama petugas damkar.
Dalam proses syuting, mereka juga berhadapan langsung dengan api hingga hewan seperti ular.
Salah satu adegan bahkan menggunakan ular asli yang dilepaskan di dalam rumah tempat proses pengambilan gambar berlangsung.
Pengalaman tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi para pemain, terutama karena tidak semua anggota GJLS terbiasa berhadapan langsung dengan hewan.
Jadi Film Kedua Trio GJLS
GJLS: Berapi-Api menjadi film kedua yang dibintangi trio GJLS setelah GJLS: Ibuku Ibu-Ibu yang dirilis pada 2025.
Monty Tiwa kembali duduk di kursi sutradara.
Kali ini, cerita tidak lagi berpusat pada persoalan keluarga seperti film pertama, melainkan membawa ketiganya masuk ke dunia pemadam kebakaran dengan skala konflik yang lebih besar.
Selain Rigen Rakelna, Hifdzi Khoir, dan Ananta Rispo, film ini turut dibintangi Carissa Perusset, Aurra Kharisma, Ebel Cobra, Inayma, Sadha Triyudha, Nigel Siwabessy, Yono Bakrie, hingga Grace Emmanuela.
Baca Juga: Dewi Siluman Ular Tayang November, Kisah Gelap di Balik Jalan Pintas Mengubah Nasib
Siap Tayang 5 November
GJLS: Berapi-Api memiliki durasi sekitar 1 jam 50 menit dan dijadwalkan tayang serentak di bioskop Indonesia mulai 5 November 2026.
Film produksi Amadeus Sinemagna, Emtek Media, Legacy Pictures, dan Virtuelines Entertainment ini memadukan komedi dengan cerita persahabatan serta aksi penyelamatan.
Dari tiga sahabat yang awalnya hanya ingin terlihat heroik, Rigen, Hifdzi, dan Rispo akhirnya harus membuktikan apakah mereka benar-benar mampu menjadi sosok yang bisa diandalkan ketika keadaan berubah berbahaya.
Editor : Shinta Nurma Ababil