JP Radar Kediri – Percintaan, keluarga, hingga kehidupan kerja. Birthcare Center mengambil tema yang jauh lebih spesifik: kehidupan perempuan setelah melahirkan dan berbagai tantangan ketika harus beradaptasi menjadi seorang ibu.
Drama tvN yang tayang pada 2020 ini hanya memiliki delapan episode. Ceritanya mengikuti Oh Hyun-jin (Uhm Ji-won), seorang eksekutif termuda di perusahaannya yang baru saja melahirkan anak pertama.
Setelah proses persalinan yang tidak mudah, ia tinggal di sebuah pusat perawatan pascamelahirkan dan mulai menghadapi dunia baru yang sama sekali berbeda dari kehidupan profesionalnya.
Baca Juga: Mengapa Kita Bisa Terikat Secara Emosional dengan Karakter Anime?
Di tempat tersebut, Hyun-jin bertemu dengan para ibu lain yang memiliki latar belakang dan pandangan berbeda mengenai pengasuhan anak. Salah satunya adalah Jo Eun-jung (Park Ha-sun), sosok yang dianggap sebagai ibu ideal oleh penghuni pusat perawatan tersebut.
Bukan Sekadar Cerita tentang Bayi
Salah satu hal yang membuat Birthcare Center menarik adalah fokusnya yang tidak berhenti pada bayi.
Drama ini justru banyak membicarakan perubahan yang dialami perempuan setelah menjadi ibu.
Hyun-jin yang sebelumnya terbiasa dengan kehidupan profesional yang penuh pencapaian harus menghadapi situasi ketika ia tidak lagi merasa yakin dengan kemampuannya sendiri.
Di pusat perawatan tersebut, muncul berbagai standar tentang seperti apa seorang ibu seharusnya bersikap.
Baca Juga: Agustus Jadi Bulan Padat Comeback K-Pop, Deretan Idol Ramaikan Industri Musik
Ada yang menganggap ibu harus selalu mengutamakan anak, sementara karakter lain mempertanyakan apakah seorang perempuan masih boleh memiliki kehidupan dan kebahagiaan untuk dirinya sendiri setelah menjadi ibu.
Korea JoongAng Daily mencatat drama ini mengangkat sejumlah persoalan nyata seperti pilihan menyusui atau menggunakan susu formula, ibu rumah tangga dan ibu bekerja, hingga cuti melahirkan dan jeda karier.
Dibungkus dengan Komedi
Meski topiknya cukup serius, Birthcare Center tidak membuat seluruh episodenya terasa berat.
Drama ini menggunakan komedi dan situasi absurd untuk menggambarkan pengalaman para ibu baru.
Lingkungan pusat perawatan yang terlihat mewah dan tenang justru menyimpan persaingan, tekanan, serta berbagai aturan tidak tertulis di antara para penghuninya.
Perpaduan tersebut menjadi salah satu kekuatan drama. Penonton bisa tertawa melihat tingkah para karakter, kemudian tiba-tiba dihadapkan pada persoalan yang cukup emosional.
Baca Juga: Mengapa Lagu-Lagu DAY6 Tetap Relate Meski Sudah Bertahun-Tahun Dirilis?
Tentang Ibu yang Tidak Harus Sempurna
Pesan terbesar Birthcare Center justru terasa dari bagaimana drama ini menggambarkan standar menjadi seorang ibu.
Tidak ada satu cara yang selalu benar untuk menjadi orang tua. Setiap ibu memiliki kondisi, pengalaman, dan pilihan masing-masing.
Hal tersebut membuat drama ini terasa lebih manusiawi. Penonton tidak hanya melihat bayi yang membutuhkan perawatan, tetapi juga perempuan yang sedang belajar memahami dirinya sendiri setelah kehidupannya berubah.
Itulah sebabnya Birthcare Center masih menarik untuk ditonton meskipun sudah beberapa tahun berlalu. Ceritanya tidak bergantung pada tren atau fenomena sesaat, melainkan pada pengalaman menjadi orang tua yang tetap relevan.
Baca Juga: Me Time Bukan Berarti Menjauh, Mengapa Waktu Sendiri Penting untuk Menjaga Pikiran?
Dengan hanya delapan episode, drama ini juga cocok bagi penonton yang ingin menyelesaikan tontonan dalam waktu relatif singkat. Birthcare Center menawarkan perpaduan drama, komedi, dan isu sosial tanpa harus membuat ceritanya terlalu panjang.
Netflix sendiri mengategorikannya sebagai drama komedi sekaligus drama dengan isu sosial yang berkaitan dengan menjadi orang tua dan pernikahan.
Bagi yang sedang mencari drakor lama dengan cerita yang berbeda dari romance pada umumnya, Birthcare Center layak masuk daftar tontonan.
Sebab, di balik cerita tentang pusat perawatan ibu dan bayi, drama ini sebenarnya sedang membicarakan satu hal yang jauh lebih besar: bagaimana seseorang belajar menjadi orang tua tanpa harus kehilangan dirinya sendiri.
Editor : Shinta Nurma Ababil