JP Radar Kediri - Rekaman CCTV yang memperlihatkan pertengkaran hebat antara Sarwendah dan Ruben Onsu mendadak viral dan beredar luas di media sosial.
Terkait hal tersebut, pihak Sarwendah akhirnya buka suara dan mengungkap fakta di balik emosi memuncak yang terekam dalam kamera pengawas tersebut.
Kuasa hukum Sarwendah, Chris Sam Siwu, menjelaskan bahwa kemarahan besar kliennya merupakan akumulasi dari persoalan rumah tangga yang telah dipendam selama bertahun-tahun. Menurutnya, emosi tersebut pecah di tengah masa-masa paling sulit dalam pernikahan mereka.
"Klien kami marah besar, kecewa berat. Makanya terjadilah pertengkaran itu. Kenapa sampai marah? Itu yang harus dipahami bersama," ujar Chris Sam Siwu saat ditemui di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Kamis (6/8).
Bukan Berasal dari Pihak Sarwendah
Chris menegaskan bahwa publik tidak boleh menilai peristiwa tersebut hanya dari potongan video singkat yang beredar di dunia maya. Ada rangkaian masalah panjang yang melatarbelakangi momen ketegangan antara pasangan selebritas tersebut.
Selain itu, ia dengan tegas membantah anggapan bahwa pihak Sarwendah merupakan penyebar pertama rekaman CCTV privat t uke publik. Chris memastikan video viral tersebut justru berasal dari pihak Ruben Onsu.
“Terkait video pertengkaran, itu bukan dari kami, melainkan dari kuasa hukum RO,” tegasnya.
Baca Juga: Ruben Onsu Diduga Selingkuh Tak Hanya Satu Kali, Sarwendah Mengaku Tahu pada 2017
Bantah Isu Penyakit Medis
Dalam kesempatan yang sama, pihak Sarwendah turut meluruskan isu lain yang sempat menyeret nama Ruben Onsu di media sosial, termasuk rumor terkait kondisi kesehatan tertentu. Chris memastikan kliennya sama sekali tidak pernah menyebarkan informasi pribadi tersebut ke ruang publik.
"Kami sampaikan sekali lagi, bukan kami yang membuka penyakit tiga huruf itu. Bukan dari kami," tandasnya.
Hingga saat ini, proses hukum antara Ruben Onsu dan Sarwendah masih terus bergulir di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, salah satunya terkait sengketa hak asuh anak. Di tengah jalannya persidangan, kedua belah pihak terus berupaya meluruskan berbagai spekulasi yang berkembang di tengah masyarakat.
Editor : Shinta Nurma Ababil