Merawat Ratusan Rilisan Fisik, Begini Perjalanan Yossi Yoseanno di Scene Musik Underground Kediri

Himalaya Azzahra • Dipublikasikan Rabu, 29 Juli 2026 | 19:08 WIB

 

Yossi Yoseanno di ruang dengar nya yang dipenuhi koleksi kaset, CD, dan vinyl rilisan yang kini sudah jarang beredar di pasaran.
Yossi Yoseanno di ruang dengar nya yang dipenuhi koleksi kaset, CD, dan vinyl rilisan yang kini sudah jarang beredar di pasaran.

KOTA, JP Radar Kediri – Suara dentuman drum selalu menjadi bahasa yang paling dipahami Yossi Yoseanno. Pria yang akrab disapa J itu bahkan mengaku tak pernah benar-benar jauh dari musik.

Di kesehariannya, sepasang earphone hampir tak pernah lepas dari telinga. Sementara di ruang keluarga rumahnya yang berukuran sekitar 4x4 meter, ratusan koleksi kaset pita, CD hingga piringan hitam tersusun rapi, menjadi saksi perjalanan panjangnya di dunia musik underground.

Ketertarikan Yossi terhadap musik lahir bukan dari keluarga musisi. Ayahnya seorang guru yang kebetulan penikmat musik yang gemar mengoleksi rilisan fisik.

Dari rak sederhana di rumah, bocah kelahiran 1995 itu mulai mengenal nama-nama besar seperti Deep Purple, Queen, hingga God Bless. Di lingkungan perumahan tempatnya tumbuh, ia kemudian mengenal Peterpan, Netral, Fungky Kopral hingga Muse lewat teman-temannya.

Baca Juga: Doni Wicaksono, Vokalis Band Metal yang Lirik Lagunya Berbahasa Jawa Kawi

Bisa di bilang secara tidak langsung bapak yang mengenalkan kepada saya lewat koleksi kaset dan CD yang sering di putar di rumah. Dari situ saya mulai suka”  kenangnya.

Saat duduk di bangku kelas lima SD, yossi pertama kali diajak menghadiri pertunjukan musik underground di Gedung Mahkota, Kediri. Pengalaman itu menjadi titik balik. Di tengah riuh distorsi gitar dan hentakan drum, ia menemukan rumah barunya.

Belajar drum secara otodidak dibantu sepupunya, yossi mulai membentuk band sejak SD. Penampilan perdana di atas panggung terjadi ketika kelas satu SMP dalam acara dies natalis SMP Negeri 2 Kediri, membawakan lagu-lagu Netral bersama band sekolah.

Namun rasa ingin tahunya terhadap musik membuatnya tak puas hanya bermain dalam satu kelompok. Saat SMP, ia justru bergabung dengan tiga band berbeda sekaligus.

Mulai dari American Blend Cherry yang bergenre deathcore, Impossible Is Nothing yang mengusung melodic punk, hingga Disaster Panorama yang memainkan melodic death metal.

“Kenapa banyak band? Karena saya ingin banyak belajar,” ujarnya dengan ramah dan penuh senyum.

Konsekuensinya tidak ringan. Hampir setiap malam ia latihan,  Jadwal latihan yang padat sering membuatnya pulang larut malam. Memasuki bangku SMA, aktivitas bermusik bahkan mulai mengganggu sekolah.

Baca Juga: Doni Wicaksono, Padukan Musik Metal dengan Budaya Lokal

Hampir setiap akhir pekan ia tampil di berbagai kota seperti Surabaya, Sidoarjo dan Malang. Senin menjadi hari yang paling berat. Tak jarang ia memilih bolos setelah kelelahan menjalani tur.

“Di rapor saya tercatat sampai 24 kali bolos. Bapak baru tahu setelah saya lulus. Selama itu ibu yang menyimpan rapor karena memang mendukung saya bermusik,” katanya sambil tertawa.

Dukungan orang tua memang tak pernah surut. Drum Yamaha Rydeen pertamanya merupakan hadiah dari sang sepupu  ketika memasuki bangku SMP, yang kemudian menjadi teman setia mengembangkan kemampuan bermain drum.

Selepas SMA, Yossi sempat kuliah di Malang sebelum akhirnya pindah ke Yogyakarta. Di Kota Pelajar itulah wawasannya tentang musik berkembang jauh lebih luas.

“Pas saya di Jogja saya belajar banyak hal. Saya merasa ternyata pengetahuan saya selama ini belum ada apa-apanya,” ungkapnya.

Di Yogyakarta ia aktif di 2 band, To-Die dan Sun Lotus. Selain musik, ia juga mendalami fotografi analog. Lingkungan seni yang lebih hidup membuatnya mengenal banyak pelaku kreatif dari berbagai disiplin. Jejaring itu kemudian ia bawa pulang ketika memutuskan kembali menetap di Kediri pada awal 2023.

Berangkat dari kegemarannya mengkoleksi rilisan fisik itu, bersama seorang rekannya ia menggagas sebuah acara yang mempertemukan lebih dari 20 pelapak rilisan fisik, mulai toko musik hingga record label dari berbagai daerah di Karesidenan Kediri.

Menurutnya, selama ini di kediri belum pernah ada kegiatan yang secara khusus untuk mewadahi pecinta musik untuk mendengarkan musik melalui media fisik.

“Bagaimana caranya orang-orang bisa menikmati musik dengan proper. Bukan sekadar lewat platform musik digital, tapi benar-benar mendengar dari rilisan aslinya,” katanya.

Acara tersebut tak hanya menghadirkan lapak jual beli kaset, CD, hingga vinyl. Pengunjung juga bisa menikmati listening room yang dilengkapi tape deck, CD player, turntable, dan sistem stereo sehingga setiap orang dapat merasakan pengalaman mendengarkan musik sebagaimana mestinya.

“Real musik adalah yang didengarkan dari rilisan fisiknya,” ucap Yossi.

Meski mengakui layanan digital memudahkan orang menemukan lagu, baginya sensasi membuka sampul album, membaca lirik, hingga menikmati kualitas suara dari media fisik tetap tidak tergantikan.

Persiapan acara pun dilakukan secara mandiri. Hanya dua orang yang mengerjakan seluruh kebutuhan, mulai menghubungi puluhan pelapak hingga menyiapkan perlengkapan listening room.

“Tantangan terbesar karena ini baru pertama di Kediri. Kami belum tahu bagaimana respons masyarakat. Tapi justru itu yang ingin kami coba bangun,” ujarnya.

Di sela kesibukannya sebagai penggerak komunitas, Yossi masih aktif bermain bersama sejumlah band bergenre hardcore, metal hingga grindcore. Hampir setiap tahun ia menjalani tur keliling Jawa dan Bali.

Salah satu pengalaman yang paling membekas terjadi ketika mendampingi band asal Singapura dalam sebuah rangkaian tur di Bandung. Akibat persoalan administrasi keimigrasian, band tersebut harus dideportasi sehingga jadwal pertunjukan berikutnya terpaksa dibatalkan.

“Bukan marah atau kecewa, lebih ke beban moral karena mereka sudah datang jauh-jauh tetapi terkendala masalah dokumen,” kenangnya.

Kini referensi musik yang didengarkannya pun terus berkembang. Jika dahulu banyak terpengaruh The Black Dahlia Murder dan genre lain, beberapa tahun terakhir ia justru lebih sering menikmati progressive rock.

Meski demikian, satu hal tak pernah berubah kecintaannya pada rilisan fisik dan keyakinannya bahwa musik bukan sekadar hiburan, melainkan medium untuk membangun ruang perjumpaan, berbagi pengetahuan, serta merawat kultur yang tumbuh dari komunitas.

Di tengah derasnya arus platform digital, Yossi memilih tetap memutar kaset, CD, dan piringan hitam. Baginya, setiap bunyi yang keluar dari media itu bukan hanya suara, melainkan juga cerita tentang perjalanan, persahabatan, dan semangat kolektif yang terus ia tabuh, satu ketukan demi satu ketukan. (Him)

Editor : Andhika Attar Anindita
kedirirecordsmarket scene underground Kultur