JP Radar Kediri - Bagaimana jika warna aura yang memprediksi panjang umur manusia? Apakah kita bisa menyelamatkan diri dari ancaman tersebut?
Lapas Labuhan Angsana, menjadi tempat penindasan dan kekuasaan masih menjadi penentu kasta antar pelaku pidana. Namun, kedatangan Dimas sebagai tahan baru justru membawa petaka baru bagi penghuni lapas lain.
Baca Juga: Sinopsis Film Ghost in the Cell: Horor-Komedi Joko Anwar yang Ajak Napi "Tobat" Demi Hindari Hantu
Dibalut dengan dua genre yang berbeda horror dan komedi, film karya Joko Anwar ini bukan hanya sekedar hiburan semata bagi masyarakat.Tetapi juga merupakan sarana keluh kesah sang sutradara terhadap kondisi pemerintahan di negeri ini yang dikemas dengan simbolisme unik khas sang kreator.
Aura Sebagai Perlambangan Dosa.
Perubahan aura dari tubuh setiap karakter bukan hanya sekedar elemen supranatural untuk kebutuhan film, dibalik hal ini Joko Anwar menggunakan perumpamaan ‘aura” sebagai cerminan konsekuensi atas pilihan yang ditanggung oleh setiap karakter. Tak hanya sebagai penentu nasib tetapi juga beban pikiran yang dipikul oleh setiap manusia.
Lapas Cerminan Kehidupan Masyarakat.
Lapas Labuhan Angsana merupakan metafora dari kehidupan masyarakat dilihat adanya perbedaan mencolok, kasta atas dan bawah, hakim dan yang dihakimi, siapa yang memiliki kuasa berhak memilih. Hal tersebut menjadi bukti bentuk hukum yang dimana kekuasaan dapat mempengaruhi keadilan.
Hantu Simbolisme Keresahan Rakyat.
Pada film ini kita dikenalkan dengan sosok ‘Hantu’ yang tidak memiliki wujud ini menjadi pertanyaan besar bagi sebagian penonton, sebab hantu yang biasanya dikenal memiliki sosok kini tampil tanpa adanya perwujudan nyata. Alih - alih memberi wajah pada sang ‘Hantu’, Joko Anwar memberi pendekatan baru dengan karakter hantu pada film ini.
Baca Juga: Jumlah Penonton Terbaru Film Ghost in the Cell Capai 1.430.185, Segera Lampaui Suzzanna
Ketidakhadiran wujud fisik dipilih bukan tanpa alasan, dalam film ini, ancaman justru disuguhkan melalui rasa bersalah dan dosa yang menghantui setiap karakter dari film ini. Dengan demikian, tidak hanya mengandalkan sosok mengerikan tetapi juga dari manusia.
Ghost In The Cell tidak hanya membuktikan film hanya sekedar sarana pelipur lara tetapi juga bisa menjadi media penyampaian kritik terhadap pemerintah.
Penulis: Karennia Putri Baginda
Universitas: Politeknik Elektronika Negeri Surabaya
Editor : Shinta Nurma Ababil