JP Radar Kediri - Ketika pertama kali mendengar judul Para Perasuk, banyak orang langsung berasumsi bahwa ini pasti film horor tentang kerasukan.
Tapi sutradara Wregas Bhanuteja, yang namanya sudah dikenal lewat Autobiography dan beberapa film pendek peraih penghargaan internasional, punya niat yang sama sekali berbeda.
"Film ini bukan film horor ya, karena saya sendiri penakut. Film ini tentang obsesi manusia," kata Wregas dalam konferensi pers usai pratayang film ini di Jakarta, April 2026.
Dan memang benar, Para Perasuk jauh lebih rumit, lebih dalam, dan dalam banyak hal jauh lebih menakutkan dari sekadar film setan.
Baca Juga: Bikin Merinding! Film Korea Colony Hadirkan Teror Zombie yang Bisa Berkomunikasi
Tentang Film Ini
Para Perasuk adalah film drama psikologis Indonesia yang mulai diproduksi sejak 2024 dan tayang pada April 2026.
Film ini mengikuti perjalanan seorang pemuda bernama Bayu yang berambisi menjadi perantara roh (perasuk) terbaik di desanya, di tengah ancaman kekuatan luar yang mulai mengguncang komunitas tersebut.
Di permukaan, ceritanya terdengar seperti kisah supranatural. Tapi yang sebenarnya diangkat Wregas jauh lebih universal, yaitu tentang apa yang terjadi ketika seseorang membiarkan satu hasrat menguasai seluruh hidupnya, menggerus relasi dengan orang-orang terdekat, dan membuatnya lupa bahwa ada kehidupan nyata yang menunggu di luar obsesinya.
Wregas Bicara Jujur: Film Ini Tentang Dirinya Sendiri
Hal yang membuat Para Perasuk terasa berbeda adalah kejujuran sang sutradara dalam menceritakan proses kreatifnya.
Wregas menceritakan film ini sebagai cerminan perjalanan pribadinya, bagaimana ketertarikannya pada dunia film sejak duduk di bangku sekolah perlahan berubah menjadi obsesi yang membuatnya menjauh dari orang-orang terdekat.
"Aku menyadari kalau film itu potret dari kehidupan, kenapa aku melupakan kehidupan asli itu sendiri, dan kenapa aku malah terfokus pada frame yang hanya berukuran 16:9 ini. Jadi itulah titik yang merubah aku bahwa hidup lebih penting dari film," ungkapnya.
Dengan latar belakang sepersonal itu, Para Perasuk bukan sekadar karya fiksi. Ia adalah pengakuan, sebuah surat cinta sekaligus peringatan keras dari seorang seniman kepada dirinya sendiri, yang kemudian ia bagikan kepada penonton.
Tradisi Kerasukan Sebagai Metafora
Pilihan Wregas menggunakan tradisi kerasukan sebagai latar bukan tanpa alasan. Kerasukan dalam konteks budaya Indonesia bukan semata-mata fenomena mistis.
Ia adalah ritual komunal, sebuah cara masyarakat untuk berhubungan dengan sesuatu yang lebih besar dari diri mereka sendiri.
Dalam film ini, tradisi itu menjadi cermin bagi karakter Bayu. Ironisnya, seorang perasuk yang tugasnya menjadi "wadah" bagi roh lain justru kehilangan dirinya sendiri karena obsesi.
Ia begitu sibuk menjadi tempat bagi sesuatu yang lain sampai lupa siapa dirinya sebenarnya dan apa yang benar-benar penting dalam hidupnya.
Metafora ini terasa sangat relevan di era sekarang, ketika banyak orang tanpa sadar "dirasuki" oleh target, ambisi, validasi, atau bahkan media sosial sampai lupa hidup.
Baca Juga: Film Michael Meledak di Box Office, Angkat Kisah Hidup King of Pop Michael Jackson
Insight: Obsesi yang Terasa Mulia Pun Bisa Menghancurkan
Para Perasuk mengajukan pertanyaan yang tidak nyaman, “Apakah semua obsesi itu buruk?” Dan jawabannya, setidaknya menurut film ini, adalah tidak selalu, tapi hampir selalu berdampak.
Bayu bukan tokoh jahat. Ia bahkan terlihat berdedikasi, punya tujuan, dan mencintai tradisinya. Tapi justru di situlah bahayanya.
Obsesi yang terasa mulia, passion terhadap seni, panggilan hidup, atau dedikasi pada tradisi, bisa sama merusaknya dengan obsesi yang buruk, kalau dibiarkan tumbuh tanpa batas dan tanpa kesadaran.
Film ini mengingatkan bahwa tidak ada mimpi yang layak dikejar dengan mengorbankan seluruh hubungan manusiawimu.
Dan memaafkan masa lalu, termasuk versi dirimu yang pernah salah prioritas, adalah bagian dari perjalanan yang tidak bisa dilewati.
Baca Juga: Film Istri Paruh Waktu: Potret Nyata Retaknya Rumah Tangga CEO Modern, Ego Suami vs Karier Istri
Kapan Waktu yang Tepat untuk Menonton?
Para Perasuk bukan film untuk ditonton sambil lalu. Ini film yang butuh ruang, baik secara fisik maupun emosional.
Tonton Para Perasuk ketika kamu sedang mempertanyakan apakah passion yang selama ini kamu kejar benar-benar sepadan dengan apa yang kamu korbankan.
Atau ketika kamu tiba-tiba menyadari bahwa seseorang yang kamu sayangi sudah lama tidak benar-benar kamu perhatikan, bukan karena tidak peduli, tapi karena terlalu sibuk dengan hal lain yang terasa lebih mendesak.
Film ini juga cocok untuk kamu yang ingin memahami bagaimana obsesi bisa tampil dengan wajah dedikasi, dan untuk siapapun yang rindu pada film Indonesia yang tidak sekadar menghibur, tapi berani mempertanyakan sesuatu yang penting.
Hindari menonton film ini saat kamu sedang lelah atau ingin hiburan ringan karena Para Perasuk akan memaksamu berpikir, dan itu bukan sesuatu yang bisa dilakukan setengah-setengah.
Baca Juga: 5 Film Studio Ghibli Legendaris yang Wajib Kamu Tonton Sekali Seumur Hidup!
Layak Ditonton?
Singkatnya, ya, sangat. Para Perasuk adalah salah satu film Indonesia paling berani di 2026, berani secara tematis, berani secara visual, dan berani secara personal.
Wregas Bhanuteja sekali lagi membuktikan bahwa sinema Indonesia bisa bicara soal hal-hal yang berat dengan cara yang tidak menggurui.
Film ini mungkin tidak akan cocok untuk semua orang. Tapi bagi mereka yang pernah merasa punya obsesi yang pelan-pelan memakan waktu dan ruang dalam hidup mereka, film ini akan terasa seperti cermin yang terlalu jujur untuk diabaikan.
Untuk mendapatkan berita- berita terkini Jawa Pos Radar Kediri , silakan bergabung di saluran WhatsApp " Radar Kediri ". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.
Editor : Shinta Nurma Ababil