JP Radar Kediri - Pernahkah kamu merasa ada yang tidak beres di rumah, tapi tidak tahu harus menjelaskannya dari mana?
Semuanya terlihat normal dari luar, orang tua masih bersama, tidak ada yang bertengkar keras, semua kebutuhan tercukupi.
Tapi di dalam, ada sesuatu yang terasa berat, ada jarak yang sulit diartikan, ada hal-hal yang tidak pernah dibicarakan.
Kalau kamu pernah merasakannya, Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini (NKCTHI) mungkin adalah film yang sedang menunggumu.
Baca Juga: 5 Film Studio Ghibli Legendaris yang Wajib Kamu Tonton Sekali Seumur Hidup!
Dari Tulisan Lama yang Lahir dari Kelelahan
Sebelum menjadi film yang ditonton jutaan orang, NKCTHI bermula dari sesuatu yang sangat personal.
Penulis Marchella FP mengaku menciptakan karya ini pada 2016, saat ia sedang mengalami burnout dari proyek-proyek sebelumnya.
Ia membuka kembali tulisan-tulisan lama yang tersimpan begitu saja, dan di sanalah ia menemukan kalimat yang menjadi cikal bakal cerita ini, "Ibu takut lupa rasanya muda, ibu tulis pesan ini untuk kita."
Dari satu kalimat itu, ia melakukan riset dan pendalaman selama dua tahun hingga akhirnya sebuah novel selesai.
Bahkan sebelum novel itu rampung, sebuah rumah produksi sudah melamar untuk mengangkatnya ke layar lebar. Tapi Marchella tidak terburu-buru.
"Aku nggak mau karena hype doang, terus aku ngejual cepet-cepet karya. Ini kan belum tahu anaknya bentuknya gimana, nanti dulu lah," ujar Marchella.
Ia memilih Visinema setelah negosiasi panjang selama sembilan bulan, karena merasa Angga Dwimas Sasongko sebagai sutradara benar-benar memahami dan menghargai karyanya, bukan sekadar melihat angka penjualan buku.
Tentang Tiga Bersaudara dan Rahasia yang Lama Terkubur
Film NKCTHI bercerita tentang tiga bersaudara, Angkasa (Rio Dewanto), Aurora (Sheila Dara Aisha), dan Awan (Rachel Amanda), yang hidup dalam keluarga yang tampak bahagia dan harmonis dari luar.
Segalanya berubah ketika Awan, si bungsu, mengalami kegagalan besar pertamanya dalam hidup.
Ia kemudian berkenalan dengan Kale (Ardhito Pramono), seorang laki-laki eksentrik yang membuka matanya pada sisi kehidupan yang belum pernah ia kenal, tentang jatuh, bangkit, patah, tumbuh, dan semua ketakutan yang manusiawi.
Perubahan Awan memicu tekanan dari orang tua mereka. Dan dari sinilah pemberontakan ketiga kakak beradik itu akhirnya membuka sesuatu yang selama ini tersembunyi rapat, rahasia dan trauma besar yang selama bertahun-tahun dijaga oleh keluarga mereka.
Keluarga "Baik-Baik Saja" yang Paling Menyentuh Hati
Inilah yang membuat NKCTHI terasa berbeda dari film keluarga pada umumnya. Film ini tidak menampilkan keluarga yang jelas-jelas bermasalah, tidak ada kekerasan yang kasat mata, tidak ada kemiskinan, tidak ada perselingkuhan yang dramatis.
Yang ada justru sebaliknya, keluarga yang terlalu menjaga ketenangan, yang terlalu menyimpan segalanya diam-diam demi menjaga keutuhan. Dan di situlah lukanya.
Keluarga yang terlihat baik-baik saja seringkali justru menyimpan luka paling dalam karena tidak ada ruang untuk bercerita, tidak ada kata-kata yang cukup untuk menjelaskan rasa yang ada.
Anak-anak tumbuh dengan memendam sesuatu yang mereka sendiri tidak tahu namanya, sampai suatu hari semuanya meledak dari arah yang tidak terduga.
NKCTHI menggambarkan hal itu dengan sangat jujur dan tanpa menghakimi siapapun, tidak orang tuanya, tidak pula anak-anaknya.
Diakui Dunia, Penghargaan di Shanghai
Kualitas film ini tidak hanya dirasakan oleh penonton Indonesia. NKCTHI berhasil meraih Golden Goblet Award di Festival Film Internasional Shanghai ke-23, bersama sembilan film lain dari berbagai negara.
Ini menjadikan NKCTHI salah satu dari empat film Indonesia yang tampil di festival bergengsi tersebut, sebuah pencapaian yang membanggakan di tengah kondisi industri film dunia yang saat itu sedang terdampak pandemi Covid-19.
Kapan Waktu yang Tepat untuk Menontonnya?
Film ini bukan tontonan yang ringan. Tapi ada momen-momen tertentu di mana NKCTHI terasa seperti jawaban atas pertanyaan yang sudah lama kamu pendam.
Tonton NKCTHI saat kamu merasa ada yang tidak beres di rumah tapi tidak bisa dijelaskan, saat kamu merasa lebih mudah tersenyum di luar daripada bercerita di dalam, saat kamu mulai menyadari bahwa orang tua juga punya luka yang tidak pernah mereka tunjukkan, atau saat kamu ingin memahami kenapa sebagian keluarga lebih memilih diam daripada jujur, dan apakah diam itu sebuah cara mencintai, atau justru cara melukai dengan perlahan.
Film ini tersedia di Netflix. Siapkan tisu, dan mungkin setelah selesai menonton, luangkan waktu untuk menghubungi orang yang sudah lama ingin kamu ajak bicara.
Baca Juga: Jumlah Penonton Terbaru Film Ghost in the Cell Capai 1.430.185, Segera Lampaui Suzzanna
Untuk mendapatkan berita- berita terkini Jawa Pos Radar Kediri , silakan bergabung di saluran WhatsApp " Radar Kediri ". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.
Editor : Shinta Nurma Ababil