Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Tanpa Sadar, Film yang Bikin Nangis Bisa Jadi Terapi Jiwa! Begini Penjelasannya

Ilmidza Amalia Nadzira • Selasa, 15 Juli 2025 | 04:00 WIB
Ilustrasi - Orang Menangis Saat Menonton Film. Ron Lach/Pexels.
Ilustrasi - Orang Menangis Saat Menonton Film. Ron Lach/Pexels.

JP Radar Kediri – Pernahkah Anda merasa lega setelah menonton film yang membuat Anda menangis tersedu-sedu? Atau justru merasa lebih tenang usai larut dalam kisah dramatis yang ditampilkan di layar kaca?

Ternyata, pengalaman emosional ini bukanlah hal sepele. Secara psikologis, menonton film terbukti mampu menjadi sarana terapi emosi yang sehat dan melegakan.

Fenomena ini dalam dunia psikologi dikenal dengan istilah katarsis, yakni proses pelepasan emosi yang tertahan melalui media simbolik seperti film.

Saat penonton tersentuh oleh kisah fiksi, muncul ruang untuk mengakses dan mengekspresikan perasaan yang selama ini mungkin tersembunyi di balik kesibukan atau tekanan hidup sehari-hari.

Film Bukan Sekadar Hiburan, Tapi Terapi Jiwa
Menurut Journal of Media Psychology, film bergenre drama dan tragedi memiliki efek terapeutik karena mampu menyuguhkan pengalaman emosional secara tidak langsung. Istilahnya, vicarious catharsis.

Penonton bisa merasakan emosi tokoh fiksi sebagai cerminan dari perasaannya sendiri, sehingga terbuka kesempatan untuk memahami dan melepaskan emosi tanpa harus mengalami kejadian itu secara nyata.

Psikolog dari University of Leeds, Dr. Geoffrey Beattie, menyebutkan bahwa film sedih memberi "izin sosial" untuk menangis.

Hal ini dinilai penting, terutama dalam budaya yang masih menstigma ekspresi emosi secara terbuka, terutama pada laki-laki.

"Film menjadi ruang aman bagi siapa saja yang sulit mengekspresikan kesedihannya di dunia nyata," tulisnya.

Terapi Lewat Layar, Cinema Therapy Makin Diakui
Belakangan, metode cinema therapy makin populer dan bahkan digunakan dalam praktik psikoterapi. Terapis dapat menyarankan film tertentu yang berkaitan dengan persoalan klien.

Misalnya, seseorang yang sedang menghadapi kehilangan bisa dianjurkan menonton Beaches atau Steel Magnolias.

Gary Solomon, Ph.D., penulis Reel Therapy, menjelaskan bahwa melalui identifikasi terhadap karakter film, penonton dapat memperoleh insight atau pemahaman baru tentang diri mereka.

Bahkan, film juga bisa membantu seseorang menyadari kekuatan yang mereka miliki, lewat tokoh-tokoh yang menghadapi persoalan serupa.

Bukan Hanya Drama, Horor Juga Bisa Jadi Katarsis
Menariknya, tak hanya film drama yang bisa memberikan efek penyembuhan. Film horor pun memiliki peran serupa.

Riset dari Aarhus University, Denmark, menyebutkan bahwa menonton horor justru bisa membantu meredakan kecemasan karena otak tahu bahwa ancaman tersebut tidak nyata. Sensasi "ketakutan aman" ini membantu melepaskan ketegangan dalam tubuh.

Sementara itu, film-film yang penuh ketegangan juga bisa menghasilkan pelepasan hormon stres seperti kortisol, yang kemudian diikuti oleh hormon bahagia seperti dopamin setelah konflik cerita terselesaikan.

Daftar Film yang Kerap Digunakan untuk Terapi
Beberapa judul yang kerap direkomendasikan dalam sesi cinema therapy antara lain:

- Silver Linings Playbook, yang menggambarkan perjalanan tokoh bipolar menuju pemulihan.
- Inside Out, merupakan film animasi yang memperkenalkan konsep emosi kepada anak-anak.
- Good Will Hunting, bercerita tentang trauma masa kecil dan pencarian jati diri.
- Marriage Story, berisi refleksi tajam tentang konflik dalam hubungan rumah tangga.

Menurut PositivePsychology.com, proses terapi lewat film biasanya melalui empat tahap: identifikasi karakter, pelepasan emosi (katarsis), perenungan (insight), dan perasaan tidak sendirian (universalisasi).

Bukan Pengganti Terapi, Tapi Pendamping yang Efektif
Meski terbukti bermanfaat, para ahli mengingatkan bahwa menonton film bukanlah pengganti konseling profesional.

Namun, film dapat menjadi alat bantu refleksi diri yang efektif, terutama jika disertai diskusi atau jurnal pribadi setelah menonton.

Dalam beberapa kasus, film bahkan mampu membantu individu menyadari akar masalah psikologisnya dan memotivasi perubahan hidup ke arah yang lebih baik.

Tak heran jika kini banyak terapis yang memasukkan cinema therapy sebagai pendekatan pendamping dalam sesi konseling.

Di balik adegan menyentuh, tawa lepas, atau bahkan ketegangan film horor, tersimpan potensi penyembuhan yang nyata.

Menonton film kini tak sekadar jadi hiburan akhir pekan, tapi juga bisa menjadi jalan lembut untuk merawat kesehatan mental dan menyelami emosi terdalam.

Editor : Ilmidza Amalia Nadzira
#psikolog #menonton film #stress