Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Bukan Sekadar Fiksi! 10 Novel Ini Angkat Isu Lingkungan yang Makin Memprihatinkan

Ilmidza Amalia Nadzira • Senin, 14 Juli 2025 | 06:45 WIB
Gambar - Rekomendasi Novel untuk Kajian Ekokritik Sastra
Gambar - Rekomendasi Novel untuk Kajian Ekokritik Sastra

JP Radar Kediri – Seiring meningkatnya kesadaran akan krisis lingkungan global, sejumlah novel Indonesia terbaru mulai membawa narasi ekologis yang kuat.

Dari tema deforestasi, polusi, ekopolitik, hingga budaya lokal yang berkelanjutan, terdapat sepuluh karya fiksi yang layak dijadikan objek studi ekokritik.

Artikel ini menyajikan rekomendasi lengkap, mulai dari sinopsis, tema lingkungan yang diangkat, hingga relevansi teoritis, untuk pembaca dan peneliti sastra yang ingin memahami relasi sastra dan ekologi di negeri kita.

1. Haniyah dan Ala di Rumah Teteruga – Erni Aladjai
Menggambarkan masyarakat Desa Kon yang hidup selaras dengan alam, menanam cengkih, merawat rempah, memancing ikan, dan menjaga hutan serta laut. Alam hadir sebagai sumber spiritual, ekonomi, dan budaya.

Narasi ini mempromosikan deep ecology, non-antroposentrisme, egalitarianisme biosfer, hubungan simbiosis, hingga ekopolitik pembangunan ramah lingkungan.

2. Sampah di Laut, Meira – Mawan Belgia
Bercerita dari sudut pandang botol plastik “Cola” yang “berbicara” dan roh gadis Meira. Menyorot dampak pencemaran plastik laut, mewakili ekosistem laut yang terluka.

Dengan dialog empatik antara sampah dan alam, novel ini menuntun pembaca melihat sampah sebagai subjek, bukan objek.

3. Ladu – Tosca Santoso
Menampilkan kerusakan fisik pada lingkungan dan kearifan lokal yang terkikis oleh pembangunan modern.

Novel ini mengangkat pergeseran manusia, alam akibat perkembangan ekonomi dan teknologi, potensi besar untuk analisis Greg Garrard tentang alam sebagai korban dan cermin moral.

4. Sokola Rimba – Butet Manurung
Kisah perjuangan pendidikan anak-anak suku pedalaman di Jambi.

Konflik muncul saat hutan sebagai kawasan budaya dan pendidikan terancam deforestasi.

Cerita ini menjadikan alam sebagai guru sekaligus entitas yang layak dilindungi.

5. Di Kaki Bukit Cibalak – Ahmad Tohari
Menggambarkan desa yang terkena degradasi hutan, polusi plastik, dan ancaman kepunahan satwa.

Menghadirkan kritik terhadap modernisasi dan gaya hidup konsumtif, ideal untuk penelitian ecocriticism berfokus pada masyarakat desa.

6. Luka Perempuan Asap – Nafi'ah al‑Ma'rab
Berfokus pada polusi udara, asap akibat kebakaran lahan atau aktivitas industri.

Tokoh perempuan menjadi simbol korban ekologi dan ekopolitik, menggugat industri atas kerusakan yang ditimbulkan.

7. Teruslah Bodoh Jangan Pintar – Tere Liye
Menampilkan konflik komunitas lokal melawan perusahaan tambang lewat isu penggusuran, polusi, dan perlawanan warga.

Sebuah narasi kuat soal kapitalisme ekstraktif dan korupsi ekologi, serta perlawanan berbasis keadilan lingkungan.

8. Aroma Karsa – Dee Lestari
Berlatar hutan tropis dengan misteri jenazah di rimba. Alam hadir sebagai karakter mistis dan moral, aroma pohon sebagai medium spiritual.

Novel ini menyuarakan deep ecology, alam bukan hanya latar, tapi penyampai pesan moral.

9. Mata di Tanah Melus – Okky Madasari
Okky Madasari menyajikan kisah Matara, gadis 12 tahun yang tersesat di wilayah adat Melus, Belu, NTT, dan menemukan bahwa masyarakat di sana menjaga hutan, hewan, dan ritual leluhur yang penuh makna ekologis.

Alam diposisikan sebagai entitas hidup dan pendidik, mengajarkan harmoni, penghormatan, dan perlindungan terhadap ekosistem, sembari muncul kritik halus terhadap pendidikan modern yang mengandalkan ketakutan, bukan pemahaman lingkungan.

10. Mata dan Rahasia Pulau Gapi – Okky Madasari
Melanjutkan petualangan Matara, novel ini menghadirkan Pulau Gapi, tempat letusan Gunung Gamalama menghilangkan desa dan formasi Danau Tolire, sementara polusi udara, gempa, dan rencana pembangunan hotel di atas situs historis menjerat masyarakat lokal dalam konflik ekopolitik.

Konteks ini disertai ancaman terhadap satwa langka dan privatisasi warisan budaya, menjadikan alam sebagai aktor utama konflik antara modernisasi dan pelestarian.

Kesepuluh novel ini membuktikan bahwa sastra Indonesia kini semakin peduli terhadap tema lingkungan dengan alam tampil sebagai aktor, simbol moral, dan katalis perubahan sosial.

Baca Juga: Tiket Presale Konser My Chemical Romance di Hammersonic 2026 Ludes dalam Hitungan Menit

Bagi peneliti, pengajar, dan pembaca umum, studi ekokritik terhadap karya-karya ini dapat membuka perspektif baru dalam memahami hubungan manusia dan alam, menguatkan advokasi lingkungan, serta memperluas diskursus kebudayaan lokal dan global.

Saat dunia bergulat dengan krisis ekologis, novel-novel ini hadir bukan hanya sebagai hiburan, tetapi juga sebagai seruan untuk peduli dan bertindak nyata.

Editor : Ilmidza Amalia Nadzira
#ekokritik #lingkungan #sastra indonesia