Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Nonton Ghibli Lagi? Coba Lihat Lewat Kacamata Ecocriticism, Pasti Kaget!

Internship Radar Kediri • Senin, 7 Juli 2025 | 04:40 WIB

 

Hayao Miyazaki dan poster film-filmnya
Hayao Miyazaki dan poster film-filmnya

Kata siapa film animasi cuma untuk anak-anak? Salah satu rumah produksi terkenal dari Jepang yaitu Studio Ghibli, lewat karya populernya seperti Spirited Away sampai My Neighbor Totoro, ternyata menyimpan kritik lingkungan.

Bula kita mengamati lebih detail film-film Ghibli, seringkali mereka mengajak kita untuk mengingat kembali hubungan antara manusia dan alam. Jadi akan cocok dan lebih menarik apabila kita mengamati film-film Ghibli melalui kacamata teori ekokritik dalam dunia sastra. 

Baca Juga: Siapa Kamu di Dunia Ghibli? Temukan Karakter yang Paling Cocok dengan Gaya Fashionmu!

Mengutip dari buku Ekokritik Sastra oleh Prof. Dr. Suwardi Endraswara, M.Hum. yang menjelaskan bahwa ekokritik adalah perspektif kajian yang berusaha menganalisis sastra dari sudut pandang lingkungan. Asumsi yang menggelinding dari kajian ini, yaitu dari pemikiran bahwa karya sastra merupakan pantulan dari lingkungannya. Jadi singkatnya, ekokritik itu menjelaskan hubungan manusia dan alam lewat karya sastra, sekaligus melihat gimana cerita-cerita bisa menggambarkan kondisi lingkungan sekitar kita.

Film-film Ghibli sukses menunjukkan koneksi antara manusia dan lingkungan lewat adegan yang menyentuh, kadang lewat visual alam memukau, dan semuanya mengarah ke satu kesimpulan bahwa dalam dunia Ghibli, alam bukanlah sekedar latar belakang, namun juga tokoh yang hidup dan bicara.

Hutan Beracun yang Menyembuhkan

Clip dalam film Nausicaä of the Valley of the Wind (1984)
Clip dalam film Nausicaä of the Valley of the Wind (1984)

Film legendaris Nausicaä of the Valley of the Wind (1984) menunjukkan dunia pasca-apokaliptik yang penuh dengan hutan beracun. Namun daripada menganggapnya sebagai ancaman, hutan ini justru tengah membersihkan dunia dari racun masa lalu. Tokoh utamanya, Nausicaä, memilih memahami dan merawat alam, bukan memusnahkannya. Pesan ini terasa segar, terutama di tengah narasi mainstream yang biasanya menggambarkan alam liar sebagai musuh.

Ketika Hutan Melawan dalam Mononoke

Clip dalam film Princess Mononoke 1997
Clip dalam film Princess Mononoke 1997

Bergeser ke tahun 1997, Princess Mononoke muncul sebagai salah satu film paling “galak” soal isu lingkungan. Irontown, pusat industri logam, menjadi simbol kemajuan manusia yang berbenturan langsung dengan makhluk-makhluk hutan. Yang menarik, film ini tidak memandang dunia hanya dalam hitam dan putih. Nona Eboshi memang merusak alam, tapi juga menyelamatkan perempuan-perempuan yang tertindas. Film ini mengajak penonton melihat konflik ekologi dengan lebih kompleks layaknya di dunia nyata.

Baca Juga: 5 Film Studio Ghibli yang Underrated tapi Wajib Ditonton!

Roh Sungai dan Sampah Manusia

No-Face in Spirited Away
No-Face in Spirited Away

Sekarang beralih ke film Ghibli yang paling sering menyabet penghargaan, Spirited Away (2001) memperlihatkan bagaimana limbah dan perusakan lingkungan berubah menjadi sosok “hantu” dalam arti harfiah. Dalam salah satu adegan ikonik, Chihiro harus memandikan sosok “stink spirit” yang ternyata adalah roh sungai yang dipenuhi sampah manusia. Setelah dibersihkan, roh tersebut terbang sebagai naga indah, mengandung pesan kuat tentang bagaimana penyembuhan alam apabila manusia mau bergerak.

Dari Totoro Sampai Ponyo, Alam Hadir dengan Lembut

Clips dari film Ponyo dan My Neighbor Totoro
Clips dari film Ponyo dan My Neighbor Totoro

Tidak semua pesan lingkungan hadir dalam bentuk konflik besar. My Neighbor Totoro (1988) menyuguhkan persahabatan anak-anak dengan makhluk hutan secara hangat, membuat kita menyukai alam pedesaan yang sederhana. Sementara Ponyo (2008), lewat kisah putri duyung kecil, menyuarakan keresahan tentang laut yang mulai tidak seimbang karena ulah manusia.

Baca Juga: Hayao Miyazaki Tegas Tolak Animasi Ghibli Gunakan AI

Laputa dan Kanal yang Hampir Terlupakan

Klip dari film Castle in the Sky
Klip dari film Castle in the Sky

Castle in the Sky (1986) menggabungkan petualangan dan refleksi tentang bagaimana teknologi dan ambisi manusia seringkali mengancam keberlangsungan alam. Sementara itu, film dokumenter The Story of Yanagawa’s Canals (1987) buatan Isao Takahata mengangkat cerita nyata upaya warga menyelamatkan kanal kota yang nyaris punah. Bisa jadi di film Ghibli inilah yang paling “nyata” dalam mengajak penonton ikut bertindak.

Di tengah perdebatan tentang krisis populasi, eksploitasi alam, dan perubahan iklim, film-film Ghibli menawarkan sesuatu yang berbeda. Cerita-cerita menyentuh yang mendorong kita untuk berdamai dengan alam. Bukan dengan cara menggurui, tapi lewat karakter-karakter yang mencintai, mendengar, dan menghormati kehidupan lain.

Jadi, lain kali saat kamu menonton ulang Spirited Away atau Totoro, perhatikan baik-baik, bisa jadi, hutan dan laut di layar itu sedang bicara langsung ke hati kita.

Editor : rekian
#ekokritik #ghibli #animasi #jepang #kartun #Hayao Miyazaki