Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Film ORV Kena Semprot Fans: Salah Adaptasi atau Salah Ekspektasi?

Internship Radar Kediri • Senin, 7 Juli 2025 | 05:25 WIB
Lee Min-Ho dalam poster film Omniscient Reader
Lee Min-Ho dalam poster film Omniscient Reader

Webtoon Korea Omniscient Reader's Viewpoint (ORV) akan diangkat menjadi film live action, muncul dengan trailer yang dirilis oleh Lotte Entertainment.

Filmnya sendiri belum tayang, namun sudah dibanjiri kritik pedas dari penggemar. Banyak fans mengungkapkan kekecewaannya dari berbagai platform, mulai dari perubahan senjata ikonik hingga anggapan bahwa adaptasi filmnya melakukan distorsi sejarah dari karya aslinya.

Kenapa bisa sepanas ini? Apa yang sebenarnya terjadi?

Tapi sebelum kita ikut menghakimi karya adaptasinya sebagai “pengkhianatan” terhadap karya asli, ada baiknya kita mengenal cara kerja adaptasi, bukan hanya copy paste, tapi karya adaptasi sebagai bentuk kreativitas tersendiri.

Adaptasi: Bukan Sekadar Menyalin, Tapi Menyampaikan Ulang

Teori adaptasi yang dikembangkan oleh Linda Hutcheon, seorang pakar sastra asal Kanada, memaparkan bahwa adaptasi adalah proses kreatif yang melibatkan re-interpretasi dan re-kreasi.

Artinya, film bukan sekadar “membawa cerita ke layar”, melainkan menciptakan pengalaman baru yang tetap terkoneksi dengan sumber aslinya.

Dalam bukunya A Theory of Adaptation, Hutcheon menyebut adaptasi sebagai "repetition without replication", pengulangan yang bukan sekadar penyalinan, tapi dengan memberikan variasi yang memiliki makna baru.

Jadi, saat senjata pedang dalam ORV diganti dengan pistol di filmnya, ini bisa jadi bukan karena sineas tidak mempedulikan cerita asli, tapi karena pembuat film ingin menyesuaikan dengan gaya sinematik modern.

Baca Juga: Bertabur Bintang, Ini Dia Final Casting Drama Adaptasi Webtoon “The Remarried Empress”

Tapi Kenapa Fans Marah?

Menurut Hutcheon, penonton adaptasi terbagi dua: mereka yang tahu sumber aslinya dan mereka yang baru kenal melalui film. Nah, fans ORV jelas masuk kategori pertama.

Mereka punya ekspektasi besar tentang karakter, dunia, bahkan cara konflik disampaikan.

Maka ketika saat makhluk dokkaebi tampil dalam versi CGI yang berbeda dari imajinasi pembaca, kekecewaan pun meledak.

Apalagi, ORV bukan sekadar kisah fantasi biasa, namun merupakan dunia kompleks yang penuh refleksi sosial, eksistensialisme, dan filosofi hidup.

Saat film terlihat fokus pada aksi dan visual efek, muncul kekhawatiran bahwa esensi dalam narasi karya asli akan tertelan efek CGI dan para casting dari jejeran aktor papan atas.

Popularitas vs Kualitas Adaptasi

Sudah pasti, salah satu motivasi utama dalam adaptasi adalah ekonomi. Meminjam istilah Hutcheon, adaptasi kadang jadi “produk franchise”, nama besar yang bisa dijual dalam berbagai bentuk.

Pilihan pemain selebritas top seperti Jisoo dan Lee Min‑ho bisa jadi strategi untuk menggaet penonton baru, namun di lain sisi, hal ini malah membuat penggemar lama merasa cerita mereka “dikomersialisasi”.

Hal ini sejalan dengan yang disebut Hutcheon sebagai tension between creativity and commerce. Adaptasi selalu berdiri di tengah-tengah: antara menghormati sumber dan memenuhi pasar.

Baca Juga: 5 Adaptasi Live Action Anime yang Justru Lebih Bagus dari Versi Aslinya!

Jadi, Haruskah Kita Menolak Adaptasi yang Berbeda?

Tidak juga. Bagi Hutcheon, adaptasi merupakan kesempatan untuk menyelami kembali suatu kisah, tapi dengan cara pandang yang segar. Malah, tidak jarang karya adaptasi membuat kita kembali membaca versi aslinya, dengan cara berbeda.

Adaptasi bukan tentang “seberapa mirip”, tapi “seberapa bermakna” versi barunya dalam konteks dan mediumnya sendiri.

Dalam hal ini tentu tidak bisa disamakan. Medium telling atau bercerita dari novel dan komik yang memiliki jumlah ratusan episode serta bisa mengeksplor ke kompleksitasan cerita, bisa dimasukkan semua ke film dengan durasi 90 menitan. 

Apalagi, keberadaan dokkaebi di trailer kedua membuktikan bahwa pembuat film masih mencoba menghubungkan dunia lama dan baru.

Pertanyaannya bukan lagi “mana yang benar”, novel atau film, tapi, apa film adaptasinya bisa bikin penonton ngerasain pengalaman baru, baik secara emosi maupun pemikiran?

Adaptasi, seperti yang diuraikan oleh Linda Hutcheon, merupakan bentuk bercerita ulang yang sah, bahkan penting dalam dunia hiburan modern.

Omniscient Reader's Viewpoint dalam bentuk film mungkin tidak akan memuaskan semua orang, tapi akan membuka diskusi menarik tentang bagaimana cerita bisa hidup dalam banyak bentuk.

Untuk para penggemar, mungkin ini saatnya melihat adaptasi bukan sebagai bentuk “pengkhianatan”, tapi sebagai “interpretasi lain dari dunia yang kita cintai”.

Editor : Ilmidza Amalia Nadzira
#adaptasi