Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Masih Ingat Film The Scarlet Letter? Bukan Tontonan Hiburan, Ada NIlai Feminisme yang Terungkap

Internship Radar Kediri • Rabu, 11 Juni 2025 | 17:46 WIB
Poster Film The Scarlet Letter
Poster Film The Scarlet Letter

JP Radar Kediri - Masih ingat The Scarlet Letter karya Roland Joffe? Film ini merupkan adaptasi novel romansa Amerika Serikat karya Nathaniel Hawtorn yang kemudian diangkat menjadi sebuah film pada tahun 1995.

Hester Prynne — tokoh utama yang mencuri perhatian bukan cuma karena ceritanya yang dramatis, tapi juga karena karakternya yang kuat dan berani melawan arus zaman.

The Scarlet Letter mengambil latar di Boston pada abad ke-17, saat penduduknya masih kental dengan ajaran Puritan yang masih memegang teguh nilai-nilai lama. 

Di tengah lingkungan yang seperti itu, Hester Prynne hadir sebagai sosok perempuan yang independen, berani, dan tidak tunduk pada standar yang dipaksakan oleh masyarakat.

Kalau kamu pernah dengar kutipan dari G.D Anderson, “Feminism isn't about making women stronger. Women are already strong. It's about changing the way the world perceives that strength” maka Hester adalah cerminan nyata dari pernyataan itu.

Ia menjalani hidupnya tanpa bergantung pada laki-laki, yang pada masa itu masih sangat jarang bahkan dianggap tabu pada zamannya. Meski masih berstatus istri dari Roger Chillingworth, Hester hidup seorang diri.

Ia menunggang kuda sendirian, berkeliling pasar menawar makanan, hingga menebus seorang budak. Bayangkan, seorang perempuan di abad ke-17 melakukan hal-hal seperti itu, luar biasa kan?

Konflik utama dalam film ini muncul ketika Hester harus berhadapan dengan hukum masyarakat Puritan karena kehamilannya di luar pernikahan.

Pada awal mulanya, ia dipanggil ke pengadilan kota karena pendapatnya yang dianggap menyimpang dalam forum perempuan soal tafsir Alkitab. Alih-alih Hester dihukum karena pemikirannya, ia justru dihukum karena hamil di luar nikah.

Singkat cerita, suami Hester, Roger Chillingworth yang diperankan oleh Robert Duvall, dikabarkan meninggal dunia. Dari situ lah Hester melakukan hubungan terlarang dengan pendeta muda bernama Arthur Dimmesdale, yang diperankan oleh Gary Oldman.

Hester yang merasa semua itu bukanlah sebuah dosa, kemudian dihukum selama bertahun-tahun di dalam jeruji penjara. Ini menunjukkan betapa cepatnya masyarakat waktu itu menghakimi tubuh perempuan, alih-alih menghargai pikirannya.

Akan tetapi, dari situ pula kita bisa melihat betapa kuat dan teguh hatinya dalam mempertahankan keyakinan dan harga dirinya. Melalui karakter Hester Prynne, The Scarlet Letter bukan cuma kisah cinta terlarang di masa lalu.

Lebih dari itu, film ini jadi pengingat bahwa perjuangan perempuan melawan stereotip dan ketidakadilan sudah ada sejak lama. Hester mengajarkan kepada kita bahwa menjadi perempuan bukanlah kelemahan, melainkan kekuatan yang layak dirayakan.

Feminisme di era modern ini mulai digencatkan dari berbagai pihak. Sudah seharusnya kesetaraan gender saat ini bukan lagi dipandang sebagai sebuah tren belaka, melainkan menjadi bagian dari cara berpikir kita sehari-hari.

Dan Hester Prynne? Ia adalah salah satu ikon fiksi yang membuka jalan ke arah sana.

Penulis: Marta Mahasiswa Magang UIN Sunan Ampel Surabaya

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di saluran  WhatsApp "Radar Kediri". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.

Editor : Jauhar Yohanis
#mahasiswa #film amerika #sastra #feminisme