JP Radar Kediri - Nama MAPPA kini menjadi salah satu kekuatan besar dalam industri anime Jepang. Studio ini dikenal lewat karya-karya populer seperti Jujutsu Kaisen, Chainsaw Man, hingga musim final Attack on Titan.
Namun di balik animasi epik dan hype yang terus membara, ada sejumlah fakta mengejutkan yang jarang diketahui publik.
Baca Juga: 10 Anime Shonen Terbaik Sepanjang Masa Menurut Fans Jepang, Siapa Nomor 1?
Dalam beberapa tahun terakhir, MAPPA mendapat banyak sorotan, baik pujian karena kualitas animasi mereka, maupun kritik tajam terkait isu internal.
Tak sedikit penggemar yang penasaran bagaimana studio ini bisa naik begitu cepat dan menangani banyak proyek besar sekaligus.
Baca Juga: Kenapa Gojo Kalah dari Sukuna? Ini Penjelasan Resmi Mangaka Jujutsu Kaisen!
Jika kamu salah satu penonton setia anime produksi MAPPA, simak deretan fakta mengejutkan ini. Beberapa mungkin akan mengubah pandanganmu terhadap studio yang satu ini.
-
MAPPA Didirikan oleh Mantan Bos Madhouse
Banyak yang tidak tahu bahwa MAPPA (Maruyama Animation Produce Project Association) didirikan oleh Masao Maruyama, sosok legendaris di balik kejayaan studio Madhouse.
Ia meninggalkan Madhouse pada 2011 karena ingin mengejar proyek yang lebih personal dan eksperimental.
Baca Juga: 9 Fakta Attack on Titan yang Jarang Diketahui Penggemar
Dengan pengalaman puluhan tahun, Maruyama membawa visi baru ke MAPPA: menciptakan anime yang berani mengambil risiko, baik dari segi visual maupun cerita. Tak heran, proyek pertama MAPPA adalah film eksperimental berjudul Kids on the Slope karya Shinichiro Watanabe.
Namun, dalam waktu kurang dari satu dekade, MAPPA berkembang dari studio kecil menjadi raksasa industri. Mereka sukses mencetak banyak judul populer dan jadi rebutan para kreator ternama.
Baca Juga: 5 Anime Mirip Attack on Titan, Ada yang Bikin Stress tapi Tetap Seru!
-
Terkenal karena Gaya Visual, Tapi Punya Budaya Kerja yang Kontroversial
MAPPA sering mendapat pujian karena animasi mereka yang detail dan penuh aksi. Namun, di balik layar, beberapa animator mengungkap adanya tekanan kerja berlebihan yang terjadi selama produksi proyek-proyek besar seperti Jujutsu Kaisen 0 dan Attack on Titan Final Season.
Pada 2021, salah satu animator freelance memviralkan postingan di Twitter/X soal bayaran rendah dan deadline yang tidak realistis. Isu ini memicu diskusi luas tentang kondisi kerja di industri anime Jepang, dan MAPPA menjadi salah satu contoh paling disorot.
Meski begitu, pihak MAPPA sempat membantah beberapa tuduhan dan mengklaim bahwa mereka tengah membangun sistem produksi yang lebih berkelanjutan. Mereka juga memperluas studio dan merekrut staf untuk mengurangi beban kerja.
Baca Juga: Nakama Wajib Tahu! Ini Dia 5 Arc One Piece yang Mengubah Sejarah Anime Dunia
-
Studio MAPPA Punya Dua Lokasi Produksi Besar
Banyak orang mengira MAPPA hanya punya satu studio kecil di Tokyo. Faktanya, saat ini mereka memiliki beberapa cabang studio, termasuk di Suginami, Tokyo dan Sendai, Miyagi Prefecture. Perluasan ini dilakukan untuk menangani banyak proyek sekaligus.
Kehadiran studio di Sendai menjadi langkah strategis untuk memperluas jaringan animator di luar Tokyo yang selama ini jadi pusat industri anime. Dengan dua lokasi ini, MAPPA bisa mengelola produksi dengan lebih terstruktur, meski tetap jadi tantangan besar mengingat padatnya jadwal.
Baca Juga: 8 Alasan Kenapa Pain adalah Villain Terbaik di Naruto
Studio mereka di Tokyo difokuskan untuk proyek-proyek besar seperti Attack on Titan dan Chainsaw Man, sedangkan cabang di Sendai lebih banyak menangani proyek tahap awal dan animasi dukungan.
-
MAPPA Berani Produksi Sendiri Tanpa Komite Produksi
Umumnya, anime diproduksi oleh Production Committee System gabungan perusahaan seperti penerbit, studio, TV, dan distributor. Namun MAPPA dikenal berani mengambil risiko dengan memproduksi sendiri beberapa proyek tanpa dukungan komite.
Baca Juga: Tak Disangka, 5 Anime Populer Ini Ternyata Sempat Ditolak Studio!
Contohnya adalah Chainsaw Man, di mana MAPPA mengambil alih banyak aspek produksi, termasuk pemasaran dan distribusi. Langkah ini membuat mereka memiliki kontrol penuh atas proyek dan juga keuntungan lebih besar jika sukses secara komersial.
Namun tentu saja, risikonya tinggi. Jika anime gagal, kerugian ditanggung sepenuhnya oleh studio. Strategi ini memperlihatkan betapa agresif dan ambisiusnya MAPPA dalam menguasai pasar anime modern.
-
Banyak Mengorbitkan Animator Muda Berbakat
Di tengah kritik soal kondisi kerja, tak bisa dipungkiri bahwa MAPPA adalah tempat berkembangnya banyak talenta muda. Studio ini memberi kesempatan kepada animator muda untuk langsung menangani adegan aksi utama, sesuatu yang jarang terjadi di studio besar lain.
Baca Juga: Apakah Sung Jin-Woo Akan Kehilangan Kekuatan Shadow-nya di Solo Leveling Season 3? Ini Bocorannya!
Animator seperti Naoya Nakayama dan Shingo Yamashita dikenal mencuri perhatian setelah terlibat di proyek-proyek MAPPA. Gaya visual mereka yang dinamis dan berani menjadi ciri khas tersendiri yang kini lekat dengan nama MAPPA.
Dengan rotasi staf yang cepat dan proyek yang terus mengalir, MAPPA menjadi ladang pertumbuhan bagi banyak kreator baru yang ingin mencuri panggung di dunia anime.
-
MAPPA Pernah Hampir Gagal Total di Awal Berdiri
Sebelum terkenal seperti sekarang, MAPPA pernah menghadapi masa-masa sulit. Setelah merilis Kids on the Slope dan Terror in Resonance, studio ini kekurangan proyek dan nyaris tidak aktif secara produksi selama beberapa waktu.
Kondisi ini membuat pendirinya, Masao Maruyama, akhirnya mundur dan mendirikan studio baru bernama Studio M2. Kepemimpinan kemudian diambil alih oleh Manabu Otsuka, yang membawa pendekatan bisnis lebih agresif dan mulai mengambil banyak proyek.
Baca Juga: 10 Alasan Sousou no Frieren Pantas Dinobatkan Sebagai Anime Terbaik!
Dari situlah dimulai era baru MAPPA yang dikenal produktif, cepat, dan penuh dengan proyek anime besar. Perubahan arah ini jadi titik balik yang membawa MAPPA ke puncak popularitas seperti sekarang.
-
Mimpi Besar MAPPA Bikin Anime Mendunia Tanpa Batas
MAPPA tak hanya ingin jadi studio populer di Jepang. Dalam berbagai wawancara, CEO Manabu Otsuka menyatakan bahwa mereka punya mimpi besar: membuat anime yang bisa bersaing di pasar global dan menembus batas budaya.
Baca Juga: Fakta Rocks D. Xebec di One Piece, Musuh Terbesar Roger yang Masih Jadi Misteri
Hal ini terbukti dari banyaknya proyek adaptasi dengan elemen internasional, seperti Yasuke (Netflix) yang mengambil setting Afrika, hingga kerja sama dengan platform global seperti Netflix dan Crunchyroll.
Dengan kombinasi gaya visual khas Jepang dan strategi produksi yang lebih modern, MAPPA berambisi menjadi “Marvel-nya anime” yang bisa menjangkau penonton dari seluruh dunia.
Editor : Jauhar Yohanis