Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Kenapa Anime Musiman Sekarang Cuma 12 Episode? Ini Penjelasannya!

Radyan Fahmi Asshidqi • Rabu, 4 Juni 2025 | 00:05 WIB
Dr Stone, salah satu anime musiman yang tayang 2025.
Dr Stone, salah satu anime musiman yang tayang 2025.

JP Radar Kediri - Penggemar anime di seluruh dunia mungkin menyadari satu tren yang semakin konsisten dalam beberapa tahun terakhir.

Mayoritas anime musiman saat ini hanya memiliki 12 hingga 13 episode. Padahal, pada era 90-an hingga awal 2000-an, anime seperti Naruto, Bleach, atau Inuyasha bisa tayang puluhan bahkan ratusan episode tanpa henti.

Baca Juga: Tak Disangka, 5 Anime Populer Ini Ternyata Sempat Ditolak Studio!

Fenomena ini membuat banyak penonton bertanya-tanya, kenapa anime zaman sekarang lebih pendek?

Apakah karena kualitas, biaya produksi, atau strategi bisnis baru? Meski tidak semua anime mengikuti format ini, tren 1 cour (sekitar 12 episode) memang mendominasi industri anime modern.

Baca Juga: 10 Anime Terpopuler Berdasarkan Rating MyAnimeList 2025

Jawa Pos Radar Kediri kali ini akan membahas berbagai faktor yang mempengaruhi durasi penayangan anime musiman yang kini lebih pendek, dari segi industri, ekonomi, hingga kebiasaan konsumsi penonton di era digital.

  1. Format 1 Cour, Strategi Produksi yang Lebih Efisien

Secara umum, anime disusun dalam format "cour", istilah yang merujuk pada satu musim penayangan televisi Jepang (sekitar 3 bulan). 

Baca Juga: Solo Leveling Resmi Jadi Anime Terbaik 2025, Ini 5 Fakta yang Membuktikannya!

Dalam 1 cour, rata-rata anime memiliki 12 atau 13 episode, tergantung kalender tayang. Format ini mulai menjadi standar karena efisiensi waktu dan biaya produksi.

Produksi anime membutuhkan waktu dan sumber daya yang besar. Setiap episode bisa menghabiskan waktu berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan untuk dikerjakan.

Dengan membatasi jumlah episode, studio bisa fokus menjaga kualitas animasi dan storytelling tanpa terburu-buru mengejar tayang mingguan tanpa henti seperti dulu.

Baca Juga: Kenapa Banyak Anime Rilis Berdasarkan Musim? Ini Alasannya!

Selain itu, dengan format 1 cour, studio bisa mengevaluasi respon pasar lebih cepat. Jika sebuah anime sukses secara penjualan Blu-ray/DVD atau merchandise, studio bisa melanjutkannya ke musim kedua, daripada mengambil risiko besar dengan membuat 24–50 episode sekaligus.

  1. Adaptasi dari Manga atau Light Novel Lebih Aman Jika Bertahap

Banyak anime sekarang merupakan adaptasi dari manga atau light novel. Namun, tidak semua sumber asli sudah tamat saat adaptasi dimulai.

Jika studio membuat anime terlalu panjang, risiko "menyalip manga" atau mengisi dengan episode filler menjadi besar.

Baca Juga: Anime vs Kartun Serupa Tapi Tak Sama, Ini Perbedaannya!

Dengan format pendek, anime bisa berhenti pada titik klimaks atau arc penting, memberikan ruang bagi cerita aslinya untuk berkembang lebih jauh.

Ini menghindari masalah yang pernah dialami anime seperti Fullmetal Alchemist versi 2003 atau Bleach yang terkenal dengan filler panjang.

Baca Juga: Gak Nyangka! 3 Anime Terkenal Ini Diam-Diam Angkat Budaya dan kuliner Indonesia, Ada Tempe dan Es Teler!

Strategi ini juga menguntungkan dari sisi pemasaran. Adaptasi anime bisa meningkatkan penjualan manga atau novel aslinya.

Jika respons bagus, penonton akan mencari sumber aslinya dan menunggu musim lanjutannya yang berarti popularitas berlanjut secara organik tanpa harus "dipaksakan".

  1. Tren Konsumsi Penonton di Era Streaming

Perubahan gaya menonton juga mempengaruhi cara anime diproduksi. Di era platform seperti Netflix, Crunchyroll, hingga Bstation, penonton lebih suka binge-watching alias menonton secara maraton. Anime dengan 12 episode bisa ditonton habis dalam sehari atau akhir pekan.

Baca Juga: 5 Anime Underrated yang Jarang Ditonton Padahal Bagus Parah!

Dengan jumlah episode yang tidak terlalu banyak, anime lebih mudah dikonsumsi oleh penonton baru yang mungkin tidak punya waktu mengikuti seri panjang.

Ini meningkatkan peluang sebuah anime viral atau trending di media sosial karena aksesibilitasnya lebih tinggi.

Baca Juga: 10 Anime Mirip Jujutsu Kaisen yang Wajib Ditonton, Banyak Pertarungan Epik!

Tren ini juga memudahkan distribusi internasional. Anime yang padat dan ringkas cenderung lebih diterima oleh pasar global yang ingin cerita cepat berkembang, tidak bertele-tele, dan tidak memerlukan komitmen waktu yang besar.

  1. Risiko Finansial yang Lebih Rendah bagi Studio

Produksi anime sangat mahal. Rata-rata, satu episode anime bisa menghabiskan dana sekitar 3 juta hingga 5 juta yen (sekitar 300–500 juta rupiah).

Jika satu seri dibuat sepanjang 24–50 episode, biaya produksi bisa menembus miliaran yen.

Dengan format 12 episode, risiko kerugian bisa ditekan jika anime tersebut ternyata tidak mendapat respons yang baik. Apalagi banyak studio anime adalah perusahaan kecil hingga menengah yang harus berhati-hati dalam mengelola dana produksi.

Sistem komite produksi di Jepang, di mana banyak perusahaan (penerbit, label musik, produsen mainan, dan lain-lain) ikut mendanai anime juga cenderung menyukai proyek pendek yang lebih bisa diprediksi hasilnya.

Baca Juga: 9 Villain Anime yang Diam-Diam Lebih Disukai daripada Tokoh Utama

Jika sukses, mereka bisa mendanai musim berikutnya atau proyek tambahan seperti film atau OVA.

  1. Kualitas Lebih Diutamakan daripada Kuantitas

Saat ini, banyak penonton lebih menghargai kualitas animasi, cerita, dan sinematografi daripada panjangnya sebuah seri. Contohnya, anime seperti Demon Slayer: Mugen Train Arc, Jujutsu Kaisen, hingga Oshi no Ko sukses besar meski tayangnya terbatas.

Baca Juga: 5 Karakter One Piece yang Layak Jadi Nakama Baru Luffy di Akhir Cerita

Studio seperti Ufotable dan MAPPA sengaja memilih untuk merilis anime musiman dengan jumlah episode pendek agar bisa menjaga kualitas animasi tingkat tinggi.

Dengan mengutamakan kualitas per episode, anime juga berpeluang besar memenangkan penghargaan, mendominasi trending Twitter, atau viral di TikTok dan Instagram. Dampaknya, meski episodenya sedikit, efek jangka panjangnya bisa jauh lebih besar dibanding seri panjang tapi kualitas turun.

Baca Juga: Bukan Sekadar Nakama! Ini 5 Alasan Kru Topi Jerami Sangat Loyal Pada Luffy di One Piece

Anime dengan 12 episode bukan berarti kurang baik atau tergesa-gesa. Justru, itu adalah hasil dari strategi industri yang lebih realistis, efisien, dan sesuai dengan kebutuhan penonton zaman sekarang.

Dengan adaptasi pendek, studio bisa bereksperimen lebih banyak, menjaga kualitas, dan membangun fandom secara bertahap. Jika sukses, sekuel atau film bisa menyusul, memperpanjang umur franchise secara alami.

Editor : Jauhar Yohanis
#anime indo #studio anime #anime #nonton anime