JP Radar Kediri - Dalam komunitas sound horeg yang makin berkembang, perdebatan soal pilihan sistem audio antara built up (produk impor rakitan pabrik luar negeri) dan custom menjadi topik yang selalu hangat. Keduanya punya tempat masing-masing di hati para penggemar audio dan pilihan ini seringkali tidak hanya soal bujet, tapi juga soal karakter, fleksibilitas, dan kebanggaan.
Produk built up dikenal punya standar kualitas tinggi. Biasanya, speaker, amplifier, hingga prosesor sudah melewati tahap riset dan uji laboratorium yang ketat. Brand seperti JBL, RCF, DAS, atau Electro-Voice menawarkan suara yang bersih, efisien, dan andal dalam kondisi kerja berat. Teknologi di dalamnya juga lebih mutakhir dari sistem pendingin, manajemen daya, hingga kontrol digital berbasis DSP. Bagi yang mengejar kualitas suara “kelas konser” dengan kemudahan instalasi, built up jelas jadi pilihan ideal.
Namun di balik semua keunggulan itu built up memiliki satu kelemahan utama di dunia sound horeg yaitu harganya tinggi dan tidak fleksibel. Jika rusak suku cadangnya susah dicari dan biaya servisnya bisa setara dengan membeli unit baru. Selain itu built up biasanya dirancang untuk standar indoor atau konser profesional bukan untuk "siksaan" lapangan terbuka yang biasa dialami sistem horeg yang bisa terkena debu, hujan, hingga getaran mobil keliling.
Baca Juga: Adu Box yang Paling Sering Digunakan Sound Horeg. Mana yang Lebih Baik ?
Sebaliknya produk custom menawarkan fleksibilitas dan daya tahan yang justru cocok dengan budaya horeg. Banyak teknisi lokal meracik sistem berdasarkan kebutuhan di lapangan yaitu bass yang lebih “nendang”, suara vokal yang lebih galak, dan desain box yang dibuat sesuai selera atau medan tempat main. Dari sisi biaya rakitan lokal tentu lebih terjangkau. Komponen seperti speaker, driver, dan power bisa dicicil dan diganti sesuai kebutuhan.
Keunggulan lain dari sistem custom adalah kemudahan modifikasi. Teknisi bisa bebas mengatur konfigurasi jalur, mengganti jenis box, atau menambah efek visual seperti LED dan smoke machine sesuai gaya tim. Dalam kontes atau parade horeg faktor “kreativitas visual dan suara” ini sering jadi nilai tambah yang tak bisa dibeli dari sistem built up.
Tentu saja sistem rakitan juga punya tantangan. Karena tidak semua teknisi memahami akustik dengan baik dan suara hasil rakitan kadang kurang rapi atau tidak stabil. Salah wiring, salah hitung box, atau ketidaksesuaian antar komponen bisa membuat sistem cepat rusak atau boros daya. Tapi di sinilah seni horeg berkembang dari trial-and-error, lahir formula-formula lokal yang justru jadi ciri khas suara jalanan Indonesia.
Jadi apakah harus pilih built up atau lokal rakitan? Semua kembali ke kebutuhan dan gaya masing-masing. Bila mengejar kualitas bersih dan minim risiko built up bisa jadi investasi jangka panjang. Tapi bila ingin sistem yang bisa dibentuk sesuai karakter, lebih garang di lapangan, dan siap diajak “main kotor” maka sistem rakitan lokal adalah pilihan cerdas dengan sentuhan seni dan keberanian khas dunia sound horeg.
Editor : Puspitorini Dian Hartanti