Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Mengapa Dragon Tak Langsung Menyerang Pemerintah Dunia di One Piece? Ini Penjelasannya!

Radyan Fahmi Asshidqi • Kamis, 1 Mei 2025 | 01:48 WIB
Monkey D Dragon, pemimpin dari pasukan revolusioner di One Piece.
Monkey D Dragon, pemimpin dari pasukan revolusioner di One Piece.

JP Radar Kediri - One Piece adalah salah satu anime dan manga terpopuler sepanjang masa, dengan dunia yang luas dan karakter penuh misteri seperti Monkey D. Dragon yang selalu jadi figur menarik.

Ia adalah pemimpin Tentara Revolusioner dan disebut-sebut sebagai musuh paling dicari oleh Pemerintah Dunia. Namun, meskipun memiliki kekuatan dan jaringan yang besar, Dragon belum juga melakukan serangan langsung terhadap Pemerintah Dunia.

Baca Juga: Karakter One Piece yang Sebenarnya Punya Masalah Mental Health, Ini Analisisnya!

Padahal, Luffy, sang anak yang merupakan tokoh utama, sudah terlibat dalam banyak konflik besar dengan Pemerintah Dunia. Banyak penggemar yang bertanya-tanya, "kenapa Dragon, dengan semua sumber daya dan pengaruhnya, tidak menyerang lebih dulu atau bahkan memulai perang?"

Mengapa ia terkesan pasif padahal statusnya sebagai revolusioner sejati sudah tak diragukan? Teori demi teori pun bermunculan di kalangan komunitas One Piece. Ada yang menyebut Dragon masih menunggu momen tepat.

Ada yang yakin bahwa strategi perangnya memang berbeda dengan kelompok bajak laut. Namun pertanyaan besar itu tetap belum terjawab secara resmi oleh Eiichiro Oda sang kreator.

Baca Juga: Kenapa Sabo Bisa Lolos dari Im Sama? Ini 3 Penjelasan Teorinya di One Piece!

Meski begitu, petunjuk-petunjuk kecil dalam cerita memberi kita gambaran jelas soal alasan di balik diamnya Dragon.

Berikut ini adalah analisis lengkap dan mendalam mengenai alasan mengapa Monkey D. Dragon belum menyerang Pemerintah Dunia secara terbuka hingga saat ini!

  1. Dragon Bukan Bajak Laut, Tapi Strategis Militer

Perbedaan utama antara Dragon dan kelompok lain seperti Luffy atau Teach adalah pendekatannya. Dragon bukan petarung yang asal serang, melainkan seorang revolusioner dengan strategi gerilya.

Ia tahu bahwa melawan Pemerintah Dunia secara frontal berarti mengorbankan banyak nyawa sia-sia, termasuk rakyat sipil yang ingin ia lindungi.

Dragon lebih memilih membangun jaringan, menghancurkan sistem dari dalam, dan menciptakan destabilisasi bertahap.

Baca Juga: Oda Pernah Spoiler Ending One Piece? Ini Cluenya Sejak 1999 sampai Sekarang!

Hal ini terlihat dari bagaimana Tentara Revolusioner beroperasi, mereka menyusup ke berbagai negara, membantu rakyat bangkit, lalu menggulingkan raja boneka yang bekerja untuk Pemerintah Dunia. Pendekatan ini lebih efektif dalam jangka panjang.

Selain itu, sebagai mantan perwira Angkatan Laut (yang diyakini oleh sebagian penggemar), Dragon tentu sangat paham struktur dan kekuatan sesungguhnya Pemerintah Dunia.

Ia tidak bisa gegabah. Dunia One Piece bukan hanya tentang siapa yang kuat secara fisik, tetapi siapa yang mampu menciptakan perubahan sistemik. Itulah visi Dragon.

Baca Juga: 5 Admiral Terkuat di One Piece, Siapa yang Paling Layak Disebut Monster Angkatan Laut?

Dengan demikian, kita bisa menyimpulkan bahwa Dragon bukan takut atau lemah, tapi ia memilih jalur revolusi yang lebih sistematis. Ia tahu bahwa waktu dan perhitungan adalah senjata utama dalam perang ideologi.

  1. Menunggu Momen yang Tepat

Dalam beberapa arc terakhir, termasuk Reverie, kita diperlihatkan bahwa Dragon sebenarnya sudah mulai bergerak. Pertemuan dengan komandan pasukannya, rencana untuk menyelamatkan Kuma, hingga kehadiran di balik layar saat insiden besar terjadi, semua itu menandakan bahwa Dragon tidak tinggal diam.

Masalahnya, Pemerintah Dunia terlalu besar dan kuat untuk diserang langsung tanpa persiapan. Mereka memiliki Im-sama, Gorosei, CP0, dan tentu saja Angkatan Laut.

Bahkan Yonko pun berpikir dua kali sebelum menantang mereka secara terbuka. Dragon tampaknya sedang menunggu titik krisis yang membuat sistem pemerintahan global ini goyah.

Misalnya, kemunculan D. yang makin sering, perpecahan antar Shichibukai, hingga pemberontakan di berbagai kerajaan. Jika semua sudah cukup kacau, barulah Dragon mungkin akan melancarkan serangan pamungkas.

Ini seperti dalam revolusi dunia nyata, waktu adalah segalanya. Serangan terlalu cepat bisa membuat semuanya sia-sia.

Serangan terlalu lambat bisa membuat kesempatan hilang. Dragon tahu ia hanya punya satu kali kesempatan, dan dia menunggu saat yang paling menentukan.

  1. Masih Banyak Informasi dan Kekuatan Rahasia yang Belum Terungkap

Satu hal lain yang membuat Dragon menahan diri adalah kemungkinan bahwa ia belum tahu seluruh kebenaran tentang Dunia.

Kita tahu bahwa Pemerintah Dunia menyimpan rahasia besar soal Abad Kekosongan, Senjata Kuno, dan Joy Boy. Dragon mungkin masih mengumpulkan potongan-potongan informasi ini.

Sebagai anak dari Monkey D. Garp dan ayah dari Monkey D. Luffy, Dragon berada di tengah-tengah sejarah besar. Mungkin ia sedang menyusun puzzle tentang makna "Will of D." dan bagaimana peran Luffy akan menjadi katalis perubahan dunia.

Kalau benar, maka Dragon bukan hanya revolusioner tapi bagian dari takdir yang lebih besar. Selain itu, kita belum tahu kekuatan sejati Dragon. Banyak penggemar menduga ia memiliki buah iblis bertipe cuaca atau angin, tapi belum dikonfirmasi. Artinya, Oda masih menyimpan "kartu truf" untuk karakter ini.

  1. Dragon Percaya pada Generasi Baru

Salah satu teori paling menarik adalah bahwa Dragon sebenarnya menyerahkan pertempuran besar pada generasi baru, termasuk Luffy. Ini terlihat dari bagaimana Tentara Revolusioner tidak pernah mengganggu perjalanan Luffy, bahkan cenderung mendukungnya dari jauh.

Aliansi besar yang terbentuk di Dunia Baru, termasuk kelompok Topi Jerami, Bajak Laut Heart, Kid Pirates, dan samurai dari Wano adalah kekuatan baru yang tidak pernah dihitung oleh Pemerintah Dunia.

Mereka adalah "gangguan" di luar radar, dan inilah yang menjadi kunci harapan baru bagi Dragon dan revolusioner lain.

Mungkin Dragon sadar bahwa revolusi sejati tidak bisa hanya dari atas, tapi juga dari bawah. Luffy adalah simbol kebebasan, dan tindakannya bisa menginspirasi rakyat untuk melawan sendiri. 

Maka dari itu, Dragon menunggu. Ia membiarkan Luffy membuat kekacauan, lalu datang di saat genting untuk mendukung dan mempercepat kejatuhan sistem tirani.

Dengan cara ini, Dragon tetap relevan tanpa harus tampil terlalu dini. Ia bukan pahlawan, tapi pemantik api revolusi yang besar.

Dragon bukan karakter sembarangan. Ia bukan sekadar petarung kuat, tapi simbol dari revolusi ideologis di dunia One Piece.

Alasan mengapa ia belum menyerang Pemerintah Dunia bukan karena takut, tapi karena perhitungannya matang. Ia menunggu, mempersiapkan, dan menyusun kekuatan di balik layar.

Saat dunia One Piece berada di titik balik, ketika tirani mulai retak dan rahasia dunia mulai terungkap, saat itulah Dragon mungkin akan bergerak. Dan ketika itu terjadi, perang terbesar dalam sejarah One Piece akan dimulai. *(***)

Editor : Jauhar Yohanis
#anime #reverie #one piece #nonton one piece #monkey d dragon