JP Radar Kediri — Lagu Kupu-Kupu Malam karya Titiek Puspa telah melewati lintas generasi. Namun di balik lirik puitis dan nada melankolisnya, tersimpan kisah nyata yang menyentuh hati. Lagu ini bukan sekadar karya seni, melainkan potret getir seorang perempuan yang jatuh dalam jurang kehidupan akibat keterpaksaan.
Dalam sebuah tayangan Ketawa Itu Berkah di Trans TV pada tahun 2022 lalu, Titiek Puspa membuka tabir kisah di balik penciptaan lagu yang telah dinyanyikan ulang oleh banyak penyanyi, termasuk NOAH pada 2008. “Itu lagu paling aku kagumi,” ujarnya lirih. “Karena aku berdoa sama seorang wanita kupu-kupu malam.”
Pertemuan itu terjadi puluhan tahun silam, saat Titiek tengah mengisi acara di luar kota. Di sela waktu senggang, ia bertemu seorang wanita yang menyimpan luka dalam hidupnya. Wanita tersebut dulunya adalah seorang nyonya rumah. Namun rumah tangganya hancur ketika suaminya pergi bersama wanita lain. Sepeninggal suami, ia terlilit utang yang tak mampu ia bayar.
“Dia itu tadinya nyonya rumah, terus suaminya pergi sama perempuan lain,” tutur Titiek. Hidup kian terjepit. Sang penagih utang memberinya dua pilihan: ikut bekerja dengannya atau dilaporkan ke polisi. Wanita itu, dengan harapan bisa menjadi pembantu, akhirnya ikut. Namun kenyataan berkata lain. Ia dijebak menjadi pekerja seks komersial.
“Dia enggak tahu ternyata disuruh jadi kupu-kupu malam,” lanjut Titiek, mengenang dengan mata berkaca-kaca.
Kisah tragis itu menyentuh hati Titiek. Ia lalu bertanya pada wanita tersebut, apa harapan hidupnya ke depan. Jawaban yang ia terima begitu sederhana namun dalam: “Saya kepengin punya suami, supaya anak saya tidak malu karena saya ini kupu-kupu malam.”
Titiek lantas menggenggam tangannya, menyarankan sang wanita berdoa. Meskipun berbeda keyakinan, mereka berdoa bersama, lalu berpelukan. “Udah, kamu berdoa dengan agamamu, aku dengan agamaku. Lama-lama kita pelukan,” ujar Titiek. “Tuhanmu sudah dengar, Tuhanku sudah dengar. Mulai sekarang kamu enggak boleh ke sana lagi.”
Sepulang dari perjalanan itu, Titiek menuliskan lagu Kupu-Kupu Malam dan langsung merekamnya. Tak disangka, hanya dalam hitungan minggu, ia kembali bertemu wanita tersebut secara tak terduga di Jakarta. Saat menonton film di bioskop, tiba-tiba ia dipeluk dari belakang.
“Tante Titiek, aku udah nikah,” ucap sang wanita, penuh haru. Momen itu menjadi penutup dari kisah yang menginspirasi lahirnya lagu yang kini menjadi salah satu karya paling ikonik dalam sejarah musik Indonesia.
Lagu Kupu-Kupu Malam bukan sekadar melodi. Ia adalah suara bagi mereka yang terpinggirkan, lantang tapi penuh empati. Dan Titiek Puspa, lebih dari sekadar seniman, adalah penyaksi dan perekam kisah manusia yang tak terdengar.
***
Editor : Jauhar Yohanis