KEDIRI, JP Radar Kediri - Kabar duka menyelimuti dunia sastra atas meninggalnya salah satu penyair terbaik tanah air, Joko Pinurbo.
Lelaki yang semasa hidupnya akrab dipanggil Jokpin ini mengembuskan napas terakhirnya pada Sabtu (27/4/2024) di Jogjakarta.
Jokpin gemar membuat karangan puisi semenjak berada di bangku SMA. Dia juga banyak menulis buku, novel, hingga kumpulan puisi yang maknanya sangat menyayat hati.
Ada lebih 20 buku puisi hasil karyanya banyak digemari masyarakat Indonesia. Sehingga puisi-puisinya sangat berperan besar dalam kebaruan sastra Indonesia.
Berikut deretan puisi karya Joko Pinurbo:
Puisi 1
Doa Orang Sibuk yang 24 Jam Sehari Berkantor di Ponselnya
Tuhan, ponsel saya rusak dibanding gempa
Nomor kontak saya hilang semua
Satu-satunya yang tersisa ialah nomor-Mu
Tuhan berkata: dan itulah satu-satunya nomor yang tak pernah kau sapa
Puisi 2
Doa Seorang Pesolek
Tuhan yang cantik,
temani aku
yang sedang menyepi
di rimba kosmetik.
Nyalakan lanskap
pada alisku yang gelap.
Ceburkan bulan
ke lubuk mataku yang dalam.
Taburkan hitam
pada rambutku yang suram.
Hangatkan merah
pada bibirku yang resah.
Semoga kecantikanku
tak lekas usai dan cepat luntur
seperti pupur.
Semoga masih bisa
kunikmati hasrat
yang merambat pelan
menghangatkanku
sebelum jari-jari waktu
yang lembut dan nakal
merobek-robek bajuku.
Sebelum Kausenyapkan warna.
Sebelum Kauoleskan
lipstik terbaik
di bibirku yang mati kata
Puisi 3
Kamus Kecil
Saya dibesarkan oleh bahasa Indonesia
yang pintar dan lucu walau kadang rumit
dan membingungkan. Ia mengajari saya
cara mengarang ilmu sehingga saya tahu
bahwa segala sumber kisah adalah kasih;
bahwa ingin berawal dari angan;
bahwa ibu tak pernah kehilangan iba;
bahwa segala yang baik akan berbiak;
bahwa orang ramah tidak mudah marah;
bahwa seorang bintang harus tahan banting;
bahwa terlampau paham bisa berakibaa hampa;
bahwa orang lebih takut kepada hantu
ketimbang kepada tuhan;
bahwa pemurung tidak pernah merasa
gembira, sedangkan pemulung
tidak pelnah melasa gembila;
bahwa manusia belajar cinta dari monyet;
bahwa orang putus asa suka memanggil asu;
Bahasa Indonesiaku yang gundah membawaku
ke sebuah paragraf yang tersusuna tas
tubuhmu. Malam merangkai kita menjadi
kalimat majemuk bertingkat yang panjang
di mana kau induk kalimat dan aku anak kalimat.
Ketika induk kalimat bilang pulang, anak kalimat
paham bahwa pulang adalah masuk
ke dalam palung. Ruang penuh raung.
segala kenang tertidur di dalam kening.
Ketika akhirnya matamu mati, kita sudah
menjadi kalimat tunggal yang ingin tetap
tinggal dan berharap tak ada yang tanggal.
Puisi 4
Di Atas Meja
Di atas meja kecil ini
masih tercium harum darahmu
di halaman-halaman buku.
Sabda sudah menjadi saya.
Saya akan dipecah-pecah
menjadi ribuan kata dan suar
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah