Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Puisi-puisi Karya Penyair Joko Pinurbo Yang Paling Populer

Anwar Bahar Basalamah • Senin, 29 April 2024 | 22:13 WIB
Photo
Photo

KEDIRI, JP Radar Kediri - Kabar duka menyelimuti dunia sastra atas meninggalnya salah satu penyair terbaik tanah air, Joko Pinurbo.

Lelaki yang semasa hidupnya akrab dipanggil Jokpin ini mengembuskan napas terakhirnya pada Sabtu (27/4/2024) di Jogjakarta.

Jokpin gemar membuat karangan puisi semenjak berada di bangku SMA. Dia juga banyak menulis buku, novel, hingga kumpulan puisi yang maknanya sangat menyayat hati.

Ada lebih 20 buku puisi hasil karyanya banyak digemari masyarakat Indonesia. Sehingga puisi-puisinya sangat berperan besar dalam kebaruan sastra Indonesia.

Berikut deretan puisi karya Joko Pinurbo:

Puisi 1

Doa Orang Sibuk yang 24 Jam Sehari Berkantor di Ponselnya

 

Tuhan, ponsel saya rusak dibanding gempa

Nomor kontak saya hilang semua

Satu-satunya yang tersisa ialah nomor-Mu

Tuhan berkata: dan itulah satu-satunya nomor yang tak pernah kau sapa

 

Puisi 2

Doa Seorang Pesolek

 

Tuhan yang cantik,

temani aku

yang sedang menyepi

di rimba kosmetik.

 

Nyalakan lanskap

pada alisku yang gelap.

Ceburkan bulan

ke lubuk mataku yang dalam.

 

Taburkan hitam

pada rambutku yang suram.

Hangatkan merah

pada bibirku yang resah.

 

Semoga kecantikanku

tak lekas usai dan cepat luntur

seperti pupur.

 

Semoga masih bisa

kunikmati hasrat

yang merambat pelan

menghangatkanku

 

sebelum jari-jari waktu

yang lembut dan nakal

merobek-robek bajuku.

 

Sebelum Kausenyapkan warna.

Sebelum Kauoleskan

lipstik terbaik

di bibirku yang mati kata

 

Puisi 3

Kamus Kecil

 

Saya dibesarkan oleh bahasa Indonesia

yang pintar dan lucu walau kadang rumit

dan membingungkan. Ia mengajari saya

cara mengarang ilmu sehingga saya tahu

bahwa segala sumber kisah adalah kasih;

bahwa ingin berawal dari angan;

bahwa ibu tak pernah kehilangan iba;

bahwa segala yang baik akan berbiak;

bahwa orang ramah tidak mudah marah;

bahwa seorang bintang harus tahan banting;

bahwa terlampau paham bisa berakibaa hampa;

bahwa orang lebih takut kepada hantu

ketimbang kepada tuhan;

bahwa pemurung tidak pernah merasa

gembira, sedangkan pemulung

tidak pelnah melasa gembila;

bahwa manusia belajar cinta dari monyet;

bahwa orang putus asa suka memanggil asu;

 

Bahasa Indonesiaku yang gundah membawaku

ke sebuah paragraf yang tersusuna tas

tubuhmu. Malam merangkai kita menjadi

kalimat majemuk bertingkat yang panjang

di mana kau induk kalimat dan aku anak kalimat.

Ketika induk kalimat bilang pulang, anak kalimat

paham bahwa pulang adalah masuk

ke dalam palung. Ruang penuh raung.

segala kenang tertidur di dalam kening.

Ketika akhirnya matamu mati, kita sudah

menjadi kalimat tunggal yang ingin tetap

tinggal dan berharap tak ada yang tanggal.

 

Puisi 4

Di Atas Meja

 

Di atas meja kecil ini

masih tercium harum darahmu

di halaman-halaman buku.

Sabda sudah menjadi saya.

Saya akan dipecah-pecah

menjadi ribuan kata dan suar

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.

 
Editor : Anwar Bahar Basalamah
#seniman #puisi #karya #karya sastra #sastrawan