JP Radar Kediri -
Pernahkah Anda mendengar celetukan seperti ini: "Anak muda zaman sekarang susah beli rumah karena uangnya habis buat jajan kopi kekinian tiap hari"?
Sepintas, logika itu terdengar masuk akal. Jika rata-rata harga segelas kopi Rp20 ribu dan dikonsumsi setiap hari, dalam sebulan pengeluaran mencapai Rp600 ribu. Jika diakumulasi, dalam setahun ada dana sekitar Rp7,2 juta yang "menguap" menjadi kafein.
Namun, mari kita pakai logika terbalik. Jika seorang anak muda memilih "puasa" ngopi total selama lima tahun, ia baru bisa mengumpulkan sekitar Rp36 juta. Pertanyaannya, apakah uang sebesar itu cukup untuk meminang rumah seharga ratusan juta atau miliaran rupiah di tengah kota yang harganya terus melambung setiap detik? Jawabannya tentu saja: Mustahil.
Baca Juga: Misteri 'Coffee Shop Effect' yang Bikin Lebih Produktif di Kafe meskipun Berisik?
Realitas ekonomi yang dihadapi Gen Z saat ini jauh lebih brutal ketimbang era generasi pendahulunya. Hari ini, harga properti melambung hingga ke langit, sementara kenaikan upah justru 'ngos-ngosan' sekadar untuk mengejar napas inflasi.
Dalam kondisi yang kian terjepit, segelas es kopi susu gula aren bukan lagi sekadar tren minuman kekinian. Bagi Gen Z, kafein tersebut telah menjelma sebagai mekanisme bertahan hidup (coping mechanism)—sebuah kemewahan kecil yang paling masuk akal untuk diraih di tengah impian memiliki hunian yang kian tak masuk akal.
Berikut adalah logika bedah di balik fenomena ini:
1. Kemewahan Terjangkau (Kemewahan yang Terjangkau)
Dalam ekonomi, ada istilah Efek Lipstik . Saat perekonomian sedang lesu atau masa depan finansial terasa suram, konsumen cenderung menahan pembelian barang besar seperti rumah atau mobil, dan beralih ke barang mewah "receh" yang bisa dibeli saat itu juga.
Bagi Gen Z, rumah adalah mimpi yang terlalu jauh untuk dijangkau . Daripada stres mikirin cicilan KPR yang tenornya seumur hidup, mending menikmati kebahagiaan kecil yang nyata di depan mata: Segelas kopi susu gula aren yang enak, dingin, dan manis seharga Rp20.000. Ini adalah "biaya kewarasan" yang terjangkau.
Baca Juga: Lipsus Melihat Mengapa Angka Pernikahan Terus Turun: Begini Kata Gen Z
2. Bukan Cuma Membeli Kopi, Tapi Juga Membeli "Ruang"
Kebanyakan Gen Z membeli kopi sebagai tiket masuk untuk produktivitas. Bagaimana tidak, kalau hanya dengan modal Rp20.000, kita dapat mengakses wifi dengan kecepatan yang kencang, colokan listrik, AC dingin, dan kursi nyaman selama berjam-jam buat ngerjain tugas, skripsi, atau kerja remote. Kalau dihitung-hitung, ini jauh lebih murah daripada sewa coworking space, dan kopi adalah overhead cost paling murah bagi pelajar dan freelancer .
3. Dopamin Instan di Tengah Burnout
Kuliah teknik, tenggat waktu proyek, atau tekanan kerja sering membuat burnout . Otak kita secara alami mencari pengungsi cepat alias dopamine hit .
Kopi kekinian yang seringkali tinggi gula dan kafein adalah solusi instan bagi masalah-masalah yang dialmi Gen Z. Rasanya enak, bikin melek, dan memberi perasaan "Saya pantas mendapatkan ini" setelah seharian berkutat dengan layar laptop, label self-reward di sini bukan alasan untuk boros, tapi cara instan untuk memperbaiki mood agar bisa terus berjuang melawan realita di esok hari.
Baca Juga: Tren Ramalan Tarot di Gen Z Kediri, Ini Pandangan Psikolog dan Sosiolog
Jadi, nggak perlu merasa puas setiap kali menukar lembaran dua puluh ribu dengan segelas es kopi favoritmu. Anggap saja itu bukan sekedar jajan, tapi bahan bakar untuk mesin kreativitasmu, dan biarkan setiap tegukannya menyalakan fokusmu untuk menyelesaikan satu baris kodingan lagi, satu revisi skripsi lagi, atau satu ide cemerlang lagi.
Rumah impian mungkin memang masih jauh dan mahal, tapi skill mahal yang kamu bangun hari ini ditemani segelas kopi itu adalah satu-satunya aset pasti yang akan membawamu ke sana. Minumlah kopinya, lakukan pekerjaannya, dan percayalah pada prosesnya.
Penulis adalah Ragil Arya Kusuma, mahasiswa Politeknik Elektronika Negeri Surabaya. Untuk mendapatkan berita- berita terkini Jawa Pos Radar Kediri , silakan bergabung di saluran WhatsApp " Radar Kediri ". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.
Editor : rekian