Gen Z terkenal tidak pernah jauh dari konten seputar romansa di media sosial. Mulai dari cerita hubungan hingga edukasi percintaan membuat linimasa mereka dibanjiri oleh istilah-istilah baru setiap harinya.
Salah satu yang paling sering muncul adalah Denial. Meskipun istilah ini semakin familiar di telinga Gen Z melalui media sosial dan percakapan sehari-hari, namun tidak sedikit juga yang benar-benar memahami arti asli dan konteks psikologis dari istilah tersebut.
Apa Itu Denial?
Dalam psikologi, denial adalah mekanisme pertahanan diri seseorang dengan menolak untuk menerima kenyataaan yang tidak sesuai dengan harapannya. Reaksinya dapat muncul dalam berbagai bentuk, mulai dari menolak hingga mengabaikan fakta hingga berpura-pura bahwa suatu masalah tidak terjadi.
Baca Juga: Panduan Gen Z yang Ingin Terjun ke Dunia Film tapi Bingung untuk permulaannya
Contoh situasi yang sering dikaitkan dengan penolakan antara lain: • Tetap percaya hubungan yang telah berakhir akan kembali seperti dulu. • Menganggap nilai jelek sebagai kesalahan sistem, padahal kurang belajar. • Merasa tidak stress padahal tubuh sudah menunjukkan sinyal kelelahan.
Darimana Istilah Ini Muncul?
Konsep penolakan pertama kali diperkenalkan dalam teori psikoanalisis oleh Sigmund Freud pada awal abad dua puluh. Freud menjelaskan bahwa manusia memiliki sifat alami untuk menghindari hal-hal yag membuat mereka tidak nyaman, dan salah satu caranya adalah dengan membantah kenyataan.
Baca Juga: Tips ala Gen Z Mengatasi Kebiasaan Ngemil Terus-Terusan saat WFH
Seiring perkembangan ilmu psikologi modern, istilah ini tidak hanya digunakan di ruang klinis tetapi juga merambah budaya populer. Buku pengembangan diri, film, serial televisi, film hingga konten media sosial ikut memperkenalkan istilah ini kepada publik. Peran onten di media sosial inilah yang membuat penyebarannya jauh lebih cepat dan akhirnya menjadi bagian dari bahasa sehari-hari Gen Z.
Mengapa Istilah Penyangkalan Ramai di Kalangan Gen Z?
1. Gen Z Terbiasa Memmbahas Kesehatan Mental
Generasi ini tumbuh pada era internet sehingga memiliki akses luas terhadap informasi psikologi. Mereka lebih mudah menghubungkan perilaku sehari-hari dengan istilah seperti healing atau overthinking, termasuk denial.
Baca Juga: Tips Gen Z Membedakan Barang Branded Ori dan KW saat Thrifting
2. Media Sosial Membentuk Kesadaran Baru
Konten pendek dengan contoh cerita atau situasi sehari-hari membuat istilah psikologi terasa relevan dan lebih mudah dipahami. Contohnya seperti video edukasi ringan tentang percintaan membuat denial sering muncul dan mulai menjadi salah satu istilah yang masuk dalam bahan dialog.
3. Sering dipakai dalam diskusi sehari-hari
Istilah penolakan muncul hampir di setiap percakapan ringan Gen Z. Masuknya istilah ini tak lain bukan karena banyak dari Gen Z menghadapi tekanan emosional yang bervariasi, mulai dari tuntutan akademik hingga dinamika hubungan. MDenial terasa relevan dan mudah dipakai untuk menggambarkan kondisi emosional sehari-hari, bahkan ketika konteksnya tidak selalu seberat konsep psikologis aslinya.
Baca Juga: Tips Gen Z Bertahan di Dunia Kerja saat Magang
Istilah penyangkalan kini tidak lagi sekadar istilah psikologi klinis karena sudah menjadi bagian dari percakapan sehari hari Gen Z. Mulai dari sejarahnya yang berasal dari teori psikoanalisis hingga penyebarannya melalui media sosial, fenomena ini menunjukkan bagaimana istilah psikologi dapat berkembang menjadi budaya populer.
Memahami makna denial secara tepat dapat membantu Gen Z lebih sadar terhadap kondisi emosionalnya sendiri. Dengan pemahaman tersebut, istilah psikologi tidak hanya menjadi tren viral tetapi juga membantu proses refleksi diri dan perkembangan pribadi.
Penulis adalah Azza Rizky Fayawa, Mahasiswa Universitas Negeri Surabaya. Untuk mendapatkan berita- berita terkini Jawa Pos Radar Kediri , silakan bergabung di saluran WhatsApp " Radar Kediri ". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.
Editor : rekian