JP Radar Kediri - Bisnis thrifting yang menguntungkan bermula dari hobi berburu pakaian bekas oleh sejumlah anak muda. Di balik alternatif dari bergaya mewah dan identitas skena, bisnis thrifting bisa menjadi ekosistem ekonomi baru di kalangan Gen Z.
“Awal buka usaha dulu, muncul dari aku sendiri yang suka beli baju-baju thrift. Terus ada ide buat buka usaha ini,” ujar Annisa (21), mahasiswa sekaligus pemilik toko online merajut.id di Instagram dan TikTok.
Bisnis Bukan dari Sembarang Barang Bekas
Jika sebagian orang mengejar tren fashion terbaru, beberapa anak muda justru melihat peluang dari sesuatu yang lama. Model gaya pakaian lama kini sedang menjadi incaran banyak orang, sehingga membuka peluang thrifting adalah ide berlian yang bisa tercetus. Thrifting yang dulunya dianggap kegiatan low budget, kini bisa jadi ladang bisnis menjanjikan bagi Gen Z.
Salah satunya Ferry (22), pemilik store “FerrThrift” di toko online dan offline. Ia memulai usaha tersebut setelah reda pandemi, dengan modal Rp. 2.000.000 dari belanja di Pasar Senen. Omzet sekarang bisa mencapai kurang lebih Rp. 5.000.000 setiap bulannya.
“Awalnya sih iseng jualan kaos band ke temen-temen. Ternyata banyak yang nanyain, jadi aku seriusin sampe ngerambah ke thrifting,” ungkapnya.
Jualan Bermodal Fotografi dan Konten
Anak muda yang terjun ke bisnis ini tidak hanya berjualan, namun mereka juga membangun brand image dan storytelling. Di media sosialnya, seperti Instagram dan TikTok, mereka membuat konten thrift haul, tips styling.
Selain itu foto produknya juga diatur sedemikian rupa untuk menunjang estetika visual. Hal ini memang penting untuk menambahkan kesan barang dengan kondisi baik dan layak.
“Ambil foto produk harus pas angel sama lightingnya, kalo asal bisa bikin orang mikir kalo produknya jelek. Padahl ini barang langka,” tutur Annisa, penjual pakaian thrift online yang mengkhususkan pada pakaian rajut.
Foto produk di media sosial menjadi pengganti etalase fisik. Sehingga perlu untuk melakukan pengambilan gambar dengan baik.
Lebih dari Sekedar Bisnis Sampingan
Baca Juga: Segelas Kopi dan Kalcer, Seidentitas Diri
Bagi banyak pelaku bisnis thrift muda, hal ini bukan cuma untuk cari uang tambahan. Peluang bisnis ini memungkinkan pelaku untuk berdiri mandiri secara ekonomi tanpa mengikuti sistem kerja konvensional.
“Aku bisa waktu jualan sesuai sama jadwalku. Bisa tetap kuliah, main, tapi tetep punya penghasilan. Dan paling enaknya ini sesuai passionku,” tambah Annisa.
Barang Lama, Peluang Baru
Bisnis thrifting menunjukkan adanya kreativitas yang bisa mengubah barang lama menjadi sumber cuan. Dengan bermodal kecil di awal, selera yang tajam, dan sentuhan personal branding, anak muda khususnya Gen Z berhasil menjadikan tren fashion ini sebagai ekosistem ekonomi yang fleksibel, inklusif, dan berkelanjutan.
Penulis: Karunia Syifa - Mahasiswa Magang Universitas Negeri Surabaya
Editor : Jauhar Yohanis