Aktivitas anak muda yang popular belakangan ini adalah mencari kafein, atau bisa disebut “Nongkrong” dan “Ngopi”. Seolah sudah menjadi gaya hidup terbaru. Tren anak muda ini disebut “kalcer”, plesetan dari kata culture yang berarti budaya.
Kemunculan fenomena tidak lepas dari maraknya coffe shop yang hadir di tengah masyarakat. Dilansir dari website resmi AEKI (Asosiasi Eksportir dan Industri Kopi Indonesia), disebutkan bahwa dari tahun 2021-2026, terjadi pertumbuhan pasar kafe di Indonesia sekitar 6,5 persen per tahun.
Lebih lanjut, survey Configured Indonesia dalam website resmi Bisnis.com menyebutkan bahwa 60 persen dari responden muda (17-44 tahun) bisa mengunjungi coffee shop sebanyak 1-3 kali dalam seminggu. Hal ini menunjukkan bahwa generasi muda berkontribusi dalam menciptakan istilah “kalcer” itu sendiri.
Apa itu “Kalcer”?
Secara harfiah, kata “kalcer” diambil dari culture. Namun penyebutannya diplesetkan menjadi kalcer. Maknanya pun mengalami pergeseran. Kalcer secara umum merujuk pada hal-hal yang dianggap memiliki nilai estetik, gaya hidup modern yang identik dengan eksistensi digital, dan trend popular di kalangan muda atau urban.
Kegiatan “ngopi” di tempat yang mencerminkan nilai estetika dan modern merupakan simbol atau gaya hidup dan identitas para kalcer. Sehingga coffee shop menjadi bagian penting dari budaya itu sendiri.
Coffee Shop itu Ruang Sosial atau Ruang Citra?
Simbol dan pembentukan identitas diri para kalcer dimulai dari estetika dalam pengambilan foto. Desain interior minimalis atau vintage dan tempat instgramable coffee shop menjadi daya tarik utama yang sangat sesuai dengan gaya hidup kalcer. Coffee shop jadi bagian dari budaya "work from cafe", "ngonten sambil ngopi", atau "diskusi sambil santai", yang dianggap gaya hidup produktif tapi santai ala generasi muda.
Gaya hidup kalcer menjadi identitas diri anak muda, yakni dengan mencerminkan estetik, modern, serta produktif. Di mana latar interior coffee shop dan minuman kopi susu kekinian menjadi simbol tertentu. Dengan kata lain, coffee shop merupakan arena konstruksi atau pencitraan identitas bagi pengunjungnya.
Tidak Semua Bisa Jadi Kalcer
Seperti terlihat universal, sebenarnya budaya kalcer itu cukup ekslusif. Hanya mereka yang memiliki modal ekonomi dan geografis baik yang bisa rutin ngopi ke tempat estetik dan menikmati menu kekinian.
Baca Juga: FOMO Mulai Kalah Sama JOMO, Fenomena Anak Muda yang Kini Senang “Nggak Tahu”
Tekanan sosial berupa FOMO (fear of missing out), tak jarang juga muncul Ketika orang berada dalam lingkungan teman yang nongkrong dan bekerja di tempat hits. “Kadang lihat temen nongkrong ke tempat kalcer, rasanya harus ikut biar nggak ketinggalan zaman,” kata Nia, mahasiswa yang mulai keteteran mengikuti budaya itu.
Untuk Apa kita Ngopi?
Fenomena kalcer dan coffee shop bukan sekedar tren sesaat saja. Hal ini menunjukkan bagaiaman generasi muda membentuk relasi dengan ruang publik, kerja, dan eksistensinya di sosial. Tapi di balik itu semua, pertanyaan “Apakah kita hanya ingin tampil demikian atau benar-benar menikmati kopi?”
Entah pelaku kalcer atau bukan, ada kejelasan dalam fenomena ini, yakni dalam era digital, gaya hidup dan tempat menjadi Bahasa yang visual, dimana satu gelas kopi bisa bermakna lebih dari sekedar minuman.
(Catatan Redaksi: Artikel ini ditulis oleh Karunia Syifa, mahasiswa magang dari Universitas Negeri Surabaya)
Editor : Mahfud