JP Radar Kediri – Di era serba digital ini, banyak anak muda justru menikmati ketidaktahuan. Istilah JOMO (Joy of Missing Out) kini semakin populer, bahkan mulai menggantikan dominasi FOMO (Fear of Missing Out) yang sempat mendikte gaya hidup digital generasi milenial dan Gen Z.
Apa Itu JOMO? Ini Arti dan Bedanya dengan FOMO
Jika FOMO membuat seseorang takut tertinggal informasi, acara, atau tren terkini, maka JOMO justru sebaliknya. Joy of Missing Out adalah kondisi ketika seseorang merasa lega, nyaman, bahkan bahagia karena tidak ikut-ikutan. Misalnya, tidak merasa bersalah saat melewatkan update drama selebriti, tidak ikut challenge TikTok terbaru, atau memilih offline saat semua orang online.
Fenomena ini bukan hanya bentuk perlawanan terhadap budaya digital yang melelahkan, tapi juga bagian dari meningkatnya kesadaran akan pentingnya kesehatan mental.
Kenapa Anak Muda Mulai Senang “Nggak Tahu”?
Ada beberapa alasan mengapa JOMO kini menjadi gaya hidup baru, khususnya di kalangan Gen Z:
Contoh Nyata Gaya Hidup JOMO
JOMO bukan sekadar konsep. Fenomena ini terlihat nyata dalam berbagai perilaku anak muda saat ini:
- Penggunaan ponsel jadul (dumbphone) untuk membatasi akses media sosial.
- Ramainya acara komunitas tanpa gadget atau “silent event”.
- Influencer besar yang mulai membatasi unggahan kehidupan pribadi.
- Tren unfollow akun secara massal demi ruang mental yang lebih sehat.
Para pakar menyebut bahwa tren JOMO membawa berbagai manfaat positif. Gaya hidup JOMO dapat meningkatkan konsentrasi, produktivitas, dan kualitas tidur karena minim distraksi digital. Ini juga membantu mengurangi kecemasan sosial dan membuat kita lebih menghargai momen nyata.
Namun, perlu diingat bahwa JOMO juga memiliki tantangan. Jika tidak dikendalikan, bisa berkembang menjadi sikap anti-sosial atau disengagement terhadap isu penting. Kuncinya adalah seimbang, tahu apa yang perlu dan memilih untuk melewatkan sisanya. (*)
Penulis: Aurellsya Jessica Putri Editya
Editor : Jauhar Yohanis