Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Self-Reward atau Self-Sabotage? Saat Apresiasi Diri Jadi Alibi Belanja Impulsif

Internship Radar Kediri • Sabtu, 14 Juni 2025 | 13:30 WIB
Ilustrasi tas belanjaan yang banyak
Ilustrasi tas belanjaan yang banyak

JP Radar Kediri - “Capek kerja? Kasih self-reward dong.” Kalimat itu belakangan jadi pembenaran paling populer untuk menambah barang di keranjang belanja atau check out di toko favorit.

Dari sepatu baru, skincare viral, hingga kopi kekinian, semua bisa masuk kategori ‘penghargaan atas kerja keras’. Tapi sebenarnya, ini beneran bentuk cinta diri? Atau cuma akal-akalan biar nggak ketinggalan tren?

Self-reward secara konsep memang positif. Ia jadi cara untuk mengapresiasi diri setelah melewati hari-hari melelahkan, mencapai target, atau bahkan sekadar bertahan dari minggu yang penuh tekanan.

Tapi, di era media sosial yang serba cepat dan serba pamer, batas antara self-reward dan dorongan impulsif akibat FOMO (Fear of Missing Out) jadi makin tipis.

Tak bisa dimungkiri, banyak orang saat ini merasa terdorong untuk membeli sesuatu bukan karena benar-benar butuh atau ingin, tapi karena takut ketinggalan. Lihat teman pakai tas baru, langsung merasa tas sendiri terlihat usang.

Lihat influencer minum di kafe estetik, jadi pengin juga—bukan karena butuh kopi, tapi demi ‘update story’. Dari sinilah self-reward bisa berubah fungsi: bukan lagi bentuk kasih sayang pada diri, melainkan pelarian dari tekanan sosial tak kasat mata.

Bahkan, seringkali self-reward dijadikan justifikasi atas gaya hidup yang sebenarnya tidak sejalan dengan kondisi keuangan. Ujung-ujungnya, malah stres sendiri saat lihat tagihan akhir bulan. Ironis, karena niat awalnya adalah menyenangkan diri, tapi berakhir jadi beban.

Padahal, self-reward tidak harus selalu berbentuk barang mahal atau aktivitas mewah. Bisa saja berupa waktu istirahat tanpa gangguan, nonton film favorit tanpa memikirkan tugas, atau tidur lebih awal demi tubuh yang lebih segar.

Intinya, penghargaan untuk diri tidak selalu harus dibayar dengan uang—tapi dengan perhatian dan kepedulian terhadap apa yang benar-benar dibutuhkan oleh diri kita sendiri.

Masalahnya, narasi self-reward yang beredar di media sosial sering kali bias. Yang terlihat adalah momen unboxing, jepretan makanan mahal, atau liburan dadakan.

Tapi yang tak terlihat adalah tekanan psikologis, rasa bersaing, bahkan utang tersembunyi yang muncul demi menjaga citra “self-care” versi dunia digital.

Self-reward seharusnya datang dari kesadaran, bukan dorongan. Karena jika terus mengikuti arus tren dan validasi luar, penghargaan pada diri pun kehilangan maknanya. Yang terjadi bukan pemulihan, tapi pengulangan—membeli untuk merasa cukup, tapi tetap kosong setelahnya.

Jadi, sebelum check out keranjang belanja itu, coba tanya ke diri sendiri: apakah ini benar-benar bentuk sayang ke diri, atau cuma takut ketinggalan tren yang sebenarnya tidak penting? Karena yang paling tahu apa yang kamu butuhkan, bukan algoritma, bukan teman di timeline, tapi kamu sendiri.

Penulis: Nabila Syifa'ul Fuada Lii Dzikrilla

Editor : Ilmidza Amalia Nadzira
#kerja keras #radar kediri #Setelah #self reward #apresiasi #belanja