JP Radar Kediri – Menurut psikolog klinis Dr. Rani Oktaviani, M.Psi., HTS banyak dipilih karena menawarkan kenyamanan tanpa tekanan. Namun, di balik hubungan yang tampak ringan ini, sering kali tersimpan kebingungan hingga potensi luka batin.
“HTS bisa jadi jalan tengah bagi mereka yang belum siap berkomitmen. Tapi sering kali, salah satu pihak mulai berharap lebih. Inilah yang menimbulkan masalah,” ujar Dr. Rani saat diwawancarai, Senin (26/5).
Dr. Rani menambahkan, ketidakjelasan dalam HTS bisa memicu overthinking, kecemasan, dan rasa tidak aman dalam hubungan.
Baca Juga: Kenapa Kita Sering Jatuh Cinta Sama yang Unavailable? Ini Penjelasan Psikologinya
Kenapa Gen Z Memilih HTS?
Fenomena HTS tumbuh seiring perubahan cara pandang Gen Z terhadap cinta dan komitmen. Beberapa alasan mereka memilih hubungan tanpa status, antara lain:
Menghindari Tekanan Sosial dan Labelisasi
Gen Z cenderung lebih selektif dalam membagikan kehidupan pribadi mereka di media sosial. Hubungan tanpa status dianggap lebih aman dan privat. Banyak anak muda lebih memilih fokus pada karier, pendidikan, atau pengembangan diri, sehingga hubungan formal dianggap sebagai beban tambahan.
Trauma dari Hubungan Sebelumnya
Pengalaman buruk di masa lalu membuat sebagian orang enggan kembali menjalin hubungan serius.
Meskipun terlihat sederhana, hubungan tanpa status dapat menimbulkan dampak psikologis, terutama ketika hubungan berakhir tanpa kepastian.
Baca Juga: 9 Tanda Cowok Humoris Jatuh Cinta, Perlakuannya Bisa Beda Banget dari Biasanya!
“Karena tidak ada kejelasan sejak awal, HTS sering kali berakhir tanpa penutupan yang sehat. Hal ini bisa mempersulit proses move on dan menyisakan trauma emosional,” jelas Dr. Rani.
Selain itu, HTS rentan menciptakan hubungan yang tidak seimbang. Salah satu pihak bisa merasa terikat, sementara yang lain tetap bersikap bebas karena tidak merasa punya tanggung jawab emosional.
HTS Tak Selalu Negatif
Meskipun HTS sering mendapat citra buruk, Dr. Rani menekankan bahwa tidak semua hubungan tanpa status berakhir buruk. Jika kedua pihak saling terbuka dan sepakat dengan batasan yang jelas, HTS masih bisa berjalan sehat.
“Komunikasi yang terbuka dan jujur adalah kunci. Jika tidak ada ekspektasi tersembunyi, hubungan tanpa status pun bisa menjadi fase eksplorasi yang aman,” katanya.
Tips Menjalani HTS dengan Sehat
Untuk menghindari dampak negatif dari hubungan tanpa status, para ahli menyarankan beberapa hal berikut:
- Tanyakan pada diri sendiri, apa yang kamu harapkan dari hubungan ini?
- Berani bicara soal kejelasan
- Jangan takut mendiskusikan batasan, komitmen, dan ekspektasi sejak awal.
- Waspadai tanda-tanda manipulasi
- Jika kamu merasa dipermainkan atau selalu menyesuaikan diri secara sepihak, bisa jadi hubungan tersebut tidak sehat.
HTS telah menjadi bagian dari dinamika hubungan modern, terutama di era Gen Z yang mengedepankan kebebasan dan fleksibilitas. Namun, penting untuk tetap menjaga kesehatan mental dan emosi dalam menjalani jenis hubungan apa pun.
Penulis: Aurellsya Jessica Putri Editya
Editor : Ilmidza Amalia Nadzira