JP Radar Kediri – Media sosial tengah digemparkan dengan kemunculan pria yang mengaku sebagai ayah kandung Natasha Wilona yang muncul ke publik usai 20 tahun berpisah.
Pria yang diketahui bernama Didi Setiadi itu mengungkapkan kerinduannya kepada putrinya sambil menangis.
"Abah menyadari kesalahan Abah. Mudah-mudahan anak-anak Abah bisa memaafkan," katanya.
Didi mengaku selama ini sudah berupaya menghubungi putrinya. Namun, upaya itu cukup susah lantaran ia tak punya akses dan tinggal di Bali.
Video yang diunggah YouTube Anak Rantau pada Selasa (25/11) itu sontak jadi perbincangan netizen.
Bukan simpati kepada pria tersebut, warganet justru bersimpati kepada Wilona dan ibunya karena harus berjuang untuk hidup setelah ditentarkan oleh ayahnya.
Pernyataan lawas Mantan kekasih Verrel Bramasta itu ketika podcast bersama Maia Estianty sempat menyinggung soal hubungan Wilona dan ayahnya beredar di media sosial.
Wilona mengaku tidak dekat dengan sosok ayahnya. Dia hanya dekat dengan kakek, nenek dan saudara ayahnya.
“Aku tahu dia. Jujur sebenarnya aku deket ke keluarga papa dari kakek, nenek dan om-om aku, cuma yah emang mereka tidak mempunyai hubungan lagi, jadi yang namanya anak ikut ajalah,” katanya dikutip podcast Maia Estianty.
Wilona mengatakan hanya sebatas menghargai dan menghormati Didi sebagai ayahnya. Namun, tidak ada kedekatan emosional di antara mereka.
Sejak ditinggal saat usianya 4 tahun, Wilona sangat jarang berkomunikasi dengan ayahnya.
Menurut Wilona, ayahnya lebih fokus dengan keluarga barunya. Untuk itu, dia sangat jarang bertegur sapa dengan ayahnya.
Diketahui, sejak kecil, Natasha Wilona hidup bersama ibunya, Theresia, yang membesarkannya seorang diri.
Kehidupan mereka yang penuh perjuangan kini berubah seiring kesuksesan Wilona sebagai salah satu artis terkenal di Indonesia.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah