JP Radar Kediri - Aksi peternak sapi perah di Indonesia, khususnya di Jawa Tengah dan Jawa Timur, yang membuang ratusan ton susu segar telah menarik perhatian publik.
Menurut laporan, peternak di daerah tersebut membuang sekitar 200 ton susu setiap hari sebagai bentuk protes terhadap pembatasan penyerapan susu oleh industri pengolahan susu (IPS).
Situasi ini menunjukkan masalah yang besar dalam induspeternakan Indonesia, yang memerlukan perhatian serius dari pemerintah dan pihak terkait.
Salah satu penyebab utama pembuangan susu adalah pembatasan kuota yang diterapkan oleh IPS.
Sejak September 2024, banyak peternak melaporkan penurunan drastis dalam jumlah susu yang dapat mereka kirim ke pabrik.
Sebagai contoh, di daerah Boyolali, produksi susu yang biasanya mencapai 23.000 liter per hari kini hanya diserap sekitar 15.000 liter.
Hal ini menyebabkan surplus yang harus dibuang karena susu segar memiliki masa simpan yang terbatas.
Selain pembatasan kuota, kondisi pasar juga berdampak terhadap masalah ini.
Penurunan permintaan dari konsumen dan adanya perbaikan mesin di pabrik-pabrik membuat industri tidak mampu menyerap semua pasokan susu.
Di samping itu, maraknya impor susu juga menjadi faktor penghambat bagi produk lokal.
Peternak merasa bahwa pemerintah kurang mengawasi dan mengatur impor susu, sehingga produk dalam negeri tidak mendapatkan perlindungan yang memadai.
Ketua Dewan Persusuan Nasional (DPN), Teguh Boediyana, menyatakan bahwa tidak adanya regulasi yang melindungi usaha peternak sapi perah rakyat merupakan akar masalah.
Ia meminta pemerintah untuk menerbitkan peraturan presiden yang dapat menggantikan Instruksi Presiden Nomor 2 Tahun 1985 yang telah dicabut.
Regulasi ini diharapkan dapat memberikan kepastian pasar bagi peternak.
Aksi buang susu ini bukan hanya sekadar protes, tetapi juga menunjukkan adanya kesulitan ekonomi yang dialami oleh para peternak.
Banyak dari mereka bergantung pada pendapatan dari penjualan susu untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Dengan terbuangnya ratusan ton susu, pendapatan mereka terancam hilang, dan hal ini dapat berujung pada dampak sosial yang lebih luas seperti kemiskinan dan ketidakstabilan ekonomi di daerah tersebut.
Pemerintah daerah telah menerima keluhan dari para peternak dan berjanji untuk menjembatani komunikasi antara peternak dan industri pengolahan susu.
Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Jateng telah melaporkan situasi ini kepada Kementerian Pertanian untuk mencari solusi.
Ada harapan bahwa dengan adanya dialog antara pihak-pihak terkait, masalah ini dapat diselesaikan dan penyerapan susu lokal dapat ditingkatkan.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah