JP Radar Kediri - Latiao adalah produk pangan olahan dari tepung dengan karakteristik tekstur kenyal serta cita rasa pedas.
Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI telah menarik dan memusnahkan produk pangan impor ini setelah kasus keracunan pangan yang luar biasa (KLBKP) dilaporkan di beberapa wilayah di Indonesia.
Dalam uji laboratorium yang dilakukan BPOM, Latiao terbukti terkontaminasi bakteri Bacillus cereus yang mungkin berasal dari proses produksi atau bahan yang digunakan.
Dilansir dari Cleveland Clinic, gejala keracunan akibat bakteri Bacillus cereus terbagi menjadi dua kategori yaitu gejala pencernaan dan gejala diluar pencernaan.
Gejala pencernaan itu seperti diare, nyeri perut, kram perut juga mual dan muntah.
Baca Juga: Nama Denny Caknan Muncul di Papan Iklan Pertandingan La Liga Barcelona vs Espanyol, kok Bisa?
Gejala diluar pencernaan, seperti kelelahan, nyeri pada mata, demam, tingginya kadar sel darah putih, penurunan penglihatan, mata merah, dan ulkus kornea yang berbentuk cincin.
Keracunan makanan dapat terjadi pada siapa saja. Namun, anak-anak, ibu hamil, dan orang lanjut usia menjadi yang paling rentan mengalami karena sistem kekebalan tubuh mereka umumnya lebih lemah.
Keracunan makanan merupakan masalah yang berkaitan dengan sistem pencernaan jika seseorang mengonsumsi makanan atau minuman yang tidak bersih.
Seperti makanan yang dijual di pinggir jalan, di mana kebersihan lokasi dan cara pengolahannya mungkin tidak terjamin.
Makanan dapat terkontaminasi oleh kuman, termasuk bakteri, virus, atau parasit dari lingkungan sekitarnya.
Baca Juga: Mengenang Jejak Karir Dina Mariana, Penyanyi Legendaris Era-70 an yang Meninggal Dunia
Jenis makanan yang konsumsi juga dapat menjadi penyebab keracunan jika tidak diolah dengan benar.
Beberapa jenis makanan yang rentan menyebabkan keracunan meliputi sayur atau buah mentah, susu mentah (non-pasteurisasi), daging mentah, dan makanan lainnya yang tidak dimasak dengan baik.
Latiao merupakan produk ultra-proses juga berisiko menimbulkan keracunan jika standar keamanan pangan dalam proses produksinya tidak terjaga.
Makanan ultra-proses ini umumnya telah melalui berbagai tahap pengolahan dan ditambahkan bahan-bahan seperti garam, gula, lemak, pengawet, dan zat lainnya.
Gejala Keracunan Makanan Parah yang Bisa Menyebabkan Dehidrasi
Keracunan makanan umumnya bisa sembuh dengan sendirinya dalam waktu 1 hingga 3 hari. Namun, proses penyembuhan ini sangat bergantung pada pertolongan pertama yang dilakukan.
Apabila mengalami gejala seperti diare dan muntah, langkah pertama yang harus diambil adalah meningkatkan asupan cairan.
Minum lebih banyak air putih atau larutan oralit untuk mengganti cairan yang hilang.
Larutan oralit yang siap pakai dapat dibeli di apotek tanpa perlu resep dokter.
Baca Juga: Sinopsis 'You Will Die In 6 Hours', Film Debut Jaehyun NCT Sebelum Wamil
Jika keracunan makanan telah menunjukkan satu atau lebih dari gejala berikut, sebaiknya segera mencari pertolongan medis:
Tidak bisa menahan muntah sehingga cairan terus keluar.
-Muntah atau tinja yang mengandung darah.
-Diare yang berlangsung lebih dari tiga hari.
-Nyeri perut yang sangat hebat atau kram parah.
-Suhu tubuh demam tinggi, mencapai 38° Celsius.
-Rasa haus yang berlebihan dan mulut kering.
-Frekuensi buang air kecil yang sangat sedikit atau bahkan tidak ada.
-Penglihatan kabur, otot terasa lemah, dan kesemutan di lengan.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah