Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Cuaca Panas di Kediri hingga 38,6 Derajat Celcius, Apa Penyebabnya?

Shinta Nurma Ababil • Selasa, 15 Oktober 2024 | 21:01 WIB
Photo
Photo

JP Radar Kediri - Akhir-akhir ini cuaca panas melanda beberapa wilayah di Indonesia. Salah satunya di Kediri.

Tak tanggung-tanggung, panas di Kota Tahu itu mencapai 38,6 derajat celcius. Tak heran jika cuaca di Kediri sangat panas dan menyengat.

Menurut Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), cuaca panas ekstrem ini disebabkan karena tutupan awan yang minim dan pergerakan semu matahari yang berada di atas wilayah Jawa Timur pada 10-14 Oktober 2024.

Kondisi ini juga disebabkan karena pembentukan awan dan berkurangnya curah hujan.

Selain itu, fenomena El Nino dan La Nino juga dimungkinkan menjadi penyebab cuaca panas tersebut.

Fenomena ini biasanya berkaitan dengan kondisi yang lebih lembap dan dapat memengaruhi pola cuaca di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia.

Fenomena ini akan menyebabkan curah hujan tinggi di beberapa daerah sekaligus mengakhiri cuaca panas

Panas yang meningkat dengan diperburuk oleh sedikitnya pertumbuhan awan, membuat cuaca terasa lebih menyengat dari biasanya.

Oleh karenanya, masyarakat diimbau untuk tetap menjaga kesehatan dengan banyak minum air putih untuk menghindari dehidrasi ketika kegiatan di luar ruangan.

BMKG juga memprediksi suhu panas di wilayah Jawa Timur akan berangsur menurun pada bulan November mendatang.

Nantinya musim hujan akan datang bertahap dan bervariasi antar wilayah. Musim hujan akan menyebar ke wilayah timur mencakup pulau Jawa, Bali dan Nusa Tenggara.

Adapun wilayah tersebut akan mengalami proses transisi hingga desember 2024.

Meski demikian, hujan periode ini sering kali bersifat lokal dan tidak merata, dengan intensitas yang bervariasi antara sedang hingga lebat dalam durasi singkat.

Selama peralihan musim ini, kondisi atmosfer cenderung menjadi labil dibanding musim kemarau.

Kondisi atmosfer yang tidak menentu ini meningkatkan potensi terbentuknya awan konvektif seperti Cumulonimbus (CB).

Awan-awan ini bisa memicu cuaca ekstrem, seperti petir, angin kencang, bahkan hujan es di wilayah dan pada kondisi tertentu.

Untuk itu, BMKG juga mengimbau masyarakat untuk waspada terhadap bencana hidrometeorologi seperti hujan lebat dan angin kencang dalam masa peralihan ini.

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.

Editor : Anwar Bahar Basalamah
#radar kediri #kediri #jawapos #cuaca panas