JP Radar Kediri – Tanggal 8 Oktober menjadi tanggal rutin diperingatinya Hari Disleksia Sedunia. Peringatan ini dimulai pada tahun 2002, yang digagas oleh Asosiasi Disleksia Eropa dan menyebarluas di seluruh penjuru dunia.
Tujuan utama dari peringatan ini tak lain untuk menyebarkan informasi tentang disleksia, menghapus stigma yang melekat pada penderita disleksia, serta memberikan pengetahuan kepada masyarakat tentang pentingnya inklusi dan dukungan dalam pendidikan bagi mereka yang mengalami gangguan ini.
Lalu apa itu disleksia?
Disleksia adalah gangguan belajar yang memengaruhi kemampuan seseorang dalam membaca, menulis, dan mengeja.
Orang dengan disleksia biasanya mengalami kesulitan menghubungkan huruf dengan suara, sehingga memengaruhi pemahaman terhadap kata-kata tertulis.
Meskipun disleksia bukanlah sebuah cacat mental, tetapi kondisi ini dapat menghambat perkembangan akademis jika tidak mendapatkan dukungan dan penanganan yang tepat.
Disleksia sendiri pertama kali diidentifikasi oleh dokter asal Jerman, Oswald Berkhan, pada tahun 1881. Berkhan menemukan gangguan dalam perkembangan kemampuan membaca saat memeriksa kasus seorang anak laki-laki yang kesulitan membaca dan menulis dengan benar.
Kasus ini menimbulkannya untuk menyadari bahwa gangguan ini bukanlah sesuatu yang langka. Bahkan, banyak orang dewasa juga mengalami disleksia.
Istilah "disleksia" sendiri diberikan oleh dokter spesialis mata Rudolph Berlin enam tahun setelah gangguan ini ditemukan. Nama ini dipilih untuk mengacu pada kesulitan dalam membaca yang dialami oleh para penderitanya.
Penyebab pasti disleksia masih belum sepenuhnya dipahami. Namun, beberapa faktor yang diyakini mulai dari genetik, struktur otak yang unik dalam memproses informasi visual dan fonetik, serta interaksi lingkungan yang dapat memengaruhi perkembangan kemampuan belajar anak.
Gejala disleksia sering kali muncul sejak usia dini. Seperti kesulitan berbicara, mengenali huruf, dan membaca kata-kata sederhana.
Anak-anak dengan disleksia mungkin mengalami kesulitan dalam membedakan huruf yang mirip atau mengingat urutan alfabet. Meskipun mereka memiliki kecerdasan yang normal atau bahkan di atas rata-rata, tantangan akademis ini dapat mengurangi kepercayaan diri mereka dan menyebabkan masalah sosial seperti bullying.
Dampak jangka panjang dari disleksia mencakup kesulitan beradaptasi di lingkungan akademis dan profesional. Anak-anak yang tidak mendapatkan penanganan yang tepat cenderung mengalami penurunan prestasi sekolah dan kesulitan dalam mendapatkan pekerjaan di masa dewasa.
Menurut data Dyslexia Center Indonesia (2019) diperkirakan prevalensi disleksia di Indonesia berada diangka 3-10% pada skala internasional. Hal tersebut tentu memerlukan perhatian khusus.
Adanya peringatan Hari Disleksia Sedunia inilah menjadi momentum yang tepat untuk mendorong perhatian khsuus tersebut.
Di era kemajuan teknologi yang semakin maju, Gen Z memiliki peran penting dalam meningkatkan kesadaran global tentang disleksia. Berikut beberapa alasan kenapa mereka harus ikut peringati hari ini:
1. Meningkatkan Kesadaran
Melalui kampanye dan edukasi, Gen Z dapat membantu meningkatkan kesadaran masyarakat tentang disleksia. Hal ini dapat menghapus stigma dan kesalahpahaman yang masih ada tentang kondisi ini.
2. Memberdayakan Penderita Disleksia
Dengan meningkatkan kesadaran, Gen Z dapat membantu memberdayakan penderita disleksia. Mereka dapat meminta dukungan dari teman-teman dan keluarga, serta mencari sumber daya yang relevan untuk membantu mereka dalam mengatasi disleksia.
3. Memajukan Inklusi Edukasional: Gen Z dapat berperan dalam mempromosikan inklusi edukatif. Mereka dapat mendukung program-program pendidikan yang inklusif dan ramah bagi semua jenis kemampuan belajar, termasuk penderita disleksia.
4. Menstimulasikan Penelitian Lanjutan: Melalui partisipasi dalam acara-acara peringatan, Gen Z dapat menstimulasikan penelitian lanjutan tentang disleksia. Pengetahuan yang lebih lengkap tentang kondisi ini dapat membantu dalam pengembangan strategi pengobatan dan cara penanganan yang lebih efektif.
Dengan terus meningkatkan kesadaran dan dukungan, kita dapat membantu penderita disleksia meraih potensi maksimal mereka.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah