JP Radar Kediri – Duka mendalam menyelimuti para jEmaah dan muhibbin (pecinta) KH Douglas Toha Yahya atau yang akrab disapa Gus Lik.
Pengasuh Pondok Pesantren Assyaidiyah Jamsaren Kediri itu telah berpulang pada hari Sabtu, 21 September 2024.
Kabar duka ini sempat diragukan oleh beberapa pihak, namun sayangnya, kali ini berita tersebut benar adanya.
Gus Lik, sosok ulama kharismatik yang dikenal dengan gaya hidup zuhud dan pesan-pesan penyejuk hati, tutup usia setelah menjalani perawatan di RS Bhayangkara Kediri.
Gus Lik adalah sosok ulama yang berbeda. Di tengah maraknya kehidupan serba mewah, termasuk di kalangan elit pesantren, Gus Lik memilih jalan sunyi yang sederhana.
Beliau dikenal dengan gaya hidup zuhud atau bisa dikatakan hidup bersahaja, jauh dari kemewahan dunia.
Bahkan dalam kesehariannya, Gus Lik tak pernah menuntut diantar jemput dengan kendaraan mewah untuk hadir di majelis-majelis pengajian yang diasuhnya, baik Pengajian Malam Jumat (PMJ) maupun Pengajian Malam Rabu (PMR).
Penampilannya pun sangat sederhana, yaitu dengan mengenakan sarung atau celana panjang dipadu dengan kemeja dan peci hitam.
Gus Lik tidak memerlukan atribut keislaman tertentu untuk membuktikan kesalehannya.
Hal ini yang membuatnya begitu dihormati oleh jemaahnya, bahkan oleh para ulama lain, seperti Gus Muwafiq yang menyebut Gus Lik sebagai "manusia istimewa" karena kesederhanaan yang tidak umum di zaman sekarang.
Gus Lik juga dikenal dengan salah satu amalan spiritualnya, yaitu membaca Surat Al-Fil yang mana ketika tiba pada ayat “tarmihim” dibaca sebanyak 11 kali.
Amalan ini diajarkan oleh KH Mahrus Ali Lirboyo dan dipercaya sebagai penolak bala serta pelindung diri.
Perlu diketahui bahwa mbah mahrus mendapat ijazah ini dari KH RomliTamim Jombang.
Selain memberikan amalan spiritual, Gus Lik kerap menyampaikan pesan-pesan yang relevan dengan kehidupan modern, salah satunya adalah kewaspadaan terhadap media, terutama televisi.
Dalam salah satu pengajiannya, Gus Lik memperingatkan jamaah agar berhati-hati dengan tayangan di televisi yang sering kali bertentangan dengan nilai-nilai Islam.
“Sampean sekarang hati-hati di TV-TV, banyak yang baca sejarah-sejarah yang bertentangan dengan kita. Jadi kita pedomannya harus tetap hanya untuk pengetahuan begitu saja. Hanya untuk pengetahuan, bukan untuk diyakini,” ungkap Gus Lik, dikutip dari kanal YouTube Kampoeng Aswaja.
Pengalaman pribadi Gus Lik saat menonton televisi menunjukkan banyaknya tayangan yang mengandung narasi yang tidak sesuai dengan ajaran Islam.
Beliau khawatir hal ini akan berdampak buruk, terutama jika dikonsumsi oleh anak-anak.
Oleh karena itu, beliau meminta para jemaahnya untuk bijak dalam menyaring informasi dan tetap berpegang pada ajaran yang benar.
KH Douglas Toha Yahya merupakan putra dari Kiai Said dan Nyai Maemunah Banjar Mlati, dengan silsilah keilmuan yang terhubung erat dengan para ulama besar di Kediri, seperti Kiai Sholeh Banjarmlati dan Kiai Abdul Karim, pendiri Pondok Pesantren Lirboyo.
Silsilah keilmuan yang kuat ini menjadi salah satu alasan mengapa Gus Lik begitu dihormati oleh berbagai kalangan.
Kepergian Gus Lik meninggalkan duka mendalam, tidak hanya bagi keluarga, tetapi juga bagi ribuan jamaah yang setia mendengarkan ceramah-ceramahnya.
Bagi mereka, Gus Lik bukan hanya seorang ulama, tetapi juga teladan dalam menjalani kehidupan yang sederhana dan bersahaja.
Ketua Umum MUI, KH Anwar Iskandar, yang juga merupakan kakak ipar Gus Lik, mengungkapkan bahwa Gus Lik memiliki “sirr” atau rahasia dari Allah yang tidak dimiliki oleh sembarang orang.
Di tengah kegelisahan para jemaah yang merasa kehilangan, banyak yang bertanya-tanya, siapa lagi ulama dengan kehidupan zuhud yang masih ada di wilayah eks Karesidenan Kediri ini.
Harapan besar tertanam di hati mereka, semoga akan ada penerus yang menjaga warisan kesederhanaan dan spiritualitas yang telah ditinggalkan oleh Gus Lik.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah