JP Radar Kediri – Istilah lavender marriage kini tengah menjadi obrolan hangat di media sosial.
Hal ini dikaitkan dengan hubungan rumah tangga Sherina Munaf dengan Baskara Mahendra yang dikabarkan retak.
Pasangan yang menikah tahun 2020 itu diketahui, sang istri, Sherina tak lagi memajang foto sang suami di laman media sosialnya.
Isu keretakan pernikahan itu membuat publik ramai membahas soal lavender marriage yang muncul di unggahan akun TikTok @mamahnyakale.
Lantas apa itu lavender marriage?
Baca Juga: Heboh Gamer Listy Chan Unggah Video Berhijab di Masjid, Resmi Masuk Islam?
Istilah ini pada dasarnya merujuk pada sebuah pernikahan yang dilakukan bukan atas dasar ketertarikan romantis, melainkan sebagai strategi untuk menutupi orientasi seksual salah satu atau kedua pihak yang terlibat.
Dalam hal ini, pernikahan dijadikan sebagai cara untuk melindungi individu dari diskriminasi masyarakat, konsekuensi hukum, reputasi sosial atau karir, hingga kesulitan akibat orientasi seksual mereka.
Pernikahan lavender menjadi semacam ‘topeng’ yang digunakan untuk memenuhi ekspektasi sosial dan menjaga citra publik.
Dalam situasi seperti ini, individu yang memiliki orientasi seksual berbeda dari norma yang berlaku akan merasa tertekan, untuk menyembunyikan identitas mereka demi menghindari stigma, atau bahkan ancaman terhadap karier dan kehidupan sosial mereka.
Baca Juga: Instagram Luncurkan Akun Remaja, Orang Tua Kini Dapat Pilih Konten yang Aman
Lavender marriage sendiri sering kali muncul dalam konteks masyarakat yang belum sepenuhnya menerima keberagaman orientasi seksual.
Dengan kata lain, lavender marriage adalah pernikahan yang biasanya dibangun untuk menutupi orientasi seksual seseorang yang sebenarnya.
Istilah ini pertama kali muncul pada awal abad ke-20 di Amerika Serikat. Lavender marriage kala itu umumnya merujuk pada pernikahan antara individu LGBTQ+ dengan pasangan heteroseksual, untuk menutupi identitas seksual mereka dari tekanan sosial atau politik.
Lavender marriage ini menjadi fenomena yang cukup umum di kalangan selebriti Hollywood pada era 1920-an hingga 1950-an.
Di mana kala itu homoseksualitas masih dianggap tabu dan bisa menghancurkan karier seseorang.
Dengan demikian, para aktor dan aktris terutama yang memiliki status tinggi dalam masyarakat, sering kali memilih untuk menikah dengan lawan jenis untuk menjaga citra publik mereka.
Fenomena lavender marriage bukan hanya terjadi di kalangan selebriti, tetapi juga di masyarakat luas, terutama pada masa-masa ketika norma sosial dan hukum tidak mengizinkan hubungan sesama jenis.
Meskipun istilah lavender marriage berhubungan dengan masa silam, konsep ini masih relevan di beberapa tempat hingga saat ini, terutama di negara-negara atau komunitas yang belum menerima orientasi seksual non-heteroseksual secara terbuka.
Seiring dengan perkembangan waktu, lavender marriage juga sering kali menjadi sorotan dalam media dan budaya populer.
Terlihat dari beberapa novel, film dan serial televisi telah mengeksplorasi tema ini. Dengan memberikan gambaran tentang dilema personal yang dihadapi oleh individu yang harus menyembunyikan orientasi seksual mereka demi tuntutan sosial.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah