KEDIRI, JP Radar Kediri- Kasus monkeypox atau lebih dikenal sebagai cacar monyet belum ditemukan di Kota Kediri. Meski nihil, dinas kesehatan tidak ingin lengah. Mereka melakukan berbagai upaya untuk mengantisipasi penularan penyakit yang disebabkan virus monkeypox.
Yang kini mulai digencarkan adalah melakukan deteksi dini. Hal itu dilakukan di fasilitas kesehatan. Sasaran utamanya adalah puskesmas. Kepala Dinas Kesehatan Kota Kediri Muhammad Fajri Mubasysyir melalui Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Hendik Suprianto mengatakan, penyakit ini berasal dari luar negeri.
Saat ini temuannya banyak di pintu-pintu masuk Indonesia seperti bandara internasional dan pelabuhan. “Kami tetap harus waspada untuk deteksi dini bila ada kasus baru,” akunya.
Sebelumnya, ada temuan kasus cacar monyet di Indonesia. Jumlahnya ada 88 kasus. Temuan itu paling banyak terjadi pada 2023 lalu. “Jika ada indikasi atau dugaan kasus monkeyfox, dari puskesmas pasti akan turun untuk tracing,” sambungnya.
Baca Juga: Gaya Hidup Tidak Sehat Seperti Ini Bisa Sebabkan Serangan Darah Tinggi
Lebih jauh Hendik menyampaikan, gejala cacar monyet relatif tidak banyak berbeda dengan cacar air pada umumnya. Biasanya diawali dengan demam, meriang, batuk, dan pusing. Hingga kemudian muncul ruam kemerahan di kulit.
“Yang beda, ada pembesaran kelenjar getah bening di leher,” paparnya terkait penyakit yang banyak ditemui Afrika itu.
Adapun virus tersebut memang banyak bermutasi. Mulai dari hanya menyebar antarhewan, dari hewan ke manusia, hingga kini bisa ditularkan dari manusia ke sesama manusia.
“Virus ini akan semakin berbahaya untuk yang punya komorbid. Seperti HIV-AIDS. Karena pasti imunnya lebih rendah,” bebernya.
Dalam perkembangannya, virus ini tidak hanya ditularkan dari hewan jenis primata saja. Melainkan juga dari hewan pengerat seperti tikus dan tupai.
Dengan begitu, penyakit zoonosis ini juga tidak hanya bisa ditularkan melalui hewan yang terpapar virus. Melainkan juga lewat kontak langsung dengan manusia pengidap cacar monyet. Salah satunya, melalui kontak luka maupun cairan tubuh.
“Dari 88 kasus di Indonesia itu, penularan paling banyak dari hubungan seksual. Ada 90 persen dari LSL (laki suka laki, Red),” paparnya sembari menyebut, imbauan dan edukasi mulai digencarkan sebagai langkah pencegahan.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah