Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Inilah Kisah Para GenZ yang Mau Bersusah-susah Mengajar di Daerah Terluar dan Tertinggal

Ayu Ismawati • Kamis, 2 Mei 2024 | 19:01 WIB

Photo
Photo

JP Radar Kediri - Usia mereka rata-rata masih muda. Mayoritas golongan generasi Z, yang lahir setelah milenium kedua. Namun mereka menepis tudingan bahwa generasi mereka terlalu asyik dengan internet. Karena para anak-anak muda ini justru menunjukkan semangat besar ingin membawa perubahan bagi wajah pendidikan di daerah.


Caranya? Lewat wadah komunitas bernama Senyum Anak Nusantara (SAN) Kediri. Dan, seperti namanya, para pemuda ini bertekad membawa senyum bagi anak-anak yang tidak mendapat akses pendidikan secara penuh.


"Fokus utama kami adalah mendidik, menginspirasi, dan memotivasi anak-anak di daerah terpencil," ucap Afrida Aryana Azahro, salah seorang relawan SAN Kediri 2024. Dengan semringah dia menceritakan langkah kelompoknya menyebarkan ilmu kepada anak-anak kurang beruntung. Mulai dari anak-anak di panti asuhan hingga pelajar yang berada di sekolah dasar terluar dan terpencil.

Baca Juga: Jerome Polin Menjadi Sorotan Netizen usai Kekalahan Timmas Indonesia vs Uzbekistan di Piala Asia U-23 2024, Ternyata Ini Penyebabnya


Perempuan yang sebentar lagi menamatkan pendidikan di Kampus Universitas Negeri Malang (UM) itu mengatakan, hak memperoleh pendidikan belum sepenuhnya didapatkan semua anak-anak di Indonesia. Tak terkecuali di Kediri. Ketimpangan di dunia pendidikanlah yang membuat para anak muda ini rela menyumbangkan waktu, tenaga, dan materi untuk mengajar.


“Terutama di daerah pinggiran atau perbatasan ya, yang masih kurang. Baik dari sisi sumber daya manusia atau dari fasilitasnya,” sambungnya.


Afrida mencontohkan, masih ada sekolah di Kediri yang memprihatinkan. Akses menuju sekolah sulit dilalui. Harus melintasi hutan dan jalan rusak terlebih dahulu. Kondisi itu membuat semangat siswa ke sekolah pun kian mengecil.

Baca Juga: Puisi-puisi Karya Penyair Joko Pinurbo Yang Paling Populer


“Seperti di SD Simbarlor di Plosoklaten. Di sana bahkan siswanya hanya 11 anak. Itupun hanya ke sekolah kalau mood aja,” sebutnya. Akses yang sulit itu juga yang menurutnya kerap menjadi kendala.


Karena berbasis sukarela, anggota komunitas ini pun dari berbagai daerah di Kediri. Namun begitu, jarak yang jauh dan akses yang sulit tak menyurutkan semangat mereka.


“Istilahnya saking akses jalan yang masih sulit, kami berangkat pakai celana warna hitam, pulang-pulang jadi abu-abu. Dan pernah juga sampai naik gunung waktu di Kecamatan Mojo,” sambung Dwi Puspita Sari, relawan lainnya, menimpali.

Baca Juga: Jangan Langsung Dimarahi, Ini 8 Tips Mengatasi Anak yang Tantrum dengan Tepat
Bagi mereka, melihat senyum anak-anak sudah seperti obat segala lelah. Interaksi dengan anak-anak itu pun mereka bangun dengan cara yang menyenangkan. Tentunya, dengan tetap memberikan edukasi namun dengan cara yang sesuai usia anak-anak.


“Saya sendiri dasarnya suka anak-anak dan ingin mengajak mereka maju bersama, semangat lagi. Kalaupun capek, rasa capeknya itu hilang ketika melihat anak-anak senang,” lanjut Hety Rachmawati, koordinator SAN Kediri 2024.


Meski begitu, kerap kali mereka dihadapkan dengan situasi sulit. Maklum, karena berhadapan dengan anak-anak, tentu ada satu-dua yang bandel dan sulit diajak berkomunikasi.


“Terkadang ada yang tiba-tiba nangis sendiri karena berantem sama temannya. Pusing sih, kalau sudah seperti itu. Tapi kuncinya memang di kita yang harus full energy menghadapi anak-anak,” ujar perempuan asal Kecamatan Pesantren, Kota Kediri itu.Sebagai komunitas relawan, tentu tak mudah bagi mereka mempertahankan eksistensi dan konsisten di jalan kemanusiaan. Kendala utama mereka ada pada sumber daya manusia dan finansial. Pembiayaan operasional komunitas sepenuhnya disokong dari sumbangan anggota. Atau, terkadang dari sponsor jika ada.

Baca Juga: Rekomendasi 5 Permainan yang Dapat Mengasah Motorik Anak


Padahal, pembiayaan paling besar juga kegiatan bersama anak-anak. Seperti untuk hadiah ketika diadakan games, pembiayaan modul pembelajaran seperti bahan-bahan eksperimen sains, hingga untuk donasi bagi lembaga sekolah terpencil.


Agar pembelajaran tetap menyenangkan, ilmu pengetahuan sengaja disampaikan dengan cara yang asyik dan kreatif. Seperti contoh, membuat eksperimen sains yang menggambarkan aktivitas vulkanik gunung berapi. Atau, memotivasi anak untuk bijak dengan keuangan pribadi melalui penjelasan sederhana.


“Salah satunya lewat menabung. Setelah itu anak-anak kita ajak untuk membuat celengan dari botol plastik. Yang itu nantinya juga bisa dipakai anak untuk menabung,” urai gadis kelahiran 2004 itu. (fud)

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.

Editor : Anwar Bahar Basalamah
#radar kediri #komunitas #pengetahuan #genz #pembelajaran #jawa pos