Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Warung dan Pemancingan di Desa Dayu, Purwoasri, Kabupaten Kediri Disulap Jadi Spot Wisata, Kok Bisa?

Habibaham Anisa Muktiara • Jumat, 23 Agustus 2024 | 17:48 WIB
POTENSI: Warung dan pemancingan di Desa Dayu, Purwoasri, Kabupaten Kediri disulap menjadi spot wisata.
POTENSI: Warung dan pemancingan di Desa Dayu, Purwoasri, Kabupaten Kediri disulap menjadi spot wisata.

KEDIRI, JP Radar Kediri- Memasuki warung Sedulur Papat suasananya terasa beda. Rimbun pepohonan seakan menjadi payung raksasa.

Terlebih konsep warung sengaja dibiarkan alami. Hiasan dan ornamen lawas mendukung kesan tenang di sana.

Warung yang dikelola Amir Hamzah ini sudah berdiri empat tahun. “Di sini tanahnya tidak produktif. Akhirnya dimanfaatkan jadi kolam pemancingan,” ungkap Amir kepada koran ini.

Usaha tersebut telah membuahkan hasil positif. Tanah yang dulunya tidak produktif disulap jadi tempat nongkrong yang sejuk.

Tak hanya kolam. Ada berbagai panganan dan kopi untuk para pelanggan. Potensi ini tak disia-siakan Pemdes Dayu.

Rencananya, pemdes akan membangun jalan di sana menjadi lebih baik. Mereka berencana menjalin kerja sama dengan pemilik warung. Pemdes berniat menjadikan warung tersebut sebagai ikon dan daya tarik desa.

Beberapa konsep telah dipikirkannya. Di antaranya menanami bunga di sekitar jalan. Nantinya sekitar warung dapat dilalui kereta kelinci.

Lokasinya sangat potensial. Meski agak jauh dari jalan utama. Ramai mulai sore hingga malam. “Banyak pemuda yang ngopi dan mancing disini,” imbuhnya.

Menjadikan warung ini sebagai tempat wisata didasari beberapa faktor. Salah satunya, pemdes sadar desanya jauh dari wahana hiburan dan rekreasi.

Amir menilai, akan banyak nilai positif yang akan didapatkan oleh desa. Mulai dari terserapnya tenaga kerja hingga potensi pendapatan desa.

Oleh karena itulah Amir yakin bahwa rencana tersebut akan lebih banyak mendatangkan manfaat. Meskipun begitu, banyak tantangan yang harus dihadapi untuk merealisasikannya.

Seperti perlunya penataan dan arahan pada warga desa. “Harus ditata dengan matang terlebih dahulu,” pungkasnya.

Konsisten Geluti Sepatu dengan Harga Terjangkau

 Di Desa Dayu ada sebuah industri rumahan pembuatan sepatu. Produk tersebut dijual dengan harga yang terjangkau. Namun begitu model yang dikembangkan memiliki banyak varian.

“Kita sudah punya nama sendiri, Shine,” cerita Siti Mutiah, pemilik produksi sepatu asal Desa Dayu.

Siti menjelaskan bahwa usahanya dirintis bersama Nurdin, suaminya. Usaha produksi sepatu itu digeluti sejak 2012 silam. “Suami saya yang punya ide, sampai-sampai dia keluar dari pekerjaannya,” kenangnya.

Usaha tersebut berawal ketika mereka mengunjungi sentra pembuatan sepatu asal Mojokerto. Hal tersebut membuat suaminya nekat mengajak tiga orang untuk mengajarinya. Siti dan suaminya pun sepakat untuk melatih tetangganya untuk memproduksi sepatu.

Selama satu tahun, pekerjanya mulai lihai untuk membuat sendiri. Hingga akhirnya mereka memutuskan untuk membuka bisnis sendiri.

Namun tetap menggandeng tetangga di desanya. Dalam sehari mereka bisa membuat 60 pasang sepatu.

“Saat ini sales datang ke rumah dan bawa barangnya,” terang Siti. Produksinya masih menyebar di kawasan Jawa Timur. Baru-baru ini mulai merambah ke Kalimantan.

Kepala Desa Dayu Sarjono sejauh ini terus mendorong upaya Siti dan Nurdin untuk terus berkarya. “Salah satunya yang kita lakukan adalah ikutkan pameran-pameran,” katanya.

 

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.

Editor : Anwar Bahar Basalamah
#warung #radar kediri #pemancingan #radar #purwoasri #kediri #wisata #desa #desa dayu #jawa pos