Kawasan waduknya memang masih banyak dikunjungi. Warung-warung kopi yang berada di pinggir waduk turut ikut menyumbang kunjungan. Kebanyakan mereka ngopi di kursi-kursi panjang yang disediakan oleh pemilik warung.
Suasana yang teduh dengan pemandangan waduk lah yang menarik minat mereka. Sekedar minum kopi sembari berbincang dengan pengunjung lainnya sudah cukup ‘mewah’ bagi mereka. “Hampir tiap hari ke sini,” ujar Puji, salah satu pengunjung.
Pria berusia 40 tahun itu mengungkapkan, kegiatan di kawasan itu tak jauh dari mancing dan ngopi. Tak ada yang beraktivitas secara langsung di kawasan sumber. Termasuk berenang. Setidaknya itu yang menurutnya sudah sangat jarang ditemui di sana.
“Di sumbernya sana sebenarnya airnya jernih. Tapi yang kotor nggak ada yang ngurus,” tuturnya.
Sumber Ngreco yang berada di timur waduk memang hingga kini masih terus mengalir. Airnya jernih dengan tiga titik mata air utama. Ketiganya bermuara pada waduk hingga akhirnya mengalir menuju ke saluran-saluran irigasi di Desa Rembang.
Meski begitu, sekitar 10 tahun yang lalu, sumber ini pernah mengering. Kemarau panjang lah yang menyebabkan pengurangan air secara drastis di sana. Bahkan, hingga seluruh area waduk ikut mengering karena tak mendapat cukup kiriman air dari sumber.
Kini, airnya memang masih melimpah. Namun, di kawasan sumber, hampir seluruh permukaan airnya dipenuhi sampah-sampah organik. Yakni, dari daun-daun kering yang berjatuhan serta rontokan bungan dari pohon jambu berukuran besar. Itu berada tepat di atas kawasan sumber. Akibatnya, hampir tidak mungkin mata air itu dapat digunakan untuk mandi pengunjung.
“Terkadang di sumber ada yang bersih-bersih. Tapi ya sukarela. Jadi nggak tiap hari,” tandas Puji.
Di timur kawasan mata air, terdapat sebuah bangunan gazebo yang dibangun secara permanen. Kawasannya pun cukup luas sebagai pintu masuk sebelum menuju ke sumber. Hanya saja, tak ada perawatan berarti di sana. Sampah daun-daunan kering berserakan di mana-mana. Memberi kesan singlu pada mata air yang berada di samping pemakaman umum tersebut.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah