Pare memang lebih siap dibandingkan Ngasem sebagai ibu kota kabupaten. Sudah dipersiapkan sejak 1970. Tapi, Ngasem unggul karena lebih strategis.
Mulai masjid agung, alun-alun, fasilitas kesehatan, pendidikan, hingga tata kota dan pemerintahan sudah tertata di Kecamatan Pare. Sedangkan di Ngasem, perlu persiapan lagi, di beberapa titik. Seperti keberadaan masjid dan alun-alun yang belum ada.
Yang sudah dimiliki Ngasem, dan ini bisa jadi keunggulan, adalah kantor pemerintahan. Juga sudah ada fasilitas kesehatan berupa RSUD SLG. Yang lokasinya dengan dengan Monumen SLG. Beberapa sekolah juga telah berdiri di dekat kantor pemerintah.
“Untuk ruang terbuka hijau, seperti alun-alun, SLG bisa dijadikan embrionya,” ujar Kepala Bappeda Kabupaten Kediri Saleh Udin.
Mengutip pernyataan Bupati Kediri Hanindhito Himawan Pramana saat membuka diskusi Menimbang Ibu Kota Kabupaten Kediri, sejak 1970, di Kecamatan Pare telah disiapkan sebagai ibu kota. Pembangunan-pembangunan juga sudah dilakukan.
Makanya, apabila melihat kondisi Kecamatan Pare saat ini, bisa dibilang kota di dalam kabupaten. Bahkan banyak yang mengira Pare adalah ibu kota kabupaten. Meskipun secara de jure, hingga kemarin belum ada penetapan lokasi ibu kota.
Pejabat yang biasa disapa Udin ini menghitung, mulai dari rumah sakit pemkab, pendidikan, stadion, alun-alun, dan masjid agung semua berdekatan di Pare. Letak juga strategis. Namun, wilayah ini punya kelemahan yang mendasar.
“Pare hanya bisa optimal melayani di daerah-daerah sekitarnya seperti Badas, Plemahan, Puncu, Kandangan, dan Kepung,” ujar lelaki berkacamata itu.
Ia mengatakan bahwa Pare bisa dikembangkan. Pare bisa menjadi kota administratif di dalam kabupaten. Jika dikembangkan lagi, bisa menjadi kota sendiri. “Melihat seperti Batu, sudah menjadi kota tersendiri,” imbuhnya.
Namun, dilihat dari hasil pembicaraan dan diskusi serta penelitian, tempat paling pas untuk menjalankan pemerintahan tetap ada di Ngasem. Karena sesuai dengan Permendagri 30/2012 bahwa ibu kota Kabupaten harus berada di tempat di mana Bupati menjalankan pemerintahan.
Dilihat dari tempat dan lokasi, Udin mengatakan bahwa kantor dinas, kantor pemkab, juga berada di Kecamatan Ngasem. Ini yang menjadi bahan pertimbangan. Terlebih akan ada pembangunan bandara di Kecamatan Grogol, Banyakan, dan Tarokan. Lokasi strategis dan lebih dekat dengan lokasi bandara dan tol itu dimiliki Ngasem.
Sementara itu pemerhati budaya, termasuk Novi Bahrul Munib dan Imam Mubarrok, juga berpendapat bahwa dari diskursus pemilihan lokasi, dengan menentukan kondisi geografis dan juga sejarah tidak ada perdebatan lebih lanjut lagi. “Sudah 1218 tahun, anehnya kita belum ada ibu kota kabupaten. Upaya untuk mendukung mencarinya lokasi dan nama ini lah yang terus kami dukung,” ujar Novi.
Saat ini, ruang terbuka hijau, atau lokasi seperti alun-alun memang terletak di Kota Kediri dan di Pare. Apakah Pemkab Kediri akan membangun alun-alun baru, atau tetap mempertahankan SLG sebagai embrio alun-alun untuk kedepannya? Ini yang perlu dirumuskan.(syi/fud)
Editor : adi nugroho