Ingin Sembuh agar Bisa Berjualan Lagi
Beban hidup Umi Kulsum seolah bertumpuk. Di usia senjanya, perempuan yang semula menjadi tulang punggung keluarga ini tidak bisa lagi bekerja karena menderita glaukoma bola mata.
REKIAN, Kabupaten. JP Radar Kediri
Tinggal di lapak Pujasera, Pare selama puluhan tahun, Umi Kulsum harus menyerah pada penyakitnya. Menempati lapak berukuran 3x3 meter yang dindingnya terbuat dari papan dan seng, perempuan berusia 65 tahun itu terlihat tak berdaya.
Ditemui koran ini sekitar pukul 13.00, Selasa (29/6) lalu, Umi Kulsum dan Zainal Arifin, 45, suaminya, tengah duduk lesehan di rumah sekaligus lapak itu. Umi menghadap ke timur, dan Zainal di belakangnya.
Meski tak berhadap-hadapan, pasangan suami istri yang menempati kamar sekaligus ruang tamu dan dapur itu terlihat ngobrol gayeng. “Setiap hari begini,” ujar Umi dengan mata tertutup.
Sekitar satu jam berbincang, perempuan berambut pendek itu terus menutup matanya. Rupanya, glaukoma bola mata yang dideritanya membuat Umi tidak kuat terpapar matahari. Karenanya, dia memilih menutup matanya.
Kondisi tersebut dialami sejak enam tahun lalu. Kecelakaan di dapur yang dialaminya saat itu jadi pemicunya. “Kening saya membentur tiang dapur,” urainya.
Akibat kejadian itu, keningnya bocor dan mengeluarkan banyak darah. Merasa hanya menderita sakit yang ringan, dia hanya berobat ke puskesmas. Rupanya, setahun setelah itu dia mulai sering mengeluh sakit di bagian kepala.
Selain pusing, ia merasakan perih di bagian mata. Umi pun sempat memeriksakan matanya ke poli mata di Desa Bendo, Pare. Setelah menjalani pengobatan, sakit yang dideritanya tak berkurang.
Dua bola matanya semakin terasa sakit saat terpapar sinar matahari.
“Rasanya cenut-cenut,” paparnya. Jika awalnya pandangannya hanya terasa redup, sekarang dia tidak bisa lagi melihat.
Sejak Umi terkena penyakit yang menyerang indera penglihatannya itu, praktis tidak ada aktivitas berarti yang dilakoni pasangan suami istri ini. Pasalnya, Zainal yang usianya relatif lebih muda juga tidak dalam kondisi sehat. Dia sudah lebih dulu terkena penyakit saraf.
Karenanya, mengobrol adalah salah satu aktivitas mengasyikan yang masih bisa mereka nikmati. Rutinitas itu dilakoninya sejak beberapa tahun lalu. “Sebelumnya saya berjualan di sini,” tuturnya.
Berbagai jenis ban bekas dan barang bekas pakai, menjadi dagangan perempuan yang Selasa lalu memakai daster itu. Tetapi, dia langsung berhenti berjualan setelah sakit.
Zainal juga tidak bisa banyak membantu istrinya. Sebab, setelah didera penyakit saraf dia sempat tidak bisa berjalan. Selama sekitar dua bulan dia lumpuh. Sampai saat ini, kondisinya belum bisa pulih sepenuhnya.
Meski sepintas terlihat seperti orang sehat, kondisi fisik yang sesungguhnya akan terlihat saat dia berjalan. “Sekarang masih belajar
untuk jalan,” sambung Zainal pelan.
Lelaki asli Perak, Kabupaten Jombang ini kerap mengeluh sakit di bagian kepala. Jika sedang kumat, dia hanya bisa berbaring di kasur spons yang ditutup dengan sprei motif bunga berwarna merah jambu.
Jika sudah demikian, Umi yang kesulitan melihat itu yang harus merawatnya. Dalam kondisi penglihatan yang terbatas, hal itu tentu saja bukan hal mudah.
Tak hanya harus merawat suaminya, Umi juga masih harus melakukan aktivitas sehari-hari. Seperti mencuci piring dan pakaian. Selebihnya, untuk makanan mereka sering mendapat bantuan dari tetangga dan saudaranya.
Sekitar lima tahun hidup dalam keterbatasan, Umi berharap bisa segera sembuh dari glaukoma yang dideritanya. “Biar saya bisa berjualan lagi dan tidak merepotkan tetangga,” harapnya. (ut)
Editor : adi nugroho